Niamh and Oisin ~Tír na Nóg~ (The Land of Youth)

Selamat hari ini ^_^

Setelah sebelumnya aku memposting tentang mitologi cinta-cintaannya bangsa Celtic (Naoise & Deirdre), sekarang mau aku posting sesuatu yang semacam itu lagi XD *kalimatnya belepotan*
Masih sama sih, dari Irlandia juga. Biasanya kisah ini dikenal dengan legenda Oisin dan Niamh, atau Niamh the Golden Hair, atau Tír na Nóg (Tear na Noge) yang artinya “The Land of Youth”.
Untuk menemukan referensi cerita ini yang pake bahasa Indonesia, susaaaahhh banget. Aku ga nemu. Nemunya di blog orang-orang bule.
Mungkin cerita cinta-cintaan bangsa Celtic memang ga terkenal di Indonesia.
Ya udah lah, pake nranslit-nranslit dikit ga apa, itung-itung nambah kosa kata bahasa Inggris aku, maklum gaes, aku kan ga jago b.inggris ._.)

Ngerombengnya udahan.
*dehem*

Dalam cerita kuno Irlandia, ada sekumpulan suku yang disebut “Tuatha de Dannan”, yaitu para pengikut dewi Danu. Danu itu nama salah satu dewi dalam kepercayaan orang Irlandia kuno, bukan Danu nama penyakit kulit yang disebabkan jamur, bukan! *itu panu*
Nah, ceritanya, dalam sebuah peperangan generasi terakhir dari Tuatha de Dannan berhasil ditaklukkan oleh musuh. Beberapa dari mereka diijinkan untuk tetap tinggal di Eire (Irlandia). Sebagian lagi ada yang memilih untuk tinggal di bawah bukit yang jarang terjamah oleh penduduk sekitar dan setelah bertahun-tahun mereka menjelma menjadi peri. Peri dalam mitologi Irlandia disebut “Sidhe” (Shee). Aku ga tau persisnya gimana kenapa mereka bisa berubah jadi peri setelah tinggal lama di bawah bukit itu. Apa mungkin bukit itu adalah bukit kutukan? Atau makanan-makanan yang tersedia di sekitar bukit mengandung zat-zat yang bisa bikin mereka jadi peri? Atau… ah, aku berpikir terlalu jauh. Padahal ini cuma mitos XD
Setelah menjadi peri, kemudian mereka hijrah ke sebuah tempat bernama Tír na Nóg, yang terletak di sebuah pulau bagian barat Irlandia. Tempat itu hanya bisa dijangkau dengan berlayar (atau kalau jaman modern sekarang bisa juga dijangkau dengan naik pesawat), jadi bagi yang masih suka naik angkot, bajaj, atau bagi aku yang masih suka nyepedah, rasanya mustahil bisa sampai ke sana. Ya memang mustahil, karena ini CUMI, CUma Mitos.

Hanya sedikit manusia yang bisa main-main ke Tir na Nog. Sebagian besar dari mereka berujung menderita setelah pulang dari Tir na Nog, ya walaupun ada juga yang masih bisa selamat. Mungkin karena tempat itu memang tempat khusus para peri, tempatnya makhluk ghaib, jadi manusia fana emang ga cocok hidup di sana.
Tir na Nog adalah sebuah tempat dimana tidak ada kematian, rasa sakit, kesedihan, penderitaan, bahkan penuaan(?). Semua makhluk yang tinggal di Tir na Nog akan senantiasa awet muda, mereka selalu merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Persis gambaran surga ya?
Mungkin Tir na Nog ini mirip-mirip sama padang Elysium di mitologi Yunani. Tapi ga kayak Valhalla di mitologi Nordik, kalau Valhalla mah ada serem-seremnya.
Walaupun mirip kayak surga, tapi Tir na Nog ini bukan tempatnya orang-orang yang udah mati. “Alam ghaib” gitu mungkin ya lebih tepatnya (‘.’)
Waktu yang berlalu di Tir na Nog berbeda dengan waktu di dunia manusia. Di Tir na Nog, waktu berjalan lebih lambat. Jadi kayak di dunia jin gitu, kalau di dunia jin sehari, di dunia manusia hitungannya udah setahun. Kira-kira begitu.
Sotoy nih author. Berdasarkan pengalaman orang-orang yang dibawa ke ‘dunia lain’ emang begitu. Aku tanya temenku (Nacchii) yang punya kemampuan lebih tentang dunia ghaib juga begitu, waktu di alam sana lebih lama dari waktunya dunia manusia.

Balik lagi ke Tir na Nog.
Memang, ga sembarangan orang bisa mampir ke Tir na Nog dengan gampang. Mereka biasanya main ke sana karena dapet undangan dari peri-peri di sana. Undangan nikahan atau undangan sunatan, ya mana kita tau.

art by Gene Gulmette

Ini terjadi sama Oisin (irish kuno nyebutnya O-Sheen). Oisin menjadi salah satu manusia yang ‘diajak’ salah satu peri untuk tinggal di Tir na Nog.
Ceritanya, Oisin adalah putra dari Fionn, seorang pemimpin prajurit berkuda bernama Fianna.
Oisin dikenal sebagai kesatria pemberani, ganteng, dan jago menaklukkan musuh. Bisa dibilang dia prajurit terbaik di Fianna, juga salah satu prajurit terbaik di Irlandia. Bapaknya sendiri yang bilang begitu.

Suatu ketika, Oisin lagi berburu di hutan, kebetulan hari itu dia ga ada jadwal perang. Lagi asik-asiknya berburu, terus ada gadis cantik datang dengan mengendarai kuda putih, menghampiri Oisin. Oisin sendiri ga nyadar itu cewe kece datangnya dari mana, tau-tau udah di deket dia aja.
Oisin bengong, tersihir sama pesona gadis berambut pirang itu. Seumur-umur Oisin berburu di hutan, baru kali ini dia nemu spesies yang beginian. *hus!* XD
Atau emang dasarnya Oisin ga pernah liat cewe beningan dikit, jadi pas liat tu cewe doi langsung blushing nyampe kuping, bahkan sampe klepek-klepek kayak ikan yang kecantol pancingannya Mancing Mania Mantap.

Gadis itu tersenyum menyapa Oisin. Oisin cengar-cengir disenyumin. Otomatis, mereka berdua saling jatuh cintrong. Oisin yang bawa panahan buat memanah hewan buruan, sekarang berasa lagi memanah hatinya sendiri pake panah asmara. Cieee~
Ciieee~ yang jomblo langsung sirik XD *ngaca*

Setelah perkenalan itu, mereka jadi sering kontek-kontekan lewat telpon, kadang juga BBM-an, umbar kemesraan di sosmed, terus sampe pasang status “berpacaran” di pesbuk. Oh, sorry, they’re not ABG nge-hits kayak jaman sekarang XD
Lagian ceritanya kan jaman kuno, mana ada hempon sama sosmed?
Yah palingan mereka kontek-kontekannya pake kontak batin, kadang pake ilmu teletabis. Maksudnya telepati.

Makin hari mereka makin yakin bahwa mereka berjodoh, sampai pada akhirnya mereka menikah lalu hijrah ke Tir na Nog. Oisin terus pensiun jadi prajurit Fianna. Bapaknya, pak Fionn, mengikhlaskan putra sematawayangnya untuk pergi dan hidup bahagia bersama istrinya.
Eh iya, tapi dari tadi kita belum kenalan sama bininya Oisin ya? Haha… lupa. Sorry, sorry.
Jadi cewe yang mendatangi Oisin waktu itu adalah sosok peri dari Tir na Nog, dia bernama Niamh (irish kuno menyebutnya Neeve). Niamh merupakan putri dari dewa laut, dia memang udah lama menjomblo, jadi dia bela-belain datang ke dunia manusia buat nyari pasangan. Mungkin di Tir na Nog udah kehabisan stok cowo normal. *efek fenomena “bendera pelangi” di facebook* -_-“)

Oisin dan Niamh lalu pergi menuju Tir na Nog dengan mengendarai kuda putih milik Niamh bernama Embarr. Embarr merupakan kuda ajaib asli Tir na Nog, dia bisa berlari cepat melewati permukaan air. Embarr memang ga punya sayap, tapi dia bisa menyeberangi lautan, di mana lautan merupakan jalan utama untuk menuju Tir na Nog.

tir_na_nog__niamh_of_the_golden_hair_by_ralphhorsley

Oisin lalu hidup bahagia bersama Niamh di Tir na Nog, negerinya para peri. Tapi cerita belum selesai.

Setahun berlalu sejak Oisin dan Niamh menjadi pasangan suami istri. Mendadak Oisin merasakan kangen yang bertumpuk pada keluarga, sanak saudara, teman-teman seperjuangan, juga pada kampung halamannya.
“Bapak sama emak gimana ya kabarnya?” sore itu Oisin melamun di tepi sungai dekat istananya. Ga pingin dicap ‘anak durhaka’ karena udah lama nyuekkin orang tua, Oisin pun meminta izin pada Niamh untuk berkunjung ke kampung halamannya menemui kedua orang tuanya. Tadinya Niamh sempat ga ngijinin karena takut pulangnya nyasar *ga gitu!* maksudnya takut ga bisa pulang lagi ke Tir na Nog, tapi melihat Oisin yang kayaknya udah kangen berat sama orang tua dan kampung halamannya, akhirnya Niamh luluh juga.
Niamh mengizinkan Oisin pergi mengunjungi dunia manusia untuk bertemu dengan orang-orang tercintanya, Niamh membawakan kuda ajaib sebagai ‘kendaraan’ Oisin untuk menyeberangi lautan. Mau pake kapal ntar nyampenya lama, mending pake kuda ajaib, bisa ngebut ga pake macet, ga pake kena tilang.
Tapi sebelum Oisin meninggalkan Tir na Nog untuk sementara waktu, Niamh memperingatkan Oisin untuk tidak turun dari kuda itu dan menginjak tanah dunia fana. Jika itu terjadi, Oisin tidak akan bisa kembali ke Tir na Nog.
“Oke lah kalo begitu” Oisin pun menyanggupinya.
Setelah cipika cipiki cidat (cium jidat), Oisin lalu pergi meninggalkan Tir na Nog dengan mengendarai kuda ajaib.

Sesampainya di tempat tujuan, Oisin terkejut melihat sekelilingnya. Ini bukan kampung halamannya! Tapi… Oisin ga mungkin lupa jalan pulang. Ini tanah kelahiran Oisin, tempat Oisin tumbuh dewasa! Oisin yakin banget! Tapi kenapa jadi berubah drastis gini? Kenapa rumah-rumah penduduk jadi kompakan pada direhab begini? Apa setahun lalu ada hujan duit di kampungnya Oisin?
Terus ke mana rumah Oisin? Kemana para prajurit Fianna? Kemana ayah dan ibunya?
Orang-orang di sekeliling Oisin memandangi Oisin dengan tatapan aneh. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak Oisin mengerti. Wajah orang-orang itu juga terlihat sangat asing bagi Oisin, tidak ada yang dia kenal sama sekali. Tidak ada teman-temannya di antara kerumunan orang-orang itu. Pakaian yang mereka kenakan pun jauh berbeda dengan pakaian Oisin dan teman-teman Oisin.
“Apa yang sudah terjadi?” tanya Oisin pada rumput yang bergoyang. Itu si rumput ditanyain bukannya ngejawab malah goyang-goyang terus.

Setelah merenung sebentar, Oisin baru ingat bahwa selama ini dia hidup di Tir na Nog, the Land of Youth, jadi mau sampe kapanpun, Oisin akan tetap utuh seperti itu, sementara manusia yang hidup di dunia fana akan bertambah tua seiring berjalannya waktu. Tapi Oisin baru setahun tinggal di Tir na Nog!!
Waktu yang berlalu di Tir na Nog berbeda dengan waktu di dunia manusia. Waktu di Tir na Nog berjalan jauh lebih lambat. Jadi walaupun Oisin merasa baru satu tahun meninggalkan dunia manusia dan tinggal di Tir na Nog, tapi menurut perhitungan waktu di dunia manusia, Oisin telah pergi selama 300 tahun lebih.
“Huwalaaaa… pantesan!” menyadari hal itu, Oisin jadi sedih. Berarti semenjak dia nikah sama Niamh dan tinggal di Tir na Nog, sejak itu sampai generasinya habis, dia ga pernah balik lagi untuk menemui orang tuanya.

Ya udah, buat apalagi Oisin berlama-lama di kampung halamannya yang sekarang udah berubah drastis? Siapa yang mau dia temui? Semuanya udah lenyap dimakan zaman.
Akhirnya Oisin memutuskan untuk segera kembali ke Tir na Nog.
Tadinya mau mampir makan di restoran bentar, kan jaman dulu doi belum pernah ngerasain gimana rasanya makan di restoran mewah. Abis itu niatnya mau jalan-jalan ke mall, beli oleh-oleh buat Niamh, siapa tau ada diskon, kan lumayan.
Tapi Oisin langsung ingat pada sang istri yang berpesan pada Oisin untuk tidak turun dari kudanya dan menyentuh tanah dunia manusia.
Yah…
Rencana makan di restoran mewah sama shopping di mall gagal deh.
Ya udah lah, daripada ga bisa balik lagi ke Tir na Nog.

Oisin lalu kembali memacu kudanya untuk pulang ke Tir na Nog.
Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pekerja laki-laki yang sedang mengangkut batu-batu besar.
Itu orang kayaknya kesusahan, mungkin doi encok. Oisin lalu nyamperin laki-laki paruh baya itu, niatnya mau bantuin dengan cara ngasih obat Neo Remasil biar encoknya ilang. Bukan, bukan gitu deng!
Oisin nyamperin laki-laki itu buat bantuin dia ngangkut batu, maksudnya dibawain Oisin gitu biar ga rempong.

Oisin membungkukkan badan waktu mau ambil batu itu, tapi tau-tau dia kepleset dari kudanya, terus nyusruk jatuh ke tanah. Mana jatuhnya pas di becekan. Waduh.. pasti abis ini kena kadas kurap dianya.
Hal mengejutkan pun terjadi. Oisin sang pemuda tampan bertubuh kekar seketika menjelma menjadi lelaki tua renta dan buta.
Tubuh kekarnya berubah kisut(?) dan melengkung. *ya kali janur kuning, melengkung*
Wajah tampan yang dipuja-puja kini penuh dengan kerutan, sampe ga bisa dibedain mana pipi mana kening.
Suaranya yang nge-gelogor khas cowo macho sekarang nyaris tak terdengar, hanya melontarkan rintihan tak bermakna.
Kedua kaki yang dulu senantiasa berlari cepat, saat ini bahkan tak sanggup untuk menopang tubuh kurusnya sendiri.
Rambut hitam yang menjadi mahkotanya, sekarang warnanya luntur, berubah jadi putih semua, kusut, bahkan tinggal tersisa beberapa helai.

Laki-laki yang menyaksikan revolusi(?) Oisin di depan matanya sontak berlari. Mungkin dia mau koar-koar ke penduduk. Biasanya kalau ada kejadian aneh-aneh begitu kan pasti langsung heboh terus ntar dipoto-poto, diaplod di sosmed, atau divideoin terus masukkin yutup. Ya kali.

Namun, tak berapa lama, Oisin tua yang buta semakin tak kuat. Ia sudah terlalu tua untuk menghirup udara di dunia ini.
Oisin pun mati dalam kondisi memprihatinkan.

-TAMAT-
Dan Niamh pun menjanda.

Ok, makasih yang udah mampir.
Maaf ya kalau ada salah-salah ^_^)

Advertisements

2 thoughts on “Niamh and Oisin ~Tír na Nóg~ (The Land of Youth)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s