[fanfic the GazettE] NOSEBAND BERDARAH (chapter 2)

reidah

 

kai

 

rukimin

 

Title                 : NOSEBAND BERDARAH

Chapter           : 2

Genre              : horror ngelawak (lawakan garing)

Author             : Hira Hiraito

 

 

Reita terbangun dari tidur lelapnya dengan masih berselimut baju kepompong.

Sebelum arwahnya bener-bener ngumpul Reita guling-guling dulu di kasur, abis itu garuk-garuk pant- kepala, bersihin belek, baru deh turun dari tempat tidur.

“Hoaaammm~” Reita nguap kelelawar pada keluar dari mulutnya. “Dih, udah jam segini aja? Mandi ah!” pas Reita mau ke kamar mandi, dia berasa ada yang janggal. Diliat-liat, kok kamarnya udah terang ya? Kan Reita belum buka tirai jendela kamar.

“Perasaan semalem gw udah tutup tirai jendela, kok ini ngebuka?”

Ingatan tentang kejadian-kejadian aneh semalam kembali terulang. Tapi Reita ga gitu ambil pusing sih, daripada mikirin yang ga jelas mending sekarang dia siap-siap buat ke sekolah, fans nya pasti udah nunggu depan gerbang.

 

 

Di tengah jalan, Reita yang pikirannya masih disibukkan dengan kejadian-kejadian aneh semalam terus berjalan tanpa menyadari keberadaan sosok makhluk di belakangnya.

 

Tiba-tiba…

 

 

PLAKK!!

 

“Aw!” Reita elus-elus bokong teposnya yang kena teplok geplakan kasur.

“Ahahaha… jalan kaki aja serius amat lo kayak nyetir bajaj?”

“Siyalan lo kutil!! Ngagetin aja! Untung noseband gw ga melorot!” satu geplakan mendarat di kepala Ruki yang ternyata dari tadi udah ngikutin Reita di belakang.

 

Melihat rawut wajah Reita, Ruki merasa Reita sedang memikirkan sesuatu. Belum juga Ruki bertanya “Lo kenapa Tong?” eh, si Reita udah mulai cerita duluan ke Ruki, cerita tentang kejadian-kejadian aneh yang dia alami semalam sampe sepagi tadi.

Saking panjangnya cerita Reita, mereka akhirnya berhenti dulu di warung kopi, kalo ngobrol sambil jalan terus, entar pas udah nyampe sekolah ngobrolnya kepotong sama bell masuk, kan ga asik vroh.

 

Begitu ceritanya abis, Reita sama Ruki lanjut jalan ke sekolah. Kayaknya sih udah telat sekitar 10 menit, tapi ga masalah, Reita bisa pake alesan “Masang noseband dulu!”. Ruki? Ntah.

 

“Jadi, menurut lo apa itu semua ulah makhluk astral?” Reita melirik Ruki yang keliatannya lagi mikir.

“Hmm… bisa jadi sih” mendadak Ruki menghentikan langkahnya “Eh, eh, tunggu! Sebelumnya lo pernah mengalami kejadian mistis ga?”

“Ng… semistis-mistisnya kejadian mistis itu ya ngeliat muke lo. Hahahag…” tawa Reita berhenti setelah dapet selepetan maut dari Ruki.

“Gw nanya serius!!”

“Ok ok, semalem itu emang kayaknya pengalaman mistis pertama gw!”

“Dan itu lo alami setelah lo pake noseband abang lo. Iya kan?”

Reita diam sejenak mendengar pertanyaan Ruki.

“I-iya sih. Terus?”

“Pasti ini ada hubungannya sama noseband itu! Bisa jadi, bang Aoi ga terima, dia belum bisa ikhlas noseband nya dipake sama lo!”

“Ga mungkin! Kak Aoi udah warisin noseband itu ke gw!”

“Emang dia bilang sendiri kalo tu noseband boleh lo pake?”

Reita garuk-garuk kepala Ruki “Eng… dia emang ga bilang sih. Ya gimana mau bilang, orang pas gw tau kabar kecelakaan itu dia udah ga bernyawa.”

“Nah!! Kan? Berarti bang Aoi semalem nyamperin lo buat nagih noseband nya, atau dia ga pingin noseband itu dipake sama orang lain selain dia.”

“Maksud lo? Arwah kak Aoi gentayangan sampe bisa nyamperin gw segala? Lo tau kan, arwah gentayangan itu berarti ga tenang! Dan itu ga mungkin!! Kak Aoi itu udah tenang di alamnya, gw yakin!!” Reita ngomel-ngomel depan muka Ruki sampe muka Ruki basah kena….. keringetan karena abis jalan sambil ngobrol.

“Bu-bukan gitu maksudnya. Gini loh-”

“Diem lo! Kak Aoi itu udah istirahat tenang, ga mungkin dia gentayangan!” tanpa mempedulikan Ruki, Reita ngeloyor begitu saja.

 

 

 

Reita berjalan setengah berlari menuju kelasnya. Walaupun gerbang sekolah sudah ditutup, tapi Reita masih bisa masuk lewat tembok samping sekolah yang biasa dipake buat bolos sekolah.

Ketika Reita menengok ke arah jam tangannya sambil terus berjalan, dia ga sengaja nabrak seseorang di depannya.

Untung tu orang ga jatuh, tapi Reita nya kejengkang.

“Maaf!” ujar Reita sambil berusaha berdiri. Reita yang kejengkang, Reita yang minta maaf.

“…”

Reita terpaku menatap sosok perempuan cantik di hadapannya. Ia membalas tatapan Reita. Mereka pun tatap-tatapan. Ciyeeee~ XD

 

Tubuh tinggi, kulit putih, rambut panjang lurus, mata sayu, dan bentuk bibir yang indah (baca : kriting), Reita belum pernah melihat siswi secantik itu di sekolahnya.

“Daijoubu desu ka?” suaranya lembut dan setengah berbisik.

Reita langsung sadar dari lamunannya yang penuh fantasi (fufufu~ :v) “Da-daijoubu desu. Ng… kamu anak baru ya?” tebak Reita saat melihat seragam yang dikenakan perempuan itu.

Ia hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Reita.

Bukannya ke kelas, Reita malah nawarin bantuan ke perempuan itu buat nunjukkin ruang kepala sekolah. Perempuan cantik itu bilang dia baru mau daftar di sekolah itu.

 

Begitu sampai di ruang kepala sekolah…

 

“Silahkan masuk”

Reita pun masuk menemui Tora dan bilang ada murid baru yang mau daftar.

“Tolong suruh dia masuk!”

Reita keluar sebentar buat manggil calon murid baru. Tapi begitu keluar dari ruangan, Reita ga nemu siapa-siapa di sana. Jadi bingung sendiri Reitanya. Jangan-jangan doi dikerjain. Siyalan~ baru mau daftar aja udah berani ngerjain orang!

“Mana Rei?” tanya pak kepesk kece.

“Tadi dia nunggu di depan. Tapi kok ilang ya?” Reita nyengir polos.

“Ilang? Kamu pikir anak ayam?”

“…”

“Kuwalat kamu ngerjain orang tua! Udah sana balik ke kelas!”

 

Ngekkk~

 

Sebenernya siapa sih yang dikerjain?? -_-

Reita : *ngunyah rumput lapangan*

 

 

 

 

Sampai di depan kelas, Reita berdiri sejenak mempersiapkan mental buat menghadapi Umi-sensei yang dapet jatah jam pertama di kelas Reita.

“Masuk!” perintah Umi-sensei tanpa menoleh ke arah pintu kelas. Padahal itu pintu masih ditutup, tapi Umi-sensei tau kalo di depan sana ada Reita. Haha… ya maklum kan matanya Umi-sensei ada empat, yang sepasang ke mana yang sepasangnya lagi ke mana XD *ga gitu*

 

Mendengar suara dingin Umi-sensei Reita pun masuk ke kelas. Sebelum Reita mengutarakan alasan terlambatnya, Umi-sensei udah nyela “Makanya, pagi-pagi ga usah kebanyakan ngerumpi, jadi telat ke sekolah!”

‘Eh? kok tau?’ Reita cengo. Rencana pake alasan “pasang noseband dulu” gagal.

“Udah sana, duduk!” Umi-sensei ga betah liat Reita lama-lama bediri depan dia.

 

Reita berjalan menuju bangkunya. Ia mendapati Ruki sudah duduk cantik(?) sambil dadah-dadah nyengir di bangku belakangnya. Reita mendengus kesal.

 

“Kesiangan Rei?” tanya Kai pura-pura ga tau.

“Au ah! Kesel banget gw pagi in-” kalimat Reita terhenti ketika kedua matanya menemukan sesosok perempuan cantik yang baru saja ia temui tengah duduk manis di bangku pojok sendirian.

“Rei?”

“Kok dia bisa di sini?”

“Dia? Dia siapa?” Kai ikutan nengok ke bangku yang ditunjuk Reita.

“Dia! Cewe cantik yang di pojokan itu!!”

“Si Watim?” tanya Kai sambil matanya ngelirik ke arah Watim, cewe cupu di kelas yang sering dibully temen-temen.

“Bukan!! Itu tuh… cewe yang duduk di belakangnya si Watim! Yang paling pojok!” Reita gemes.

“Yang paling pojok ya si Watim lah. Terus siapa emang?”

“Ih Kai mah! Mata lo ke mana sih? Apa perlu gw pinjemin kacamatanya Umi-sensei?”

Tau-tau Umi-sensei nyeletuk “Pinjem? Beli donk!”

“Eh?” Reita sama Kai nengok ke arah Umi-sensei barengan. Itu orang, ga mata, ga telinga, semua tajem.

 

“Sensei!” panggil Reita. Bukan buat minjem kacamata, tapi buat nanya “Di kelas ini ada anak baru?”

“Anak baru? Baru masuk kelas karena terlambat, gitu maksudnya?” antara balik nanya sama nyindir ga ada bedanya.

“Yah dia nyindir gw” bisik Reita setengah kesel. “Itu loh, sensei, cewe cantik yang duduk di pojokan, yang seragamnya beda.”

“…” Umi-sensei mengarahkan pandangannya ke bangku pojokan yang ditunnjuk Reita, tapi Umi-sensei malah cuek. Mungkin Reita lelah, gitu pikir Umi-sensei.

 

“Bah! Dia cuek” bisik Reita ke Kai.

“Lo nya aja yang aneh! Orang di sini ga ada anak baru” ujar Kai sambil mengerjakan soal latihan yang baru selesai ditulis sama Umi-sensei.

“Coba liat baik-baik!” tanpa permisi, Reita maksa nengokkin kepala Kai ke bangku belakang “Tuh! Liat—” seketika mulut Reita nganga “Kok ga ada??”

“Apanya yang ga ada? Anak baru? Ya emang ga ada!!” Kai menepis kedua tangan Reita yang masih megangin kepala Kai. Untung leher Kai ga sengklek gara-gara kepalanya diputer paksa sama Reita.

“…” (‘.’)

“Makanya Reita, sebelum ke sekolah itu sarapan dulu. Sarapannya di rumah ya, bukan di warung kopi!” lagi-lagi Umi-sensei nyindir Reita. Reita sendiri heran gimana Umi-sensei bisa tau sejauh itu. Mungkin doi stalker level dewa.

Kali ini gantian Reita yang nyuekkin Umi-sensei. Pikirannya sibuk misuh-misuh ke cewe misterius yang udah dua kali ngerjain dia pagi ini.

‘Tu cewe siapa sih sebenernya?’

 

“Rei??” Kai membulatkan kedua matanya menatap wajah Reita. “Rei! Hidung lo… mimisan?”

“Eh? iya gitu?” Reita menyeka darah yang mengalir dari lubang hidungnya. “Wah, gawat!! Noseband gw bisa ternoda nih!” Reita panik dan langsung minta ijin ke Umi-sensei buat ke toilet.

 

 

Sepanjang jalan menuju toilet, tangan Reita sibuk ngambang-ngambangin noseband biar ga kena darah. Dan dia ngdumel sendirian sampe depan pintu toilet.

Pas mau masuk…

 

JDUGG!!

 

“NJIRRR!!” jidat Reita sampe nyium tembok karena ga merhatiin jalan, pandangannya sibuk ke noseband.

“Kamu ga apa-apa?” suara lembut setengah berbisik itu mengejutkan Reita.

“Heh??” jantung Reita serasa mau loncat begitu ngeliat si ‘anak baru’ tau-tau udah nongol depan pintu toilet.

“Kamu ga apa-apa?” tanya cewe cantik itu sekali lagi, masih dengan pertanyaan dan nada bertanya yang sama.

“…” Reita menggeleng pelan. Ini kali ke dua Reita berhadapan sedekat ini dengannya. Lagi-lagi dia seperti dilumpuhkan oleh kecantikan dan tatapan mata perempuan berbibir keriting itu.

Perempuan yang seperti jelmaan bidadari itu melempar seulas senyum manis sebelum pergi meninggalkan Reita yang mimisannya makin parah karena terseponah.

Pandangan Reita ga bisa lepas dari si ‘anak baru’ sampai dia menghilang di balik koridor sekolah.

Sadar hidungnya banjir, Reita buru-buru masuk ke toilet buat bebersih sebelum nosebandnya bener-bener ternodai.

Tapi begitu masuk toilet, lagi-lagi Reita dibikin bingung. “Tunggu!! Ini kan toilet cowo! Jadi dia salah masuk toilet?”

“Eh, eh, tanya donk! Tadi ada cewe cantik salah masuk ke sini ga?” tanya Reita ke salah satu siswa laki-laki yang abis selese ‘hajatan’.

“Cewe cantik? Ga ada tuh!”

“Soalnya tadi gw liat ada cewe keluar dari toilet ini, dan kebetulan dia anak baru, jadi mungkin dia salah masuk atau…”

“Sebaru-barunya anak baru pasti udah bisa baca tulisan depan pintu toilet” siswa laki-laki itu pun berlalu meninggalkan Reita.

Reita jadi makin bingung sendiri. Bingung dan sebel karena ngerasa dikerjain (atau dibego-begoin?) sama cewe bening yang ga Reita kenal (pinginnya sih ngajak kenalan).

 

 

 

 

“Akhirnya… selese juga. Ngomong-ngomong makan beling ternyata bisa bikin kenyang” Reita kemas-kemas perabotan(?)nya.

Hari ini Reita pulang telat karena ada ekskul balet *bukan!!* eksul kuda lumping maksudnya. Sekolah Reita ini keren loh, ekskulnya penuh dengan kebudayaan dari berbagai negara. Dan kebetulan Reita ikut ekskul kuda lumping, tadinya mau ikut ekskul karapan sapi, cuman sapinya belum beli. Adanya Sapi’i, tetangga Reita.

(sekolah yang begitu cuma ada di ff kayaknya)

 

Kai sama Ruki ga ada jadwal ekskul hari ini, jadi Reita pulang sendirian, biasanya sih nebeng motor Kai, bertiga sama Ruki, Rukinya diselesepin di lubang knalpot *jahat!*

Betewe, selama ekskul tadi Reita udah lupa sama ‘anak baru’ yang bikin Reita kayak orang bego, tapi begitu mau pulang dia jadi keinget lagi. Sumpah, cewe itu ganggu pikiran Reita banget. Anehnya, udah tiga kali Reita ngeliat cewe itu ada di sekolah ini, tapi tadi pagi pas Reita balik dari toilet, cewe itu udah ga ada di kelas. Mungkin bener apa kata Umi-sensei, ‘Sebelum ke sekolah itu sarapan dulu. Sarapannya di rumah, bukan di warung kopi’.

 

Pikiran Reita yang udah mulai positif kembali buyar. Maksud hati memandangi langit sore kali aja ada helikopter lewat, mau minta duit, tapi pandangan Reita malah nyangkut di salah satu kelas di lantai dua.

“Si cantik?!” mata Reita nge-bola(?), mulutnya nganga, untung noseband-nya ga njepat.

Perempuan yang baru saja pergi dari pikiran Reita sekarang malah memancing Reita untuk naik ke lantai dua. Ga mau buang waktu dan saking penasarannya, Reita langsung nyamperin tu cewe.

Reita buru-buru lari takut tu cewe ilang lagi. Sayangnya Reita terlambat. Padahal Reita udah lari secepat kuda (ga pake lumping) tapi begitu nyampe di tempat tujuan, cewe yang Reita panggil ‘si cantik’ itu udah ga ada di sana.

“Siyal!!” umpat Reita sambil nendangin tembok yang ga bersalah.

“Ehm!”

Reita menghentikan aksi tendang-tendangannya begitu mendengar suara deheman dari samping kanannya. Reita menoleh “Kamu?”

“Kamu nyari aku?” makhluk cantik itu mendekati Reita. Seketika Reita engap, ga bisa membendung doki-dokinya. Keindahan itu terlalu menyilaukan bagi Reita.

“Hey!!”

Sontak Reita tersadar dari lamunannya. Lamunan Reita kadang suka ke mana-mana kalo liat yang beningan. Reita menyentuh bawah lubang hidungnya kali aja dia ga sengaja mimisan kayak tadi pagi gara-gara liat si cantik itu.

Tapi untunglah Reita ga mimisan lagi, mungkin stok darah di hidungnya udah abis. Besok beli lagi ya Rei!

 

Reita niatnya mau tanya-tanya dan mengungkapkan betapa Reita penasaran parah sama asal mula kemunculan dan hilangnya tu cewe yang menurut Reita aneh.

Tapi sebelum itu, Reita curi kesempatan buat kenalan dulu.

“Reita. Reita Akira. Lengkapnya Reita Akira-kira Menurut Lo Gw Ganteng Ga?” nama lengkap lo sok iye banget Rei? -_-

Reita mengulurkan tangannya sebagai tanda ngajak kenalan sekalian ngambil kesempatan buat megang tangan cewe bening, pasti tangannya halus sehalus pitak Reita.

Tapi sayang, cewe itu tidak [sudi]*coret* membalas uluran tangan Reita, ia hanya tersenyum lalu menyebutkan namanya “Uruha.”

Tangan kiri Reita menepis tangan kanannya sendiri yang masih terulur. Dia tengsin sebenernya, ngajak salaman malah disenyumin doang. Masih untung ga diludahin Rei! *jahat!*

 

Setelah perkenalan itu Reita mulai menyinggung tentang pertemuan pertamanya dengan Uruha, dimana Uruha dianggap ngerjain Reita karena ngakunya mau ketemu pak kepsek taunya malah ngilang. Reita juga menanyakan tentang kehadiran Uruha di pojokan kelas Reita dan kemunculan Uruha yang secara tiba-tiba di pintu toilet pria. Untung munculnya ga dari lubang WC.

Reita juga tanya kenapa Uruha ga masuk ke kelas Reita lagi setelah mereka bertemu di toilet. Sayangnya semua pertanyaan Reita cuma dijawab pake senyuman, ga ada sepatah kata pun keluar dari bibir bebek Uruha.

“Kamu kok ditanyain kayak Limbad sih? Dieeemmm aja” *ngopas kata-katanya muridku* XD

“Kamu mau tau jawabannya?”

“Mau!!”

“Jawabannya ada di ujung langit. Kalau mau kamu ke sana aja sama teman-teman kamu yang gahol itu!” ternyata Uruha korban Dragon Ball.

Reita cuma bisa ngupil.

 

“Terus kenapa kamu masih di sini?” tanya Reita sekali lagi. Kalo nanti Uruha cuma jawab pake senyum, Reita mau loncat dari lantai dua.

“Aku nungguin kamu.”

Jebreeeetttt!!!

Reita serasa noseband-nya disamber petir. Karunia apa ini?

“A-aku… ga salah denger??” Reita berusaha buat nahan mimisannya. Harusnya noseband Reita dilengkapi lapisan ekstra kering dan anti bocor, biar noseband-nya ga tembus tiap Reita mimisan.

“Ga salah kok. Emang aku lagi nungguin kamu. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat” Uruha bergerak semakin mendekat ke arah Reita.

“K-ke mana?” ga pingin hidungnya jebol karena banjir mimisan, Reita bergerak mundur.

“Kamu mau tau jawaban-jawaban dari pertanyaanmu kan?” seulas senyum tipis terukir di wajah cantik Uruha yang jika diperhatikan, wajahnya perlahan mulai memucat. Harusnya yang pucet itu Reita karena berasa digodain sama cewe cakep.

“Iya, aku mau tau jawabannya.”

“Jadi? Kamu mau ikut aku?” Uruha bergerak semakin dekat sampai Reita bingung mau mundur ke mana lagi, badannya udah mentok nabrak pagar pembatas di lantai dua.

“Ke ujung langit? Kamu bilang jawabannya ada di ujung langit kan? Tapi aku harus panggil teman-temanku yang gahol itu” Reita pura-pura dongo.

Uruha menyeringai “Ayo, ikut aku!!” hampir tidak ada jarak lagi antara Uruha dan Reita.

Tatapan Uruha berubah tajam seperti siap menerkam Reita.

“Uruha, kamu aneh!” tangan Reita memegang pagar pembatas dengan kuat. Padahal Uruha sama sekali tidak menyentuh Reita, tapi Reita merasa seperti ada energi yang mendorong tubuh Reita untuk terus bergerak mundur.

Reita mencoba menghindari tatapan tajam Uruha dengan mengalihkan pandangannya. Ketika pandangan Reita bergerak sedikit turun, Reita terkejut. Ia menemukan kejanggalan di tubuh Uruha.

“Uruha! Kamu berjakun?!” bola mata Reita bergerak ke bawah lagi “Dada kamu rata!!”

“…”

“Kamu cowo??”

“…” Uruha hanya bisa diam menatap Reita.

“Anjirrr!! Jadi dari tadi pagi gw dikerjain sama bences? Dan barusan gw diajakkin bences? SORRY, GW GA MAU IKUT LO!” takut penyakit ‘alergi bences’nya kumat, Reita pun berniat kabur.

Reita menerobos Uruha begitu saja, maksud hati biar Uruha jatuh ngejengkang kayak Reita tadi pagi, tapi Reita malah menahan laju(?) kakinya ketika menyadari bahwa tubuh Uruha ternyata bisa ditembus!!

“Tunggu!!” Reita menoleh ke belakang. Dan…

 

Nihil!

 

Reita tak menemukan siapapun! Uruha menghilang!!

 

 

========= T.B.C =========

 

Makin aneh ya ni ff? XDD

Maaf kalo ada salah-salah. Dan makasih banyak yang masih betah baca ff gaje ini XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s