Kicau Hijab : ~Ceramah dari Sesosok Abah~

Ini adalah postingan dadakan, yang aku tulis karena suatu hal yang benar-benar pingin aku utarakan tanpa nyepam di sosmed karena saking panjangnya.

Jadi gini ya, tadi itu pas pulang kerja part time jam sembilan malem, aku mampir beli obat sebentar, terus di sana aku ketemu sesosok Abah yang biasa ketemu di jalan tiap aku berangkat kerja ke sekolah. Aku ga tau siapa nama beliau, jadi aku panggil sosok “Abah” aja, abisan bentukannya emang ‘abah-abah’ banget, badan agak gemuk dengan jambang dan kumis, dan agak-agak Arab gitu sih kayaknya.

 

Yak. Si Abah ini emang sering nyapa aku di jalan tiap aku pulang dari sekolah. Dan tadi tuh, waktu ketemu aku dia manggil “bu guru”, dia bilang agak pangling karena dia biasa lihat aku pakai kerudung kalau kerja. Ya aku sih bilang aja terang-terangan kalau aku kerja pagi emang pakai kerudung tapi abis selese kerja engga, dan doi sempet kayak dikit kaget gitu, “LHO KENAPA?” sorry pakai capslock biar kesannya heboh.

Terus ya aku jawab aja kalau aku ini emang engga berhijab. Ditanya “kenapa” lagi sama si Abah ya aku jawab aja “Belum siap”. Padahal dulunya sempet berhijab baru setahun setengah, tapi di akhir tahun 2015 aku memutuskan lepas hijab, cuman dia ga tau aja.

 

Mendengar jawaban “belum siap” dari aku, si Abah bilang “Ya dipaksa! Lagipula kalau pakai kerudung kan lebih anggun, lebih dihormati. Wanita itu aurat, mbak! Dan kalau pakai kerudung kan ga akan dijaili sama orang lain, kalau dijailin ya palingan cuma ‘Assalammu’alaikum’, gitu.”

Plis! Aku senyum aja.

Pertama, aku ga setuju sama statemen awalnya. DIPAKSA!! Apakah sesuatu akan berjalan dengan baik jika diawali dengan paksaan? Bah, Abah, aku yang dulu sempat berhijab karena merasa ‘terpanggil’ pun ga bisa istiqomah, apalagi kalau pakai paksaan?

 

Dan si Abah bilang “Lebih anggun”. Maaf ya Bah, bukannya saya menyalahi kodrat sebagai wanita, hanya saja saya merasa kurang nyaman dengan penampilan yang terkesan anggun, saya lebih nyaman dengan gaya berpakaian yang santai, simpel, tapi tetap sopan. Abah pasti sering liat kan, BEBERAPA perempuan berhijab yang tonjolannya kemana-mana? Mereka pakai kerudung loh, tapi apakah itu masih bisa disebut anggun? Dan sopan?

 

“Lebih dihormati”. Mungkin bagi sebagian perempuan berhijab mereka merasakannya. Sayangnya aku justru merasa ga nyaman. Mungkin sebagian besar orang menganggap perempuan berhijab itu [selalu] baik, atau lebih dominan baiknya, tapi bagi aku pribadi, dinilai ‘baik’ oleh orang lain hanya karena mereka liat penampilanku yang waktu itu mungkin masih berhijab itu bikin ga nyaman. Aku lebih suka orang-orang menilai aku dari kepribadian, bukan dari penampilan. Tapi bukan berarti aku bisa seenaknya berpenampilan sebebasku loh ya.

Jadi gini loh, dinilai secara kepribadian bukan berarti cuek bebek sama penampilan. Kepribadian bisa tercermin dari penampilan, tapi penampilan bisa menutupi kepribadian yang sesungguhnya.

Jadi buat apa, dihormati hanya karena penampilan? Lagipula aku ga gila hormat kok. Orang lain akan menghormati kita kalau kita juga menghormati orang lain. Gitu kan?

 

“Ga akan dijaili sama orang lain, kalau dijailin ya palingan cuma ‘Assalammu’alakum’”. BULLSHIT!! AKU PERNAH MENGALAMI YANG LEBIH DARI ITU!!! Sorry pakai capslock. Aku bahkan masih marah banget tiap inget kejadian memuakkan itu. Aku selalu takut tiap ada suara motor yang jalan pelan di belakang aku pas aku lagi di jalan, aku takut lewat di tempat yang bener-bener sepi. Jangan sampai aku merasa takut karena menjadi seorang perempuan. Dan mirisnya, waktu kejadian itu berlangsung, aku MASIH DALAM WUJUD PEREMPUAN BERKERUDUNG!!

Sebenernya sih banyak banget di negeri ini, pengalaman buruk semacam itu yang menimpa perempuan-perempuan berkerudung. Dan setelah mengetahuinya, aku jadi berpikir kalau berhijab itu ga menjamin kita aman dari segala bentuk kejahatan. Maaf, sekali lagi maaf banget, bukan maksud aku menjelek-jelekkan hijab. Aku cuma kurang setuju aja sama statemen si Abah. Karena kenyataannya emang ga selalu sama kayak apa yang si Abah bilang. Ya ga sih?

Kalimat “Assalammu’alaikum” emang baik. Mungkin lebih tepatnya akan baik jika sesuai dengan niatnya.

Ngucapin salam tapi ikhlas engga? Niatnya beneran mendoakan apa cuma buat godain anak orang?

Contoh~

Lagi di jalan.

Cowo : “Assalammu’alaikum…” *sambil senyum sok manis tapi tampangnya mupeng*

Cewe berhijab : “…” *diem aja ngeloyor*

Cowo : “Whuuu!! Sombong!!” *muka sepet*

 

Ikhlas ga ngucapin salamnya?

 

Dulu waktu masih pakai kerudung aku pernah mengalami yang kayak gitu. Dan itu ga satu dua kali. Aku sih bukannya GR atau ke-PD-an.

Aku menamai fenomena itu “Menggodai anak orang secara syar’i”. Jadi ngeluarin kata-kata islami tapi sebenernya pingin direspon sama targetnya. Laki-laki yang baik itu ga asal ceplas ceplos nyapa ke orang yang ga dikenal dengan kalimat apapun.

Laki-laki yang baik adalah mereka yang TIDAK membuat orang lain merasa risih ketika lewat di hadapannya. Jadi ketika ada seorang perempuan berhijab lagi lewat, terus ada cowo ga jelas menyapa dengan kalimat islami PADAHAL ENGGA KENAL, itu bisa dipastikan 99,99% niatnya cuma godain doang!

 

Oh iya, satu lagi yang aku ga setuju dari ‘kata-kata mutiara’nya si Abah.

“Wanita itu aurat!”

Sekali lagi, plis!! Kok kesannya perempuan itu cuma jadi sumber dosa ya? Sumber segala keburukan.

Ok gaes, kita semua lahir dari aurat!! XD

Yak! Wanita itu aurat, harus ditutup, kalau engga ditutup nanti rawan ‘dicaplok’ sama laki-laki. Mungkin konon katanya begitu.

Tapi apakah semua laki-laki seperti itu?? Aku yakin engga!!

Di dunia ini masih banyak laki-laki baik yang jauh lebih pandai menghargai wanita, bukan hanya menilai dari penampilan aja.

BTW aku jadi inget kata-katanya Winna, “Manusia itu memang punya nafsu, tapi nggak semua orang bisa dinafsuin”

 

Makanya aku kurang setuju pas si Abah bilang “Wanita itu aurat”. Kesannya sumber kejahatan banget gitu! Karena pada kenyataannya sekarang, yang udah ditutup pun bisa kena ‘sial’. Jadi tolong jangan limpahkan semua kesalahan ke kaum perempuan aja.

 

Ya sih, sebagai orang beragama Islam, aku tau, kerudung adalah identitas muslimah (walaupun dalam sejarahnya, penutup kepala sejenis kerudung pun pernah dipakai oleh wanita-wanita Yahudi kuno, Biarawati juga mengenakan penutup kepala, bahkan Dewi Kwan-in(?) pun mengenakannya). Tapi gimana ya, pada kenyataannya aku sendiri kurang menemukan kenyamanan.

Pokoknya banyak hal dan beberapa pemikiran yang bikin aku memutuskan buat melepas hijab di akhir tahun lalu. Maksudnya, melepas hijab bukan berarti aku terus pakai pakaian yang ga sopan ya.

Oh iya, FYI nih, kamu tau Najwa ga? Pernah nonton acara talkshow Mata Najwa ga kamu? Najwa Shihab, presenter acara Mata Najwa,  adalah putri dari ulama besar, ahli tafsir, sekaligus mantan menteri Agama, Prof. Dr. Quraish Shihab pun pernah bilang “Berhijab itu baik, tapi tidak berhijab juga tidak apa-apa”. Bagi para hijabers mungkin agak gerah ya mendengar pernyataan itu? Tapi dia pasti punya alasan kuat yang melandasi statemennya. Kalau penasaran, kamu bisa browsing tentang kenapa mbak Najwa ga pakai hijab. Googling sendiri ya!

 

 

 

 

Aku ga mau, dinilai baik sama orang lain hanya karena mereka melihat aku pakai kerudung. Someday mereka akan membenci atau bahkan menjauh ketika mereka tau aku ga sebaik yang mereka kira.

Mereka mungkin memandangku baik, tapi pandangan itu seketika akan lenyap ketika mereka tau aku masih suka ngomongin orang, aku orangnya emosian, tempramen, pendendam.

Dalam balutan pakaian muslim, mungkin mereka akan menilai aku adalah perempuan yang sopan, santun, dan anggun. Tapi mereka akan seketika geleng-geleng kepala sambil mencibir, begitu mereka melihat aku duduk ngangkat satu kaki kayak cowo yang lagi nongkrong dan mendengar aku tertawa terbahak-bahak melepaskan emosi, atau mendengar gema suara beratku ketika aku sedang sendawa.

Aku ga mau dinilai sebagai wanita yang anggun, sementara aku masih suka mengekspresikan perasaan dengan ber-headbang setiap menikmati hentakan di lagu-lagu power metal kesukaanku.

 

Ya gitu lah, Bah!

Karena kehidupan itu… ya seperti yang pernah Denny Sumargo bilang “Bukan bagaimana orang-orang melihat kamu, tapi bagaimana kamu melihat diri kamu sendiri”.

 

Sekian curahan hati aku  yang agak frontal ini.

Mohon diingat, setiap manusia punya hak, termasuk hak untuk menyampaikan ungkapan perasaan. Kamu mau menympaikan ungkapan perasaan di kolom komentar di bawah ini?? Boleh kok XD

Thanks~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s