RIYA Merusak Nilai Ibadah

Gaes, kalian pernah ga, nemu status di facebook yang semacam :
“Sholat dulu ah, biar adem”
“Tidur lebih awal ah, biar nanti sholat tahajjudnya ga ngantuk2 amat” (misalnya)
Atau status-status yang menunjukkan kegiatan ibadah kita.

Sosial media semacam facebook, twitter, atau yang lainnya memang diciptakan salah satunya untuk meng-share atau berbagi cerita tentang kehidupan kita. Tapi tentunya kita paham, bahwa tidak semua kehidupan pribadi kita itu baik untuk di-share ke publik, sekalipun itu hal-hal positif. Termasuk ibadah. Sadar atau engga, ketika kita mengumbar kebaikan (ibadah) yang kita lakukan, dalam hati kecil BIASANYA ada perasaan ingin dipuji oleh orang lain, atau minimal terlihat baik di mata orang lain. Oke, mungkin engga semuanya, tapi kebanyakan.
“Aku engga ada niat sombong atau riya kok”
“Aku ga bermaksud pingin dipuji kok”
Ya silahkan meyakinkan diri atau berusaha menampik perasaan itu dengan kata-kata di atas, tapi ketahuilah, sesungguhnya Tuhan jauh lebih tau tentang hati kita dibanding kita sendiri.

Mau cerita nih,
Aku punya 3 akun facebook, yang satu khusus buat jejepangan, nge-fangirl, dan nge-gaje. Akun satunya aku pakai buat berkomunikasi sama teman-teman dunia nyata atau saudara. Terus satunya lagi akun RP *ga penting* XD
Nah, di akun yang isinya teman-teman nyata (teman-teman non-jejepangan) aku sering liat status teman di akun fb itu yang meng-share kegiatan sholatnya.
Aku ini kan termasuk kaum pegadang, alias pelaku begadang, jadi aku suka online pake akun mana aja di jam-jam tengah malam.
Terus pernah suatu malam, aku melihat status seseorang yang akan melaksanakan sholat tahajjud. Pas baca status itu, aku langsung yang “Wah, ni orang apa-apaan sih?”
Ya aku heran aja. Tujuan dia mengumbar niat sholat tahajjudnya ke facebook itu apa? Biar dikatain anak sholeh? Atau mungkin dia jomblowan terus kali aja ada jomblowati lagi online tengah malem terus liat status dia dan memandang bahwa dia anak baik karena mendirikan sholat tahajjud, kemudian si jomblowati itu jatuh cintrong? *author berpikir terlalu dalam dan jauh* :v
Oke mungkin aku sudah berpikiran negatif tentang penyetatus itu. Tapi mengumbar kegiatan ibadah apalagi yang hubungannya antara diri kita dengan Tuhan itu sebaiknya cukup kita dan Tuhan saja yang tau. Teman facebook dan tukang bajaj ga perlu tau tentang itu.
Dan lagi, bukankah kesombongan meski sekecil atom dan sikap riya itu bisa merusak nilai ibadah kita di mata Allah?
Niatnya baik, mau sholat tahajjud, mau sholat dhuha, mau sholat wajib, tapi kalau nilai kebaikan itu harus rusak karena riya yang nyelip di dalam hati kita, gimana dong?

Contoh lagi nih.
“Aku ikut senang melihat ibu tersenyum ketika menerima uang 200 juta hasil jerih payahku”
Vroh, ngasih uang ke orang tua itu kan termasuk sedekah. Apa ga sebaiknya biar malaikat aja yang nyatet kebaikan itu daripada kamu yang nyatet sendiri di tembok facebook atau twitter?

Ayah aku, laki-laki yang paling aku sayangi di dunia ini, beliau pernah berkata “Jika kamu melakukan suatu kebaikan, lakukanlah dengan ikhlas, dengan tidak mengingat-ingatnya lagi. Sama seperti ketika kamu buang air besar, begitu ‘tabungan’mu nyemplung ke WC atau ke kali kalau kamu BAB di jamban, kamu pasti mengikhlaskannya kan? Dan kamu tidak akan mengingat-ingat bagaimana wujud ‘tabungan’mu yang sudah nyemplung ke WC tadi”.
“Ea ea lah pak, kan namanya juga BAB, mana ada orang BAB terus ga rela ‘tabungan’nya nyemplung WC?” -_-
“Nah! Melakukan kebaikan pun harusnya seperti itu”.

Ya aku sih engga bermaksud menyalahkan status-status semacam itu atau menganggap sombong atau riya. Seterah yang punya akun pesbuk / twitter sih, suka-suka dia mau nyetatus apa. Tapi apa engga sayang-sayang kalau nilai ibadah kita rusak hanya karena status facebook atau twitter? 🙂

“Aku ga maksud riya kok, aku kan cuma mengajak teman-teman untuk mendirikan sholat berjamaah!”
Vroh, aku yakin banget, rumah teman-teman facebook kamu dekat dengan masjid atau mushola, mereka pasti mendengar kumandang adzan. Dan aku pikir, mendengar adzan itu lebih efektif untuk menggerakkan langkah mereka ke mushola daripada membaca status fb-mu.

Kita semua tentunya tau, yang berhak menentukan besar kecilnya pahala atas kebaikan atau ibadah yang telah kita lakukan itu hanyalah Tuhan kita. Dia-lah yang sepenuhnya tau bagaimana kita melakukan suatu kebaikan, apa yang terselip dalam hati kita, jadi hanya Dia yang berhak menilai ibadah kita, bukan pacar, bukan gebetan, apalagi author yang tidak berilmu ini.
Tetapi kembali lagi, “kita tidak tau pasti apa yang sebenarnya tersimpan dalam hati kecil kita”, untuk itu, melakukan hal-hal yang dikhawatirkan akan merusak nilai kebaikan kita sebaiknya dihindari, kalau memang niat ibadahnya untuk mengharap ridhonya Allah.
Tapi kalau memang kita melakukan kebaikan demi mendapat perhatian gebetan, ya silahkan saja, itu hak masing-masing kok, cuman hal-hal yang semacam itu hanyalah sia-sia.

Hah, yasudahlah. Kita sama-sama introspeksi diri. Aku manusia yang punya banyak dosa, mungkin tanpa sadar aku juga pernah merasa sombong atau merasa lebih baik dari yang lain. Mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari kesombongan dan sifat riya yang hanya akan merugikan kita.
Sekian. Terima kasih, dan mohon maaf kalau ada salah-salah kata.
Mohon koreksinya pak, bu (‘_’)v

Wassalammetalikum! XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s