Sisa-sisa Review film “Call Me by Your Name” – Part 2

Sebelumnya, sekali lagi aku ingetin, bagi yang anti-LGBT garis keras, mending close tab aja daripada bacanya sambil misuh-misuh XD

Ngomongin soal Call Me by Your Name-nya belum selese. Keterkesanan ini masih berlanjut. Ahahaha…

 

Setelah di postingan sebelumnya aku bahas jalan cerita CMBYN, kali ini aku mau bahas soal soundtrack film, latar tempat, dan beberapa simbol di film itu yang membawa pengetahuan baru buat aku yang wawasannya sempit banget ini.

Sebelumnya, kita udah tau ya, novel yang ditulis Andre Aciman tahun 2007 itu latar waktunya di tahun 1983. Di tahun segitu, hubungan sesama jenis di Itali udah bukan hal tabu lagi, karena di Itali hubungan sesama jenis itu statusnya udah legal sejak tahun 1890. Kaum transgender yang menjadi bagian dari singkatan LGBT mulai legal di tahun 1982. Kaum homoseksual juga boleh masuk militer, dan di Itali ada badan yang melindungi kaum LGBT dari tindak diskriminasi. (CMIIW, itu kata Wiki dengan berbagai sumber). Sementara itu, di tahun 1980-an, di Amerika malah muncul gerakan anti-gay, karena pada masa itu, munculnya virus HIV disebut-sebut sebagai hasil dari hubungan sesama jenis. Kalau fakta sejarah itu dicocoklogikan sama cerita fiksi ini, mungkin hal ini lah yang menjadi salah satu alasan Oliver kenapa waktu itu dia memutuskan buat melanjutkan hidup dengan menikah sama perempuan. Di tahun segitu budaya di Itali sama Amerika soal homoseksual sangat bertolak belakang.

Kejadulan di film ini emang berasa banget, mulai dari tempat sampe busana, terus propertinya juga. Di film ini aku gak nemu handphone, ada juga telpon rumah jadul, pemutar musik yang biasa dipakai Elio masih pakai kaset, belum lagi TV sama radio kunonya, terus sepeda kuno, mobil-mobil kuno, dan di jalanan tuh hampir gak ada motor, sekalinya nyliwer cuma vespa. Busananya juga jadul, katanya waktu jaman 80-an sih masih ngehits gaya celana pendek sama kemeja dengan kancing terbuka.

Hal unik lainnya di film adalah lalat dan peach. Seperti yang udah aku tulis sebelumnya, keberadaan lalat di beberapa scene ini menimbulkan pertanyaan. Maksudnya apa coba?

Nah, ternyata… lalat di film ini dipakai sebagai simbol. Simbol kesementaraan. Faktanya, lalat kalau didiemin di dalem rumah cuma bisa hidup selama kurang lebih 30 hari. Sangat sementara ya! Seperti kedekatan Elio dan Oliver yang gak berlangsung lama. Cuma beberapa minggu, tapi gak akan pernah terlupakan seumur hidup.

Simbol lainnya adalah buah peach, yang menjadi ‘ikon’ di film ini. Aku kira tadinya buah ini ada sangkut pautnya sama kepercayaan Yahudi (Oliver dan keluarga Elio adalah orang Yahudi), tapi ternyata enggak ada hubungannya. Berdasarkan hasil pencarian (niat bet sampe nyari. Wkwkwk…), buah peach mengandung arti kepolosan, kebijaksanaan, dan cinta. Kalau di Yunani, peach menjadi simbol pernikahan yang bahagia. Sedangkan menurut Wiki, para pelukis kuno di Eropa sering melukis peach atau menyertakan peach ke dalam lukisannya, yang melambangkan kejujuran hati. Jadi kenapa Andre Aciman sang penulis novel CMBYN memasukkan buah peach ke dalam cerita? Apakah karena buah peach itu bentuknya kayak vantat? *gak nyambung*

call_me_by_your_name__movie_poster_by_alexcalder-dbu8haa

Sekarang ngomongin soundtracknya. Haha… Percaya gak, setelah kepincut sama Timmy dan sebelum download film-nya, aku nyoba download album soundtrack-nya dulu. Kalau lagu-lagunya kece aku baru download filmnya XD

Emmm… ya namanya juga film dengan settingan jadul ya, otomatis soundtrack-nya juga pakai lagu-lagu lawas. Lagu-lagu berbahasa Itali di album ini gak cukup menarik buat aku dengerin (mungkin kalau aku hidup di jaman 80-an aku bisa suka), soalnya musiknya jadul bet. Kalau musik intrumentalnya sih kece, itu yang mainin pianis dari Jepang, Ryuichi Sakamoto. Satu musisi paling menarik perhatianku di album ini adalah… Sufjan Stevens. Lagu-lagu lainnya di album ini lebih ke klasik, tapi 3 lagu ori yang dibawain Sufjan Sevens ini berbau nge-folk. You know I love folk music.

 

Mystery of Love jadi lagu andalan Sufjan Stevens di soundtrack CMBYN, lagu ini dapet nominasi sebagai soundtrack terbaik di penghargaan Oscar. Dari semua soundtrack di CMBYN, lagu ini emang paling berkesan sih. Mystery of Love ini diputer di bagian Elio sama Oliver melakukan jelajah alam sebelum Oliver pulang ke Amerika. Musiknya nge-folk, ada nuansa alamnya pula, cocok banget sama scene itu.

Di lagu ini ada bagian lirik “Like Hephaestion who died. Alexander’s lover” yang mengingatkan aku tentang hubungan salah satu tokoh dalam sejarah dunia, Alexander The Great atau Alexander Agung dengan sahabatnya, Hephaestion. Dulu aku sempet nemu tulisan yang bilang kalau Alexander the Great itu penyuka sesama jenis, tapi ada juga yang bilang kalau doi itu biseksual.

 

Selain Mystery of Love, lagu Sufjan Stevens berjudul Futile Devices juga enak buat dinikmatin. Lagu ini diputer waktu Oliver jaga jarak sama Elio. Oliver sendiri juga gak tau kenapa dia sempat jaga jarak begitu.

Lagu Sufjan Stevens yang jadi backsong di bagian ending film, berjudul Visions of Gideon juga cukup bikin aku penasaran. Who’s Gideon?

Dalam Alkitab dikisahkan bahwa Gideon adalah seorang pemuda Yahudi yang mendapat petunjuk dari Tuhan untuk berperang melawan bangsa Midian. Suatu ketika, malaikat Tuhan mendatangi Gideon dan mengatakan bahwa Tuhan menyertai Gideon, jadi Gideon gak perlu takut. Cuman, Gideon ini ragu-ragu sama apa yang dia alami (didatangi malaikat). Dia terus meminta jawaban tentang kebenaran penglihatannya itu.

“I have touched you for the last time… is it a video?” “Visions of Gideon”. Kalau dikaitkan sama lagu dan cerita di filmnya, Elio itu diibaratkan seperti Gideon (kebetulan dia juga pemuda Yahudi), dia masih semacam gak percaya sama apa yang dia alami. Kayak yang… “Ini beneran enggak ya?” gak nyangka aja gitu, perasaan baru beberapa waktu lalu Elio menghabiskan waktu bersama Oliver, tapi hari itu dia mendapati kenyataan bahwa mereka gak bisa bersama lagi (kecuali kalau film ini ada sekuelnya). Bayangan kebersamaan sekaligus perpisahan dengan Oliver muncul, keliatan dari ekspresi Elio di ending film (bayangan-bayangan itu kayak video yang diputar dalam pikiran Elio) .

Kayaknya jadi makin penasaran deh sama Sufjan Stevens.

sufjan stevens
eh eh, Sufjan ganteng banget ya. umurnya udah 42 tapi masih seger ya.

 

Ah, pokoknya epic bet lah film ini! Kamu musti nonton (kecuali kamu anti-LGBT).

Good job, Luca!

Luca Guadagnino
Luca Guadagnino sang sutradara

Anyway, Call Me by Your Name ini udah dapet banyak penghargaan. Film ini juga yang udah bikin nama Timothee Chalamet yang bisa dibilang masih baru di dunia perfilman jadi makin melambung tinggi, doi langsung menang banyak. Congrats, Timmy!

hgfdyuio
Timothee Chalamet.

 

hammer-esther-timmy
Armie-Esther-Timmy

Terakhir, aku mau bilang, kalau kamu nemu film Call Me by Your Name dengan sub Indonesia dengan terjemahan yang baik dan benar tolong beritau aku ya XD

Ada sih, film CMBYN sub Indonesia tapi terjemahanannya gaje dan ngasal, jadi terpaksa aku harus download sub English nya. Ngomongnya pake bahasa Inggris dan tulisannya pake bahasa Inggris juga. Haha… gak apa deh, siapa tau abis nonton ini kemampuan bahasa Inggrisku jadi nambah dikit. Paling enggak nambah 2 kosakata, “Elio” dan “Oliver”. Lah anjirrrr~ XDDD

 

Oke deh, gitu aja. Makasih ya udah mampir.

Ciao~ *sok ngitali* XD

Advertisements

Review film “Call Me by Your Name” (yang Anti-LGBT jangan masuk!) – Part 1

Perhatian! Bagi yang anti-LGBT garis keras mending close tab aja daripada bacanya sambil misuh-misuh XD

Hay gaes! Di postingan kali ini aku mau semacam me-review salah satu film bergenre drama terbaik tahun 2017 kemarin. Aku gak terlalu suka nonton film sih aselinya, jadi aku gak update tentang film. Film ini aku tau karena berawal dari ketidaksengajaan nemu foto aktor utamanya pas aku lagi main ke Pinterest.

 

“Call Me by Your Name”, melihat judulnya aku cukup tertarik, ditambah foto 2 cowo ganteng sebagai poster filmnya membuat aku berpikir bahwa ini film tentang romansa sesama sejenis. Fix!! Gak ada alasan lagi buat aku gak nonton film ini. Walaupun musti via download nontonnya XD

Call-Me-By-Your-Name-Movie

Banyak hal yang menarik perhatianku di film ini. Selain karena pesona Timothee Chalamet, film ini berlatar tempat di Itali, tahun 1983, dan… oh iya, dari jaman SMA aku lebih tertarik dengan cerita romance sesama jenis. Yes, I’m straight! Tapi aku gak terlalu tertarik sama cerita romansa hetero karena udah biasa, gak ada unik-uniknya. Wkwkwk… jadi, unsur homo-homoan menjadi daya tarik tersendiri bagi aku.

Diadaptasi dari novel karya Andre Aciman tahun 2007 dengan judul yang sama, film Call Me by Your Name  yang disutradarai Luca Guadagnino ini menceritakan kisah percintaan antara Elio Perlman (Timothee Chalamet) seorang anak berusia 17 tahun dengan Oliver (Armie Hammer) mahasiswa berusia 24 tahun. Ini bukan cuma soal percintaan sesama jenis, tapi hetero juga, karena Elio juga berhubungan sama pacarnya, Marzia (walaupun mereka akhirnya putus), terus unsur kekeluargaannya juga kentel. Jadi ini lebih ke pengalaman seksualitas (atau pencarian?) seorang remaja berusia belasan tahun.

Elio
Timothee Chalamet, berperan sebagai Elio Perlman, 17 tahun. jago main piano, maniak buku.

Italy, 1983. Ceritanya, waktu itu lagi liburan musim panas. Ayahnya Elio, Mr. Perlman yang seorang professor arkeologi, mengundang salah satu mahasiswanya dari Amerika, Oliver, buat menginap di tempat tinggalnya selama liburan buat bantuin ayahnya Elio. Oliver menempati kamar yang sebelahan sama kamarnya Elio. Selama liburan, Elio menghabiskan lebih banyak waktunya buat main musik sama baca buku. Sesekali main sama pacarnya, cewek, namanya Marzia.

esther garrel
Esther Garrel, berperan sebagai Marzia

Dalam cerita itu, Oliver emang sosok yang menarik. Setiap orang bisa suka sama dia. Udah ganteng, body-nya perfect, jenius, periang, gampang gaul (tapi menurut Elio, Oliver itu arogan). Entah karena kesempurnaan itu atau karena terbiasa bersama (atau keduanya), Elio akhirnya sadar kalau dia ternyata jatuh cinta sama Oliver.

armie hammer
Armie Hammer, berperan sebagai Oliver

Suatu ketika, Oliver pergi ke kantor pos sama Elio. Saat itu juga Elio mengatakan tentang perasaannya, tapi Oliver bilang seharusnya dia gak begitu.  “We just can’t”. Abis dari kantor pos mereka istirahat sebentar di bawah pohon, di rerumputan, dan di sana mereka melakukan ciuman pertamanya. Si Elionya kayak yang ngebet banget, tapi Oliver gak mau itu berlangsung lebih jauh. Mereka lalu pulang, terus makan siang sama keluarga. Di tengah makan siang itu, tau-tau Elio mimisan, terus dia meninggalkan meja makan, nyari es batu, terus duduk di pojokan. Oliver yang tau hal itu jadi ngerasa gak enak. Takutnya Elio jadi gimana gitu gara-gara minta lanjut cipokan tapi Olivernya nolak. Wkwkwk…

 

Singkat cerita, hubungan Elio sama Oliver jadi makin intim. Di suatu malam mereka melakukan hubungan seksual (dalam film cuma ditunjukkan secara eksplisit, gak terlalu vulgar sih kalau menurutku, soalnya yang di-shoot cuma jendela kamar sama pohon). Di hubungan intim pertama mereka, (ini quote paling ikonik dalam film), Oliver bilang… “Call me by your name, and I’ll call you by mine”. Well, itu manis banget!! Lalu mereka saling memanggil satu sama lain dengan nama masing-masing. Aaaaaakkk~

 

A boy fucks a peach. Di dalam novel, salah satu bagian paling mengesankan itu waktu Elio masturbasi (atau bahasa kerennya swasenggama) menggunakan buah peach. Buah peach ini memang semacam ‘trademark’-nya Call Me by Your Name. Tadinya, sang sutradara mau ngilangin bagian ini dari film, tapi kayaknya gak mungkin banget, cuman kalau difilm-in apa gak aneh gitu pikirnya? Dari interview yang pernah aku baca, Luca Guadagnino sebelum bikin film ini pernah nyoba sendiri swasenggama pakai peach, dan Luca bilang “it works!!”. Aktor utamanya, si Timmy, juga nyobain, dan berhasil. Wkwkwkwk… itu aneh, swasenggama pakai buah peach, tapi mereka berhasil. Dan akhirnya Luca memutuskan buat memasukkan bagian cerita itu ke film. Aku juga pas pertama baca plotnya ngerasa aneh gitu, emang bisa ya? Gimana caranya? Terus pas liat filmnya, wah anjir!! XD

vlcsnap-2018-02-13-22h03m10s236
buah peach nya lucu ya. kayak vantad XD

Terus, setelah Elio swasenggama pakai peach dan klimaks, dia ketiduran. Oliver datang nyamperin terus dia tau si Elio abis ngapain. Oliver tadinya mau makan buah peach yang udah ‘terkontaminasi’ milik Elio, tapi sama Elionya gak boleh, terus Elio nangis. Besoknya Oliver mau balik ke Amerika, dan Elio gak mau Oliver pergi. Mungkin kalau buah itu beneran dimakan sama Oliver, Elio ngerasa lebih susah ngelepas Oliver karena bagian dari dirinya menjadi milik Oliver. Aw~

Orang tua Elio termasuk orang tua yang terbuka. Mereka tau hubungan Elio sama Oliver, tapi mereka gak ngelarang Elio. Justru, mereka pingin buat Elio seneng. Sebelum Oliver benar-benar pulang ke Amerika, orang tua Elio nyuruh Elio buat menghabiskan waktu selama 3 hari bersama Oliver di Roma.

Ini budaya Itali yang berbeda dengan budaya Amerika. Lewat novel dan film ini, Andre Aciman dan Luca mau ngasih tau bahwa orang tua di Itali itu lebih terbuka sama hal-hal yang dianggap tabu di Amerika semacam LGBT.

Di cerita itu kejadiannya tahun 1983. Kalau di tempat kita mah LGBT masih aja dimusuh-musuhin ya, padahal ini udah tahun 2018.

Tibalah waktunya, Oliver harus pulang ke Amerika. Oliver dan Elio gak mengucapkan satu kata perpisahan pun. Mereka cuma pelukan. Speechless, tapi emosinya berasa. Sedih bet aku tu nonton scene ini. Abis itu Elio nelpon emaknya, sambil nangis, minta dijemput. Di perjalanan pulang pun Elio masih nangis. Pas udah nyampe, Elio ketemu sama Marzia. Mereka udah putus sih, tapi hubungannya tetep baik, mereka jadi teman biasa sekarang. Film ini gak ada tokoh antagonisnya gaes, yang udah jadi mantan pun masih tetap berteman baik. Emangnya kamu, yang nganggap mantan sebagai sampah terus mantannya dijelek-jelekkin di sosmed? XD *digaplok*

Next, ada scene paling menyentuh sebelum ending. Scene di mana ayahnya Elio, ngajak ngobrol Elio soal perasaannya setelah berpisah sama Oliver. Scene ini menyentuh banget, ayahnya Elio itu bijak, dialognya di film sempat jadi viral (seenggaknya di negara luar sana). Selain kata-katanya, cara penyampaiannya juga ngena banget. Bener-bener adem. Mr.Perlman gak menyudutkan anaknya karena menyukai sesama jenis, karena yang namanya perasaan itu alami. Menurut ayahnya, si Elio itu beruntung bisa merasakan pengalaman seperti itu, soalnya jarang-jarang bre. Setelah berpisah dari Oliver, Elio merasakan sedih, sakit hati, itu yaudah biarin aja, gak usah dilawan perasaan itu. Gitu katanya. Terus ayahnya juga bilang kalau beliau malah ngerasa iri sama pengalaman Elio yang gak semua orang bisa ngerasainnya.

 

Beberapa bulan kemudian, di musim dingin, waktu perayaan Hanukkah (perayaan di kepercayaan Yahudi tiap bulan Desember), Elio dapet telepon dari Oliver. Elio bahagia banget bisa denger suara Oliver lagi. Sayangnya kebahagiaan itu datang bersama kesedihan. Oliver memberi kabar bahwa sebentar lagi dia akan menikah, sama perempuan pilihannya setelah 2 tahun mereka berpisah. Orang tua Elio ikut bahagia denger kabar itu, walaupun ikutan sedih juga karena anak sematawayangnya pasti sakit hati. Cuman ya udah kan, mau gimana lagi?

Sebelum scene telponan itu berakhir, Elio kembali mengulang kebiasaannya sama Oliver, saling memanggil dengan nama masing-masing. “Elio?” gak ada jawaban. “Elio. Elio. Elio. Elio. Elio”. Oliver pun membalas panggilan itu dengan namanya, dan bilang “I remember everything”.

Abis telponan, Elio duduk depan perapian sambil nunggu makan malam siap.

vlcsnap-2018-02-13-22h11m56s56

Well, ini closing yang manis dan penuh emosi. Selama beberapa menit, kita cuma disuguhi wajah ganteng Elio dengan air mata dan ekspresi yang menyiratkan berbagai emosi. Sedih-sedih gak rela tapi gimanaaa ya. Tapi seperti yang ayahnya bilang, Elio harus bisa terima kenyataan. Nangisnya Elio itu gak lebay ya, gak sampe guling-guling di lantai atau mewek-mewek gitu.

Ngeliat ekspresi Elio sambil inget-inget momen kebersamaannya sama Oliver dan meresapi ceritanya aku jadi kebawa perasaan. Ditambah lagunya Sufjan Stevens berjudul Visions of Gideon jadi backsong buat ending filmnya. Itu lagunya nyayat bre. Lirik lagunya ‘Elio banget’. Jadi makin berasa emosinya. Nangis deh~ XD

Wkwkwk… btw aku jadi penasaran juga sama soundtrack film ini yang dibawain Sufjan Stevens. Ada beberapa hal menarik di lirik lagu-lagunya.

Dan… oh iya, closingnya cukup unik, dengan judul film yang baru nongol di ending. Terus sepanjang Elio nangis depan perapian, di belakangnya terlihat sang ibu dan asistennya sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Ada satu hal yang dari awal cukup menimbulkan pertanyaan. Lalat!! Kemunculan lalat di beberapa scene film ini seperti menjadi sebuah simbol dalam cerita. Mulai dari Elio yang bangun pagi terus ngelamun, Elio yang pura-pura baca buku waktu Mavalda masuk ke kamar Elio, scene di mana Elio dan Oliver melakukan ciuman pertamanya di bawah pohon, terus muncul lagi di bagian apa ya? Lupa. Dan terakhir, si lalat masih eksis nampang di ending. Entah gimana caranya si lalat bisa diajak main film, bisa dengan antengnya nemplok di baju Elio selama beberapa menit. Oh iya, dan gara-gara itu, aku jadi nyari tau fakta tentang lalat. Tapi beneran, ini ada hubungannya sama film. Hubungannya apa? Next post ya! XD

What a great movie!

Ternyata gak sehomo yang aku bayangkan. Walaupun ada adegan hubungan intimnya, tapi Luca membuatnya terlihat elegan dan gak jorok. Malahan yang keliatan lebih kayak beneran tuh waktu scene Elio sama Marzia. Jadi ini gak 100% gay, tapi biseksual juga. Terus unsur kekeluargaannya juga berasa benget, makanya Luca sempat bilang kalau film ini juga bisa dibilang film keluarga.

Kalau dipikir-pikir sih cerita romance-nya lebih rasional ya. Oliver yang udah dewasa, jenius pula, kayaknya gak mungkin mau menghabiskan hidupnya sama anak umur 17 tahun yang masih dalam tahap berkembang. Lagian di awal Elio bilang suka, Oliver udah bilang kan kalau mereka berdua gak mungkin bisa. Selain itu juga mungkin karena perbedaan budaya. Di tahun 1983 mungkin Itali lebih welcome sama kaum LGBT, tapi di tahun segitu di Amerika masih tabu kali ya? Makanya si Oliver sempat bilang ke Elio, “You’re so lucky!”, kalau Oliver ketauan nge-gay dia bisa dikirim sama bapaknya ke penjara.

Selamat datang di ‘Zona Kakak-Adekan’ ya Elio!

 

Gaes, postingannya dilanjut besok ya. Udah jam segini nih. Makasih udah mampir, besok kita main lagi ya! *apaansih*

See you~

Sedang dalam Emosi yang Kacau. Stay away for a while!! :)

Langsung aja ya, jadi aku tuh sebenernya gak tau aku ini kenapa. Entah karena PMS atau memang ini adalah akumulasi dari semua beban di hari-hari yang lalu dan sedikit tambahan kecemasan tentang hari esok. Bodoamat dianggap kekanakan atau alay atau sejenisnya. Aku cuma perlu meluapkannya walaupun gak jelas.

Maaf ya, teman-teman yang aku anggap sebagai ‘teman baik’, bukan berarti aku menganggap kalian sebagai teman yang tidak diperlukan, cuman aku tau gimana rasanya dicurhatin kalau pas lagi ada masalah. Aku tau kalian juga gak mulus-mulus amat hidupnya, dan aku gak pernah tau apakah kalian lagi goodmood atau enggak.

 

Seberat apapun masalahnya, aku percaya sama diri sendiri bahwa aku bisa mengatasinya, atau setidaknya mengendalikan diri sendiri buat gak nyerah hidup. Semuanya cuma sementara, begitu juga keadaan, dan perasaan. Perasaan random semacam ini pun sementara, jadi aku mencoba menikmatinya, mengakui bahwa aku memang tidak sekuat apapun. Aku manusia biasa, bisa lemah juga. Aku gak pernah tuh, ngomong ke diri sendiri atau  orang lain bahwa “Aku kuat!!” cuma buat menghibur diri sendiri. Munaf*ck sekali! Kalau memang lemah ya katakan lemah! Tidak rugi kok! Hari ini lemah, tapi besok atau lusa pasti bisa kembali normal lagi. Hanya saja yang menyakitkan itu ketika harus terus bertahan sambil mencari cara untuk bisa selamat, untuk berhasil menyelesaikan masalah. Masalah-masalah.

Sebenarnya ada satu cara singkat buat gak merasakan sakit atau pahitnya hidup. Ya mati aja! Tapi itu gak menyelesaikan masalah, kecuali masalah bagi diri sendiri. Dan perlu diingat bahwa kita hidup gak sendirian, dan permasalahan-permasalahan yang ada juga menyangkut orang-orang di sekitar kita yang masih hidup. Jadi ini penting untuk tidak egois.

 

Tuhan, maaf, aku gak banyak berdoa (sedikitpun enggak). Udah lama banget ya aku gak minta tolong ke Dirimu. Abisan, sama aja sih, berdoa atau enggak, permasalahan hidup tetap ada, dan pada akhirnya kita tau, cuma diri sendiri yang bisa diandalkan. Berdoa itu cuma buat ngasih efek tenang sementara bagi yang percaya. Berdoa penuh harap, berharap hasilnya A, tapi ternyata B, ujung-ujungnya? Kecewaaaa~

Ya Tuhan, aku gak nuduh Engkau udah mengecewakan aku, enggak gitu! Cuma akunya aja yang kebanyakan berharap dan minta tolong terus. Mungkin Engkau capek mendengarku merengek terus-terusan minta tolong ini itu, padahal Engkau juga sibuk menata ketertiban dunia lewat utusan-utusan-Mu dan orang-orang yang hidup setelahnya. Engkau tidak mengecewakanku, Tuhan! Akunya aja yang terlalu ngarep, padahal realita tidak se-kunfayakun itu XD

 

Dear, ~ORION~ my blog, my best friend, makasih udah memberi tempat buat mencurahkan perasaan ini. Walaupun ini sebenernya sama aja kayak aku ngomong sendiri, tapi setidaknya bisa sedikit lebih lega karena emosi ini diluapkan. Gak baik juga kan, memendam apa-apa sendirian? Curhat ke blog pribadi itu gak merugikan teman-teman, gak mengurangi waktu istirahat teman-teman. Ya kan?  Lagipula apa enaknya curhat ke teman, nanti si teman ikutan pusing denger segudang masalah hidup aku, kan malah jadi gak enak akunya.

Memang benar, untuk merasa nyaman kita gak harus selalu melibatkan orang lain. Dan aku nyaman sendirian.

 

Terima kasih alam semesta yang penuh kekuatan.

Klasik-asik ~Alexander Rybak~

Ceritanya…

Pada suatu hari, aku lagi iseng searching di Pinterest dengan kata kunci “BrunuhVille”, terus di postingan yang berhubungan sama hasil pencarianku itu, ada nyempil foto anak manusia ber-caption ALEXANDER RYBAK yang langsung menarik perhatianku karena di foto itu dia lagi megang biola. Musisi folk yang sepertinya unik dan mengagumkan, begitu aku pikir. Terus aku searching dan nonton beberapa video dia di YouTube. Dan… yahaha!! Bisa ditebak lah ya kenapa ujungnya aku bikin postingan ini XD

pin_168885054746398251

Alexander Rybak, dengan suara emas dan biola ajaibnya berhasil menyihirku di pandangan dan pendengaran pertama. Dia adalah jebolan kontes nyanyi di Eropa tahun 2009, dan aku baru tau sekarang. Wkwkwk… rasa penasaran kadang membuatku merasa beruntung (walaupun mungkin telat). Sebelum ke rekomen lagu-lagunya yang baru aku nemu sedikit, kita kenalan dulu sama orangnya kali ya?

Tahun 1986, di Eropa Timur, tepatnya di Minsk, ibu kota Republik Belarus, telah lahir mantan embrio bernama lengkap Alyaksandr Iharavich Rybak pada hari ke 13 bulan Mei. Seorang ibu yang merupakan pianis dan ayah sang violinis, telah merawat dan membesarkan putranya dalam kelembutan musik klasik, menjadikannya seorang jenius (kata ilmu psikologi, musik klasik bisa bikin anak jadi jenius). Di usia 5 tahun, anak yang sekarang dikenal dengan nama Alexander Rybak ini mulai bermain piano dan biola. Ketika usianya 10 tahun, kedua orang tuanya menyekolahkan Rybak di sekolah musik Barratt Due, salah satu sekolah musik terbaik di Oslo. FYI, sejak tahun 1998, Norwegia mewajibkan pendidikan seni untuk anak-anak, seni apapun, entah itu tari, musik, seni rupa, seni peran, seni sulap (mungkin), pokoknya segala cabang seni sesuai potensi anak, tapi tidak dengan seni ledakannya Deidara, tidak!

Di tahun 2009, Alexander Rybak dinobatkan sebagai Pemenang di kontes musik Eropa, Eurovision Song Contest, yang diikuti oleh para peserta dari berbagai negara di Eropa. Rybak menjadi juara dengan poin 387, yang merupakan poin tertinggi sepanjang sejarah Eurovision. Alexander Rybak mewakili Norwegia di kontes musik itu, walaupun dia lahir di Belarus tapi berkewarganegaraan Norwegia sejak orang tuanya pindah ke sana.

Setelah doi lulus dari ajang Eurovision 2009 sebagai juara, karirnya langsung melejit. Debut album perdananya, Fairytales dapet posisi nomor 1 di tangga lagu Norwegia dan Rusia. Namanya langsung menggema di seluruh penjuru Eropa. Sementara di tahun 2009, aku masih SMP dan baru suka sama band-band Jepang, waktu itu lagi demen-demennya sama Laruku. *ini kok malah nostalgia?*

Alex yang udah punya ‘gen musisi klasik’ ini menguasai bahasa Rusia, Inggris, dan mengerti bahasa Swedia. Bahasa Perancis juga dia tau, dikit-dikit. Beberapa lagunya ada yang ditulis pakai bahasa Rusia. Selain sebagai musisi dan penyanyi opera, Alexander Rybak juga sempat berperan sebagai Levi dalam sebuah film Norwegia, “Yohan : The Child Wanderer” tahun 2010. Berhubung setelah menang kontes langsung laku, Rybak jadi sibuk bet, sampe-sampe belajar musiknya di Barratt Due sempat cuti, terus tahun 2011 dia mulai melanjutkan lagi, dan lulus di tahun 2012. Sama kayak aku, lulus tahun 2012, cuman bedanya aku lulus SMA waktu itu. *nostalgia(2)*

 

Sebelum sepopuler itu, Alexander Rybak sempat beberapa kali tampil di acara-acara penting dan mengikuti beberapa ajang musik. Tahun 2004 dia perform di festival tahunan di Spanyol, tahun 2005 Rybak ikut ajang Norwegian Idol sampai ke semifinal. Tahun 2006, di usia 20 tahun, dia jadi juara di ajang pencarian bakat Kjempesjansen (The Great Opportunity). Di tahun 2007 Rybak bermain biola untuk pertunjukan musik Fiddle on the Roof di Oslo Nye Teater, dan memenangkan Hedda Award (penghargaan buat penampil terbaik). Wah~ menang banyak!

Ternyata prestasinya udah cukup cemerlang sebelum jadi pemenang di Eurovision 2009. Jadi makin kagum.

Selain jago main biola dan piano, Rybak juga menulis beberapa lagu yang dibawakan beberapa finalis Eurovision, dan lagu-lagunya selalu ada di posisi 5 besar.

Berdasarkan hasil dari baca-baca di Wiki, pernah terjadi ‘insiden’ di mana Rybak marah sampe gak terkontrol (waktu itu di acara TV Swedia), dia banting biolanya dan performnya dibatalin. Kata menejernya sih Rybak gak punya kelainan terkait kesehatan mental, pas ditanya ke orangnya langsung, Rybak bilang dia cuma melampiaskan amarahnya, waktu itu lagi frustasi banget katanya, dan dia cuma bisa diem.

“Aku hanya menunjukkan bahwa aku juga manusia biasa” (Alexander Rybak).

 

Bodoamat mas! Yang penting permainan biola dan karya-karyanya tetep enak buat dinikmati! XD

 

Oke ya! Seperti biasa, rasanya gak lengkap kalau cuma ngomongin orangnya doang tanpa menikmati karya-karyanya (menikmati via download gratis) *eaaa~ nikmat gratisan mana lagi yang kamu dustakan?*

Alexander Rybak ini aselinya udah ngeluarin 4 album, tapi aku cukup susah nemuin link downloadnya XD

Jadi sejauh ini aku baru dengerin beberapa lagunya aja (paling banyak  di album pertama sama ke dua), dan ini adalah beberapa lagu Alexander Rybak yang menurut aku paling enak. Banyak yang enak sih, tapi ini yang paling enak-enak. Karena aku menilai enaknya  pakai standar aku, jadi mungkin ini lumayan subjektif. Bagi kamu yang penasaran parah, kamu bisa cari tau sendiri lagu-lagu Alexander Rybak yang lain, di Youtube banyak.

 

 

ROLL WITH THE WIND

Alunan biolanya langsung nancep. So folky, dan kedengeran cukup enerjik gitu. Selain suaranya yang enak, Rybak ini artikulasinya cukup jelas bagi aku yang gak terlalu jago bahasa Inggris.

 

INTO A FANTASY

Folk-pop agak kalem, bernuansa alam kayak soundtrack film semacam The Jungle Book atau Tarzan, pokoknya film-film fantasi yang berhubungan sama alam gitu deh. Itu kesan pertama yang aku rasain waktu dengerin lagu ini. Ternyata, lagu yang menceritakan tentang persahabatan ini adalah single Alexander Rybak yang dipakai buat soundtrack film animasi berjudul “How to Train Your Dragon 2”. Aku malah gak pernah tau ada film animasi itu.

Instrumen biolanya selalu menentramkan, dentuman bass-nya lebih berasa. Pokoknya suka banget lah sama lagu ini, sesuai judulnya, mampu membawa aku masuk ke dunia fantasi. Fantasi yang kayak apa nih? XD

Oh iya, coba liat video Rybak waktu bawain lagu Into a Fantasy di salah satu radio, di situ kamu bisa liat muka keselnya Rybak yang serem-serem gemesin. Ahaha…

 

EUROPE’S SKIES

Ini musiknya sejenis Roll With the Wind tapi sedikit lebih lembut. Kalau musik-musik yang begini masuknya folk-pop ya? Gak ngerti juga sih. Tapi ini folk-nya lebih berasa. Music video-nya juga mirip-mirip Roll With the Wind, menyuguhkan keindahan alam tanah Eropa. Jadi terkenang waktu dulu aku pernah main ke sana. Di mimpi. Mimpi di siang bolong.

 

FAIRYTALE

“Bukan biola kalau gak ngek-ngok” *pepatah dari mana tuh? * sama kayak Rybak, “Bukan Alexander Rybak kalau gak ada Fairytale”. Bisa dibilang ini adalah lagu pamungkas Rybak. Lagu ciptaannya sendiri ini lah yang menjadi penyebab Rybak keluar sebagai pemenang di Eurovision 2009, sampai dibikin buat judul album pertamanya, “Fairytale”. Kalau kamu ngetik kata kunci “Alexander Rybak” di kolom pencarian di internet, kata “Fairytale” selalu mengikutinya. Begitulah hubungan Rybak dengan Fairytale, saking dekatnya sampe dianggap udah kayak anak sendiri. *apasih*

Musiknya bener-bener ‘Rybak banget’, selalu dengan permainan biola yang amazing. Aku suka waktu dia mencapai nada-nada tinggi.

(kok lebih niat ngomongin soal judulnya ya daripada musiknya?)

 

KOTIK

Nyebut “T” nya agak sedikit “C”. Entah emang begitu atau kupingku yang agak jampeng. Liriknya pakai bahasa Rusia. Lagunya tuh lucu-lucu seksi, kayak Rybak. “Kotik” itu artinya “Kitten” atau “Anak Kucing”. Tuh kan… pas banget! Mungkin Rybak bikin lagu ini karena terinspirasi dengan dirinya sendiri. Lah? Iya soalnya si Rybak suka pasang muka sok imut kayak anak kucing, apalagi matanya yang bulet-bulet bersinar. Aduh~

Aku gak terlalu paham ini termasuknya genre apa, semacam pop-dance yang ada unsur klasiknya. Walaupun aku gak ngerti sama sekali tentang bahasa Rusia, sama sekali, tapi aku suka dengernya, kedengarannya sih emang blibet, tapi seksi. Sebelas duabelas sama bahasa Prancis sama Itali lah seksinya.

Anyway, video klip Kotik juga lucu [dan seksi]. Betapa Alexander Rybak sungguh sangat menggemaskan. Ekspresinya gak nguatin beneran! Bikin aku lupa kalau dia udah jadi suami orang dan udah bukan abege lagi. Tapi kenapa dia masih kayak anak kucing? XD *mulai mabok lagi*

 

FEVER

Lagu ini aselinya lagu jadul yang nge-hits banget di tahun 1956, ditulis oleh Eddie Cooley dan Otis Blackwell. Tahun segitu bapak ibu aku belum lahir btw.

Ini cukup bikin aku sedikit penasaran karena banyak yang nge-cover lagu “Fever”. Versi aselinya ber-genre R&B, tapi si Rybak dengan epic-nya mengaransemen lagu ini jadi klasik-jazz. Bener-bener jauh beda sama versi aselinya! Enak banget sumpah, Fever versi Rybak ini aku suka. Bukan karena aku emang udah suka sama Rybak-nya, tapi musiknya emang enak banget. Seksi-seksi romantis gitu. Alunan biola dan suara emasnya Rybak, aduuuuhh~ sesuai sama judul lagunya, bikin ‘demam’!! Apalagi liat videonya, ‘demam’nya bisa makin tinggi! si Rybak meuni genit siah!! Menggodah~ XD

 

Itu lah beberapa lagu Alexander Rybak yang paling nyangkut di kuping aku. Sebenernya masih ada sih, beberapa lagu Rybak yang juga enak buat dinikmati. Enak, cuman aku kurang minat. Mungkin karena aku gak terlalu tertarik sama musik klasik kali ya? Tapi kalau kamu mau, coba aja dengerin First Kiss (aku lumayan suka ini), OAH, Funny Little World, Suomi, I Came to Love You, dan yang lainnya bisa cari sendiri ya.

 

Nambah satu kegemaran dan kegemasan lagi nih aku. Gemar mendengarkan lagu-lagunya, gemas melihat wajahnya! Aaaaaakkk~ XD

Abisan mukanya begini…

alexander_rybak__

Alexander-Rybak

AlexanderRybak_bio
semacam ‘Anak Kucing’ Surgawi yang mengalami ‘Kejatuhan’ ke bumi.
Alex_fever
ini di video lagu Fever. selain berbakat main biola dia juga berbakat bikin ‘demam’.
Alexander Rybak_my_cutie_kotik
Beda banget ya!! Keliatan lebih smart dan berkarisma dan manis dan ganteng dan mempesona dan– *demam makin tinggi*
mirip Enrique
Kalau dari sudut-sudut tertentu, sepintas mirip Enrique iglesias. Ya gak sih?

2 foto di atas itu foto kecil dan foto remaja Rybak. dapet dari website infonya Rybak. Klik aja linknya, lebih lengkap.

 

Terakhir nih…

Alexanderssword

Mukanya tuh kayak ngomong… “Pokoknya lo harus nikah sama gue!! Kalau enggak…” *yang diajak ngomong keburu die duluan karena demam tinggi diliatin begitu*

 

Kay!! Gitu lah kira-kira. Makasih banyak yang udah mampir. Sampai ketemu di postingan gak penting [tapi semoga bermanfaat] selanjutnya ya~

Oh iya lupa, kalau sempat, follow juga ig @rybakofficial sama ig @herheann ya! XD

Gossipin album “GOSSIP”-nya Sleeping With Sirens

Hari ini aselinya aku lagi sebel banget sama seseorang, pingin meluapkannya di blog tapi nanti malah jadi nge-gossip.

Ah, ngomong-ngomong soal Gossip, belum lama ini Sleeping With Sirens baru aja rilis album berjudul “GOSSIP”, yang cover albumnya pakai gambar bibir cewek. Lah emang cuma cewek aja yang doyan nge-gossip? Cowok juga ada yang suka gossip, tapi cowok yang suka nge-gossip biasanya dapet titel “Cowok bermulut cewek”. Sian~

Cover

Oke ya. Beberapa bulan lalu, sejak informasi perilisan album baru SWS mulai terdengar, semua fans SWS pasti udah penasaran parah sama albumnya. Kira-kira bakalan sekeren album-album sebelumnya enggak nih?

Begitu udah rilis, terus didengerin satu per satu, rasanya kok gini ya?

Gini gimana?

Ya gini.

Kayak bukan dengerin Sleeping With Sirens, kayak dengerin ‘Sleeping’nya doang, karena lagu-lagunya letoy bikin ngantuk.

 

Banyak lagu yang hampir sama, bikin males nge-review satu per satu. Lagian review aku suka ngasal juga.

Album ini aku ngerasa lebih agak-agak nge-pop gitu, kurang ‘SWS banget’. Tau sendiri kan SWS lagu-lagunya kayak apa? Seru-seru, asik buat jingkrakan, dan gak flat, belum lagi teknik vokal Kellin si Siren jantan yang bikin siren beneran jadi minder. Tapi di album ini kekuatan vokal Kellin gak terlalu menonjol.

 

Cuma beberapa lagu aja sih yang aku lumayan suka, kayak Legends, Hole in My Heart, The Chase, yang lainnya hampir mirip sama yang aku sebutin, tapi lebih flat kayak papan nama di kelurahan, flat!

Lagu selownya paling aku suka I Need to Know, sama War doang. “I Need to Know” kayak ada manis-manisnya gitu, masih berasa lah sisi romantisnya SWS.

Eh tapi liriknya bukan yang romantis sih aselinya, kayak galaw gitu, cuman kayaknya  ini satu-satunya lagu bertema asmaraan di album Gossip.

 

Sayang banget, kurang sesuai ekspektasi. Tapi it’s ok lah, mungkin Kellin dan pasukannya lagi pingin nyoba sesuatu yang lain. Cuman kalau hasilnya kayak gini… udahan ya nyoba-nyobanya, buruan balik lagi ke SWS yang dulu.

Long live SWS!!

 

Oke deh. Makasih yang udah mampir. Aku mau tidur dulu sama siren. Bye~

SWS2017
daddy Kellin, wadaaawww~

Review produk : JOHNNY ANDREAN Styling Cream Natural & Moisture

Hay gaes! Aku mau sedikit bahas soal produk styling rambut nih, sambil cerita dikit.

Bulan September lalu aku potong rambut. Niatnya emang pingin potong pendek kayak rambutnya Freja, salah satu model androgini yang aku suka. Dan berhubung rambut aseliku udah mulai tumbuh (aku sempat smoothing rambut di akhir Januari lalu) jadi hasil potongannya malah beda jauh dari rambut pendek ala Freja XD

Tapi aku malah lebih suka yang kayak begini nih, soalnya aku memang pingin balik lagi ke rambut aseliku, rambut ikal yang terkesan klasik. *eak~*

Karena rambut lurus hasil smoothingan 8 bulan lalu udah dibuang, jadi yang sisa tinggal rambut pendek ikal yang… kering, kalau abis sampoan jadi ngembang kayak rambut singa, dan susah diatur kayak remaja jaman now.

 

Buat mengatasi permasalahan rambutku, aku nyari krim styling rambut yang kira-kira cocok buat rambut yang aku sayangi ini. Karena sebelumnya aku gak pernah potong rambut sependek ini, jadi aku gak tau krim styling rambut mana yang tepat. Nyoba merk ini, lengket banget. Nyoba merk itu, gak beda jauh.

Akhirnya pilihanku jatuh ke JOHNNY ANDREAN styling cream natural & moisture.

johnnyandrean

Belinya di Alfamart terdekat, dengan harga gak nyampe 20 ribu. Aku beli yang isi 125 g, dan sampai sekarang baru mau habis padahal dipake tiap hari, berarti udah hampir 2 bulanan tuh.

 

Johnny Andrean sendiri sengaja menciptakan produk ini dengan 2 fungsi, buat gaya-gayaan sekaligus bikin rambut sehat. Formula double care-nya membantu mempertahankan kelembapan rambut dengan Conditioning Agent dan menyehatkan rambut dengan Pro-Vitamin B5.

Krimnya gak lengket, begitu dipakai langsung nyatu sama rambut, udah gitu gampang buat ditata ulang. Hasil akhirnya keren, berkilau alami dan lembut. Produk ini mengandung conditioner yang melembapkan rambut.

Oh iya, aromanya juga aku suka, agak-agak mirip aroma parfum body lotion ‘Divine’ dari Oriflame.

 

JOHNNY ANDREAN styling cream ini kayaknya lebih cocok buat para pemilik rambut ikal.

Suka banget pokoknya.

Taken with Lumia Selfie

Taken with Lumia Selfie
background putih, kaos putih, biar hitam manisnya gak mubazir. dan dengan tatanan rambut seadanya menggunakan Johnny Andrean styling cream.

FYI, Johnny Andrean ini gak cuma ada produk krim styling rambut juga, tapi ada sampo, conditioner, tonic, dan hair spray-nya juga. Kapan-kapan nyobain sampo sama tonic nya yang buat numbuhin rambut deh, biar rambutku cepet panjang XD

Gitu aja deh. Thank you ^0^)//

Review abal-abal : EVOCATION II-PANTHEON album by ELUVEITIE

Hae teman-teman Helvetion~ udah tau kan ya, tanggal 18 Agustus lalu, Eluveitie baru aja rilis album baru, “EVOCATION II – PANTHEON”. Album ini adalah album akustik ke 2 Eluveitie setelah di tahun 2009 lalu mereka merilis album Evocation I. Bagi aku, album ini terasa spesial, soalnya ini album pertama mereka dengan formasi baru. Anyway, aku seneng banget karena mbak Nicole udah gabung lagi di Eluveitie setelah kemarin sempat hiatus buat ngurus anak-anaknya.

Eluveitie-2017

Namanya juga album akustik ya, jadi di sini lagu-lagunya gak nge-metal, tapi murni folk dan udah pasti menceritakan tentang sejarah dan budaya bangsa Celtic. Jadi jelas gak bisa dibandingkan sama album-album Eluveitie sebelumnya kayak Origins, Helvetios, dan sejenisnya yang folk-metal.

Evocation II berisi 18 lagu, semua lagu yang ada liriknya itu full pakai bahasa Celtic kuno, dan untuk bikin lirik lagunya, Chrigel bekerjasama dengan beberapa sejarawan Eropa, referensinya aja diambil dari skrip kuno Celtic yang udah berumur sekitar 2000 tahun. Niat banget emang!! Kayak lagu Brictom yang termasuk lagu di album Evocation I tahun 2009 dulu, bikin liriknya kan ngambil dari skrip kuno. Chrigel cs emang Nasionalis banget, gak mau ngasal buat bikin karya tentang budaya bangsanya sendiri.

 

Seperti biasa yes, kalau ada rilisan album baru dari band yang aku suka, bawaannya pingin sok-sok nge-review sotoy gitu. Yaudah deh, biar aku bahagia ya, aku mulai review-nya, dengan bermodal kesoktauan dan referensi ke-Celtic-an yang diambil dari internet.

eluveitie-evocation-ii-pantheon-cover

Album ini dibuka dengan track berjudul “DUREððU”, track pembuka berdurasi 1 menit 23 detik ini penuh dengan efek-efek suara angin, pekikan burung, dan ditutup dengan suara sang vokalis baru, Fabienne Erni, yang melantunkan sepenggal puisi(?) dalam bahasa Celtic kuno.

 

Di track ke 2 ada lagu yang judulnya mengingatkan kita sama bayang-bayang mbak Anna, “EPONA”. Walaupun sama-sama ada nama Epona (dewi kuda dan kesuburan), tapi Epona yang ini bener-bener bedaaa banget dari A Rose For Epona!! Mulai dari lirik lagunya yang full bahasa Celtic kuno sampai musiknya yang enerjik, gak ada unsur sedih-sedihnya samasekali kayak Epona yang dulu. Waktu denger intronya sih kayak gak asing, ternyata pas diinget-inget, ini mirip The Nameless. Melodi di pertengahan lagunya juga mirip The Nameless. Fix, ini sih The Nameless versi akustik!

 

Next, ada sequel dari lagu Sucellos, judulnya “SVCELLOS II”. Kalau di album Origins lagu Sucellos musiknya bringas penuh dengan scream Chrigel yang membahana, kali ini sequelnya adem kalem mendayu merdu, didominasi sama flute dan bagpipes, udah gitu durasinya gak ada 2 menit.

 

Di track ke 4 ada “NANTOSVELTA”, ini melodinya gak asing deh! Tapi sampe sekarang aku belum tau ini melodi di lagu Eluveitie yang mana. Mirip-mirip Andro sih, tapi bukan Andro. Gak tau ah, lupa.

Lagu instrumental ini awalnya merdu mendayu dengan dominasi intrumen aerophone, di pertengahan lagu, drum-nya bebep Alain yang enerjik mulai masuk, dan makin menjelang ankhir lagu beat-nya makin kenceng. Suka banget deh sama lagu ini, walaupun masih penasaran itu melodinya mirip lagu yang manaaa~

Oh iya, di sini kita kembali mendengar sepenggal syair yang dibacakan Fabienne Erni, dalam bahasa Celtic kuno tentunya.

Menurut Wikipedia, Nantosvelta adalah dewi kesuburan, dewi bumi, dewi tanah, dan dia dipasangkan denga dewa Sucellos.

 

Berikutnya, ada track yang menceritakan tentang dewa Celtic lagi, “TOVTATIS”. Durasinya cuma 1 menit 5 detik, berisi hymne atau mungkin semacam syair puji-pujian buat dewa Toutatis dengan iringan hurdy-gurdy dan efek suara hembusan angin.

 

Di lagu ke 6 ada “LVGVS”. Waktu pertama dengerin dan nonton videonya aku sempet ketuker ngiranya ini melodi Tri Martolod, ternyata pas diinget-inget lagi, ini melodi lagu tradisional Ev Sistr. Melodi Ev Sistr ini kalau gak salah juga dipakai di lagu Eluveitie yang Uis Elveti. Lugus atau Lug atau Lugh, adalah nama salah satu dewa besar bangsa Celtic, dipuja juga sama bangsa Roma sebagai Mercury (Yunani : Hermes).

Musiknya aku suka, enerjik, udah gitu ada harpanya. Fabienne Erni selain vokalnya bagus kan doi juga bisa main harpa sama mandola.

 

“GRANNOS”, sempat  bikin aku penasaran waktu nemu salah satu video live Eluveitie di youtube jauh sebelum album ini rilis, jadi lagu ini udah pernah dibawain live, mungkin semacam spoiler waktu rumor perilisan album akustik ke 2 mulai ramai. Aku kira ini lagu baru yang bener-bener baru, ternyata ini adalah versi akustik dari lagu Slania’s Song. Bedanya, yang ini gak ada suara vokalnya, jadi murni instrumental. Di awal sih merdu mendayu mesra, tapi di pertengahan lagu musiknya mulai agak kencengan. Kece!!

 

“CERNVNNOS”, nama salah satu dewa agung bangsa Celtic ini sering kita dengar di lagu band-band folk Eropa, bahkan dipakai juga buat nama band folk-metal, Cernunnos. Kita kembali disuguhi himne musikal lagi di track ke 8 ini. Dengan durasi gak sampai 3 menit, menurutku track ini biasa aja sih.

 

“CATVRIX”, musiknya pas banget sama judulnya. Caturix, adalah dewa perang bangsa Celtic kuno. Track ini dibuka dengan efek suara decitan pedang, samar-samar ada suara terompet gading yang biasa dipakai di film-film perang jaman pertengahan gitu. Nuansanya udah ngajak perang, dan pagan banget. Aku suka nada tingginya Fabienne. Boleh juga.

 

“ARTIO”, ngomongin soal nada tingginya Fabienne Erni, di track ke 10 ini aku dibikin kagum sama pengganti Anna yang ternyata berbakat. Di sini Fabienne semacam ‘nyinden’ pakai bahasa Celtic kuno, dengan suara merdu mendayu, dan sesekali menjangkau nada-nada tinggi yang bikin aku makin merinding, apalagi gak ada iringan musiknya, jadi suaranya terdengar lebih clear. Terus menjelang akhir lagu suara instrumen aerophone-nya mulai kedengeran, dan menjadi penutup lagu yang cukup kece.

 

“AVENTIA”. Lagu instrumental yang didominasi flute dan bagpipes ini awalannya bikin adem, serasa lagi di hutan sambil menikmati kesejukan dan semilir angin. Begitu fiddle, hurdy-gurdy, gitar, dan perkusinya mulai masuk, nuansanya jadi kayak musik tradisional irlandia atau semacamnya gitu *sotoy*.

Suka!!

 

Setelah mengadopsi melodi dari lagu tradisional Tri Martolod di lagu Inis Mona, Eluveitie kembali mengadopsi lagu Tri Martolod di track ke 12 ini, “OGMIOS”. Kali ini lebih lengkap, bagian verse dari lagu ‘Tiga Pelaut’ itu juga dimasukkin ke lagu ini, terus efek-efek suara lautnya juga kedengeran. Di album Eluveitie sebelumnya (Origins) juga ada sih lagu yang judul Ogmios, cuman aku lupa yang kayak gimana, gak aku save, berarti gak nyangkut. Kalau Ogmios yang ini sih jelas suka lah~

 

“ESVS”. Suara instrumen aerophone dan petikan gitarnya begitu adem. Apalagi waktu Fabienne mulai melantunkan syair-syair berbahasa Celtic kuno. Suaranya aduhai banget macem sinden. Terus menjelang akhir ada choir-choirnya gitu, pagannya berasa banget.

 

This is it!! “ANTVMNOS”, adalah salah satu lagu yang bikin aku cukup terkejut juga. Njir~ sejauh aku suka Eluveitie baru kali ini aku denger mereka mengadopsi melodi dari lagu tradisional yang terkenal itu, SCARBOROUGH FAIR broh!! Aaaaaakkk~ langsung kesenengan akunya! Dari semua lagu Scarborough Fair yang dicover sama banyak musisi, ini adalah salah satu yang paliiiing aku suka. Soalnya… yang bawain Eluveitie. Wkwwk.. ya gak gitu juga sih. Soalnya Eluveitie memang memberi suguhan yang cukup berbeda dan sangat indah menurut aku, walaupun ini lagu instrumental. Aku suka melodi yang dimainin pakai flute dan bagpipes di pertengahan lagu, menyayat kalbu!! :’D

Udah gitu ada efek-efek suara hembusan angin dan deburan ombak gitu. *gakpentingsih*

 

Next, ada “TARVOS II (Sequel)”. Aku lupa, Tarvos yang versi pertama kayak apa ya dulu? Gak aku save kayaknya. Tapi aku suka versi sequel-nya ini. Suara bagpipes (atau flute ya?) ngingetin sama tari ular ala india-indiaan. Wkwkwk…

 

Track ke 16, “BELENOS”. Gak terlalu special dan gak flat juga sih, tetep enak buat dinikmatin. Instrumen aerophone-nya bikin adem. FYI, Belenos adalah nama Dewa Matahari bangsa Celtic.

 

Setelah tadi beradem-adem sama lagu instrumental Belenos, track selanjutnya, “TARANIS” mengajak kita buat sedikit berhentak-hentak(?) menikmati beat yang  cukup enerjik dari lagu yang menceritakan tentang Dewa Petir ini. Aku suka perpaduan flute dan fiddle-nya. Menjelang akhir lagu, mbak Fabienne kembali melantunkan sepenggal syair berbahasa Celtic.

 

Dan tiba lah kita di track terakhir, “NEMETON”, sebagai penutup album ini. Seperti intro atau outro di album-album Eluveitie yang lain, ini penuh dengan efek suara alam kayak suara ombak, hembusan angin (bukan angin yang keluar dari dalam perut kamu ya), terus kayak ada suara burung gagak (atau ntah apa), dan om Chrigel yang seperti membisikkan mantra dalam bahasa Celtic kuno. Namanya juga penutup yes, jadi durasinya gak lebih dari 2 menit. Anyway, arti nama “Nemeton” sendiri masih jadi perdebatan para ilmuwan/sejarawan. Bagi bangsa Celtic sendiri, Nemeton adalah tempat keramat, tempat yang punya hawa mistis, atau tempat yang dianggap mempunyai energi yang gak biasa.

 

Gitu deh.

Menurut aku sih, album akustik ke 2 dari Eluveitie ini bagus banget. Namanya juga album akustik yes, jadi gak nyabung kalau dibandingkan sama album folk-metal mereka. Malahan aku makin salut sama Eluveitie, walaupun udah gak bareng sama 3 ‘personil penting’ yang dulu, tapi Eluveitie tetap bisa mempersembahkan karya yang epic. Itu membuktikan kalau Eluveitie memang band yang hebat. Gak ada Anna, Michalina pun jadi, gak ada Anna, Fabienne pun mampu menggetarkan hati, gak ada Ivo, om Jonas pun oke, gak ada Merlin, bebep Alain pun tetap bisa mengguncang panggung (dan mengguncang hatikuh dengan pesona ketamvanan dan bakat nge-drumnya yang gak bisa diremehkan). Jadi, kehilangan 3 member penting gak membuat Eluveitie kehilangan ke-epic-annya. Begitupun ex Eluveitie yang sekarang udah jadi Cellar Darling, mereka bisa menjadi band yang hebat dengan jalur mereka sendiri. Duh, nge-review album aku jadi baper gini, malah ngomongin ex Eluveitie *bukti kalau bayang-bayang Anna belum bisa sepenuhnya lepas*

 

Gimana kalau menurut kamu? Share di kolom komen ya!

Makasih banyak udah berkunjung ^_^

 

 

(Referensi : metalmasterkingdom.com, loudwire.com, distortedsoundmag.com, britannica.com)

 

 

Review abal-abal nan sotoy : “THIS IS THE SOUND” album by Cellar Darling

Hae gaes~

Kali ini aku mau sedikit membahas tentang salah satu album yang ditunggu-tunggu sama para pecinta Anna Murphy cs (mau nyebut pecinta Eluveitie tapi mereka udah gak di Eluveitie lagi sih).

Seperti yang udah kita tau ya, Anna Murphy, Merlin Sutter, dan Ivo Henzi udah hengkang dari Eluveitie sejak tahun lalu dan mereka membentuk band yang namanya sama kayak album solonya Anna, “CELLAR DARLING”.

CellarDarling

Ya walaupun aku ngakunya suka sama Anna cs, tapi maap-maap aku gak beli album ori nya :’D

Begitu nyari link download ternyata udah pada ilang, sekalinya nemu, pas di-extract engga bisa. Ngeselin banget emang. Akhirnya si mas Dapitt alias David YC dengan baik hati mau nge-share mp3 album itu via WA. Wah~ beruntung sekali aku. Makasih banyak mas Dapitt ^_^)//

 

Album perdana Cellar Darling ini berjudul “This is The Sound”, ada 14 lagu di dalamnya. Sejak perilisan video single pertamanya Cellar Darling emang beda dari Eluveitie, walaupun masih tetep mengusung folk-metal (apa folk-rock ya?), tapi unsur Celtic-nya gak sekental Eluveitie. Jadi di sini metal/rocknya lebih dominan sih menurutku. (masih bingung ini sebenernya folk-rock apa folk-metal) XD

Sepertinya musik yang begini nih yang jadi jiwa mereka bertiga, soalnya kalau kita perhatikan ya, waktu masih gabung di Eluveitie, kebanyakan lagu yang dibikin sama om Ivo itu musiknya lebih kentel ke metal, kayak The Silver Sister sama Carry the Torch yang murni bikinannya Ivo (doi termasuk paling sering bikin lagu di Eluveitie tapi tetep ada campur tangan Chrigel). Liat aja album-album Eluveitie di Wiki, pasti di list musiknya nama Ivo sering muncul.

 

Key, balik lagi ke album Cellar Darling ya. Sebelum album ini rilis, Cellar Darling udah lebih dulu merilis video klip dari beberapa singlenya, Avalanche, Black Moon, sama Challenge ya kalau gak salah? Yang Challenge aku belum sempat liat sih. Kalau yang Black Moon udah, dan kayaknya ada makna yang mendalam kalau diliat dari video klipnya. Jadi di video klip Black Moon itu ada yang memerankan 3 pemuka agama dari agama yang berbeda, keliatannya sih agama samawi gitu (Kristen, Islam, Yahudi), terus ada seorang wanita yang kostumnya serba hitam, dan di akhir, ketiga pemuka agama itu yang tadinya mencar terus jadi satu  ngikutin si wanita itu. Gitu deh pokoknya. Liat sendiri aja videonya di Yutup kalau belum dihapus XD

 

Sekarang kita ngomongin lagu-lagu di album This is the Sound ya.

Track pertama nih, ada AVALANCHE yang video klip-nya udah rilis sejak bulan… apa ya? Lupa.

Lagu ini dibuka dengan permainan hurdy-gurdy nya mbak Anna. Kalau aku pribadi sih luamayan gampang bosen dengerinnya, menurutku biasa aja, beat-nya gak terlalu kenceng sih soalnya. Drum-nya gitu-gitu doang.  Ahaha… Aku emang awam musik sih, cuman kalau dengerin drum-nya di lagu ini kayaknya aku bisa bayangin Merlin nge-drum sambil nahan ngantuk gitu deh.

 

Di track ke 2 ada yang video klip-nya baru aku omongin tadi nih, BLACK MOON. Nah, yang begini ini aku suka, beat-nya agak kenceng. Di lagu ini vokalnya mbak Anna lebih powerful *pfftt~ sok tau* kalau di Avalanche kan lebih ke melengking gitu ya. Aku suka di bagian menjelang chorus, perubahan suara Anna dari rendah terus ke tinggi pas chorus. Riff gitar Ivo yang berat di lagu ini juga aku suka, di sini ada solo gitarnya setelah solo hurdy-gurdy Anna. Om Merlin yang tadi kayaknya ngantuk bawain lagu pertama, sekarang jadi melek deh, abisan permainan drum-nya lebih variatif menurutku.

 

Lanjut di track ke 3, CHALLENGE. Melodi hurdy-gurdy jadi pembuka lagu ini. Walaupun beat-nya hampir mirip sama Avalanche, tapi gak semonoton itu sih. Soalnya di sini ada solo gitar sama solo hurdy-gurdynya, udah gitu hurdy-gurdynya lebih berasa, jadi ada ‘rasa Celtic’ nya gitu. Suka deh!

 

HULLABALLOO,  lagu ke 4 di album ini. Intronya aja udah berat. Riff-riff yang berat dari Ivo dan hentakan drum Merlin bikin lagu ini lebih terdengar metal. Chorusnya aku suka, kayak ada falset-falsetnya gitu. Terus, yang paling bikin aku kagum adalah… solo hurdy-gurdynya mbak Anna!!! Aduh itu solo hurdy-gurdy apa solo gitar sih mbak? Awalnya hurdy-gurdy banget tapi pas akhiran kayak solo gitar. Salah satu favoritku di album ini. Sayangnya aku belum nemu lirik lagunya jadi gak bisa ikut-ikutan nyanyi, cuma nyanyi bagian “Hullaballoo”nya doang. Ahaha…

 

Di lagu ke 5 ada SIX DAYS. Aku merasakan kesan ‘gothic’ di sini waktu dengerin awalannya, efek dentingan piano/keyboard sama suara rendah Anna kali ya?  Untungnya lagu ini cukup unik!! Dengan durasi hampir 6 menit, aku pasti bakalan bosen kalau lagunya gitu-gitu aja, tapi di menit ke 3 aku dibikin terhanyut sama instrumen aerophone yang dimainkan… Anna? Kayaknya Anna sih yang mainin, soalnya sempat liat Anna mainin flute waktu dia masih gabung sama Eluveitie. Dan di part instrumen aerophone (yang juga ada iringan pianonya) itu jadi berasa dengerin musik fantasi, terus kesan gothic atau serem-seremnya jadi ilang sesaat. Dan mbak Anna yang dari awal nyanyi pake suara rendah, memasuki menit ke 5, suaranya jadi tinggi. Di lagu aku ini aku gak denger instrumen hurdy-gurdy. Mungkin Anna sibuk mainin piano.

7911318
Wah iya, ternyata gak cuma mainin hurdy-gurdy

 

THE HERMIT. Salah satu lagu yang aku favoritin juga di album ini. Musiknya asik, enerjik, chorusnya juga aku suka, udah gitu ada solo hurdy-gurdy yang bikin aku makin cintaaaaaaaaaaaaaah sama mbak Anna.

 

Setelah menikmati hentakan di lagu ke 6 tadi, selanjutnya kita dibikin selow dengan lagu mendayu sendu berjudul WATER. Intronya dibuka dengan petikan gitar yang manis, mengingatkan kita sama salah satu lagu instrumennya Eluveitie, “Isara”. Entah kenapa jadi agak sedih gitu dengerin ini. Durasinya gak ada 2 menit, lirik lagunya juga cuma 2 bait kayaknya. Sedih. Ada lirik “forgetting world war”nya gitu. Semacam lagu pelipur lara buat orang yang melewati penderitaan gitu kali ya? Judulnya aja “Water” (air), air kan buat membasuh dan membersihkan luka, kecuali air keras sama air liur komodo.

 

Yaudah sih, jangan sedih terus. Lagu ke 8 berjudul FIRE, WIND, & EARTH bisa mengembalikan semangatmu lagi. Hentakan drum-nya Merlin enerjik. Kalau menurutku musiknya gak terlalu berat sih, Lumayan lah~

 

Next track, REBELS. Beat-nya lebih santai. Durasinya 5 menit lebih 34 detik. Kalau gak menikmat melodi hurdy-gurdynya Anna bakalan cepet bosen sih ini.

 

UNDER THE OAK TREE (Di bawah Pohon Ek). Emmm~ cukup emosional. *udah gitu doang?*

Solo hurdy-gurdynya leh uga. Aku tertarik sama judul lagunya. Ada apa dengan pohon Ek? Pohon Ek itu memang salah satu pohon yang istimewa ya. Dari jaman kuno udah sering dipake buat bahan pembuatan kapal, perabotan, dlsb, terus usianya bisa sampe tua banget, bahkan ada yang sampe 800 tahun. Kamu tau pohon Ek yang ada di film Lord of the Rings kan? Nah, itu kan pohonnya udah bangkotan banget, dan masih hidup. Terus di jaman kuno juga ada bangsa kuno (ntah di belahan bumi mana) yang melakukan ritual pemujaan pohon Ek. Jadi kita sebenernya ngomongin musik apa ngomongin pohon sih?

 

Masih berselow-selowria, kali ini dengan track ke 11, HIGH ABOVE THESE CROWNS. Kalau lagu yang tadi cukup emosional, yang ini lebih emosional. Dan… ya, gitu doang.

 

Setelah tadi aku cukup merasa jenuh, track ke 12 berjudul STARCRUSHER ini bikin aku semangat lagi. Riff gitar Ivo sama vokalnya Anna sama-sama berat, udah gitu ada scream-nya lagi!! Aaaakkk~ suka banget deh tiap mba Anna nyekrim(?). Kirain bakalan denger scream mba Anna cuma di lagu Eluveitie aja, ternyata di album ini doi gak meninggalkan scream-nya, yaaaa walaupun samar-samar gitu sih.

 

HEDONIA. Satu-satunya lagu di album This is the Sound yang gak aku download karena waktu mas Dapitt nyoba nge-share via WA gak bisa, size-nya 16Mb, kegedean. Jadi aku dengerin di video yutup, itu juga video live yang sound-nya sumpah gaje parah! XD

Lagu berdurasi sekitar 7 menitan ini awalnya cukup nge-beat, tapi pas masuk di menit ke 4 sampe selesai kok jadi letoy ya? Au ah, orang aku juga dengerinnya pake video live di yutup, gak jelas sound-nya. Wkwkwk… Maaf deh.

 

Album pertama Cellar Darling ini ditutup dengan track berjudul REDEMPTION. Menurutku sih not too bad lah. Sejenis track ke 9 (Rebels) barusan. Aku suka nada-nada tinggi Anna di sini, apalagi di ending-nya. Semoga kalau dibawain pas live mba Anna gak sampe kecekik ya.

 

 

Yah~ begitulah kira-kira review abal-abal nan sotoy dari aku.

Gak buruk juga Anna cs hengkang dari Eluveitie, terbukti mereka bisa menunjukkan sisi lain dari jiwa bermusik mereka. Walaupun udah gak Celtic-Celtic banget, tapi tetep nge-folk karena hurdy-gurdynya, dan riff-riff gitar yang berat jadi khas musiknya Cellar Darling.

Kalau menurut kamu gimana? Share di kolom komen ya. Makasih yang udah mampir ^^

 

CellarDarling_viaCellarDarlingofficial
Anna-Ivo-Merlin [di belakang drum set] (Cellar Darling official)

Review Produk Oriflame : The One 5-in-1 Wonder Lash Mascara Waterproof

Teman-teman, setelah kemarin aku review produk facial wash Essentials Fairness, kali ini aku mau review salah satu produk make-up tentunya masih dari Oriflame, yaitu THE ONE 5-in-1 WONDER LASH MASCARA WATERPROOF!!

file-page104

Di bulan ke 2 aku join Oriflame, kebetulan produk maskara The One ada diskon 50%, dan  salah satu temanku (sebut saja Gemesh) berminat untuk order. Aku sendiri belum pernah nyoba karena aku emang gak suka maskaraan, terus takut bulu mata jadi rusak.

Setelah temanku yang bernama samaran Gemesh itu order, aku nanya ke dia, kira-kira gimana puas apa engga sama produknya. Dan ternyata doi puas! Katanya enak dipake, terus gak menggumpal.

feedbackgemesh

Note : Dalam bahasa Pemalang, “gadel” atau “nggadel” itu artinya “menggumpal”.

 

Terus, di orderanku yang ke 2 di bulan yang sama, ada lagi yang order maskara The One Waterproof ini. Sebut saja namanya mbak Yuyung. Karena kebetulan kakakku minta nyobain maskaranya Oriflame, jadi aku juga sekalian beli deh. Lagian aku juga mau ngerasain maskaraan pakai Oriflame, biar kalau ada yang nanya tentang produk, aku bisa kasih jawaban seobjektif mungkin karena aku sendiri udah pernah nyoba.

feedback mbak yuyung
hasilnya cucok!

Tadinya memang aku gak terlalu suka maskaraan karena berasa berat dan kurang nyaman, tapi begitu mencoba maskara The One 5-in-1 Wonder Lash ini, aku jadi mulai suka pakainya. Tapi gak tiap hari juga sih, soalnya maskara ini awet banget, dipake hari ini besoknya masih ada. Scara waterproof ya. Kalau awet gini sih bisa hemat iya kan?

 

5-in1 di judul produknya itu maksudnya apa sih? Maksudnya, maskara ini punya 5 manfaat dalam 1 produk, yaitu : memanjangkan helai bulu mata, memisahkan dan menegaskan tampilan bulu mata, membuat bulu mata terlihat lebih bervolume, melembabkan dan menyehatkan bulu mata dengan formulanya yang menutrisi bulu mata, dan… ini yang perlu kamu tau juga, maskara ini bisa melentikkan helai bulu mata dengan 2 sisi sikatnya, sisi pendek dan panjang, sisi pendek buat mengangkat bulu mata, dan sisi panjangnya buat memisahkan dan melentikkan bulu mata. Jadi udah tau kan, kenapa The One 5-in1 Wonder Lash mascara ini punya 2 sisi sikat yang berbeda?

Taken with Lumia Selfie
bulumata cetar tampak depan
Taken with Lumia Selfie
bulumata cetar tampak samping

Padahal aku pakainya cuma dikit, gak yang niat-niat banget gitu, tapi udah keliatan cetar kan?

 

kakak aku juga pakai
kakak aku juga pakai. Doi sih emang niat banget kalau soal maskaraan XD

Dan, maskara The One ini bener-bener waterproof. Seperti yang tadi udah aku bilang, hari ini pakai besoknya masih ada, walaupun udah mandi. Emang agak susah ngilanginnya. Berhubung aku gak punya make up remover, aku ngilangin maskara yang udah nempel di bulumata ini pakai minyak zaitun. Wkwkwk… ya daripada dicabut-cabut gitu malah ngerusak bulu mata ya kan?

So gaes, maskara The One 5-in-1 Wonder Lash Waterproof ini bener-bener recommended banget!! Udah dipakenya gak ribet, tahan lama, terus gak menggumpal, gak bikin bulu mata rusak.

Buruan diserbu sebelum kehabisan! Bulan ini diskon 50% loh, jadi cuma Rp 64.900 aja! Kalau harga normalnya ya 100 ribu lebih. Ah tapi semisal udah gak promo, kamu bisa tetep dapetin maskara ini dengan harga lebih murah, caranya ya… join jadi member Oriflame! Kamu berminat? Kontak aku via email hira.hiraito@gmail.com ya!

Terima kasih~