Orpheus dan Eurydice

Satu lagi tokoh mitologi Yunani yang jadi favoritku. Orpheus, sang musisi handal yang kehidupannya berakhir dengan sad ending. Bukan sad lagi, tapi tragis, tragis ending X’D

Orpheus anak dari dewa sungai (Oiagros) dan ibunya adalah muse bernama Kalliope (muse itu musisi dalam mitologi Yunani, tapi wujudnya semacam peri). Tapi ada versi lain yang menyebutkan Orpheus anak dari raja Thrace dan muse. Terserah mau ikut versi yang mana.

Sebelum masuk ke cerita romance-nya, ada uraian singkat tentang “kegunaan Orpheus” XD
Wkwkwk… kegunaan, bahasanya apa banget.

Di mitologi Yunani kuno ada satu cerita yang diberi judul “Pencarian Bulu Domba Emas”. Beberapa tokoh di dalamnya : Jason, Hercules, Atalanta, Orpheus, Castor dan Pollux, terus siapa lagi ya aku lupa, pokoknya di situ ada Orpheus nya.
Orpheus punya peran yang cukup berguna dalam misi itu. Pasti, ga lepas dari unsur musiknya.
Musik Orpheus bisa menciptakan kedamaian, jadi waktu ada beberapa awak kapal yang sempat berantem, Orpheus mainin musiknya, dan amarah pun reda. Wah ajaib sekali ya musik Orpheus itu. Mungkin bisa tuh, kalo pas lagi diomelin emak terus nge-play musiknya Orpheus, emak pasti berhenti ngomel-ngomel XD *ditoyor*

Dalam mitologi Yunani, ada makhluk laut bernama Siren. Para Siren itu suka sekali mengganggu para penumpang kapal yang berlayar. Mereka mengganggu para awak kapal dengan suara merdunya, suara merdu yang mengantarkan para awak kapal menuju maut.
Seringkali kapal-kapal itu karam karena nahkoda dan seluruh awak kapalnya terpesona dengan ‘rayuan’ merdu para Siren. Dan yang tersisa hanyalah tengkorak-tengkorak awak kapal itu.

Tapi takdir buruk itu tidak berlaku untuk para awak kapal Argo yang sedang menjalankan misi. Ketika para Siren mencoba mengganggu rombongan Argo, Orpheus langsung memainkan musiknya dan mengalahkan suara merdu para Siren. Mereka lalu selamat dari ancaman Siren.
Haha… lumayan kan, Orpheus berguna juga XD

Kisah Orpheus dan Argonaut itu cuma dikisahkan sama Apollonius, penyair Yunani yang hidup sekitar abad ke-3.
Kalo cerita cinta-cintaannya ditulis sama Ovid dan Virgil, penyair Roma.

Oke, sekarang kita ke cerita cinta-cintaannya Orpheus. Uhuk! Sumpah ini drama banget :v

Di pedalaman hutan belantara di Thracian
Dengan liranya, Orpheus memimpin pohon-pohon,
Memimpin binatang-binatang buas
Dikisahkan, Orpheus sang musisi handal (bahkan konon kemampuan bermusiknya mengalahkan Apollo), jatuh cinta dengan seorang peri hutan bernama Eurydice.
Mereka bertemu di hutan. Orpheus terpana melihat kecantikan Eurydice dan keindahan tariannya. Eurydice terkesan dengan ketampanan dan permainan musik Orpheus. Mereka pun jadian. Dih, “jadian”, bahasanya abege banget XD
Pokoknya Orpheus sama Eurydice itu udah pasangan yang serasi lah. Orpheusnya jago mainin musik, Eurydice nya jago nari.

by Jean-Louis Ducis, 1826
by Jean-Louis Ducis, 1826

Baru berapa hari mereka jadian, tapi takdir merenggut kebahagiaan mereka.
Hari itu, Orpheus dan Eurydice tengah menikmati kebersamaan mereka di hutan. Seperti biasa, Orpheus memainkan musik sambil bernyanyi, sementara Eurydice memanjakan Orpheus dengan tarian indahnya. Kata Orpheus, cuma tarian Eurydice yang paling pas buat mengiringi musik Orpheus. Ah, gombal XD
Tari striptis bukan tuh? *plakk!!*

Ketika Eurydice sedang asik menari, dia tidak sadar menginjak ekor ular di semak-semak. Ular itu menggigit kaki Eurydice. Eurydice pun terjatuh.
Orpheus berusaha menolong Eurydice, tapi sayangnya terlambat. Jiwa Eurydice telah pergi ke dunia bawah menghadap Hades.

Orpheus tak pernah menyangka, kekasih yang sangat dicintainya pergi terlalu cepat. Kebahagiaan singkat menyisakan duka yang begitu mendalam bagi Orpheus.
Rasa cintanya terhadap Eurydice yang tak bisa diukur dengan apapun membuatnya nekat melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan oleh manusia.
Orpheus berniat pergi ke dunia bawah untuk meminta jiwa Eurydice kembali.

Dengan laguku,
Aku akan membuat putri Demeter (Persephone) terpesona
Aku akan membuat Raja Kematian terpesona
Menyentuh hati mereka dengan nyanyianku
Aku akan membawanya kembali dari Hades

Setiap orang yang mendengar kenekatan Orpheus pasti melarangnya untuk melakukan itu. Bahkan Hermes, dewa pembawa pesan, telah melarang keras sang musisi handal itu untuk pergi ke dunia bawah yang mengerikan. Sebijak apapun kata-kata Hermes untuk menguatkan Orpheus tak dapat meruntuhkan sedikitpun tekad kuat Orpheus.
Ia tetap pergi menuju dunia bawah.

Manusia berjiwa yang memasuki dunia bawah pasti disambut oleh roh-roh pucat yang terlihat ‘lapar’ sehingga tangan-tangan itu berusaha meraih yang hidup, tapi tak pernah bisa tergapai karena bagaimanapun mereka hanyalah roh-roh yang tak dapat disentuh oleh manusia fana.
Namun kali ini berbeda. Ketika Orpheus mulai memasuki gerbang dunia bawah, ia memainkan liranya dengan indah sehingga mampu membius roh-roh penghuni Hades.
Orpheus terus berjalan dengan tenang, sementara roh-roh itu hanya terpaku memandangi Orpheus, terbius oleh keindahan musik Orpheus.
Hingga Orpheus sampai di tepi sungai Acheron (sungai ratapan), ia menghentikan permainan liranya. Kemudian datanglah Charon sang pengantar nyawa menuju ‘pengadilan’ Hades dengan perahunya.
Orpheus mengutarakan niatnya untuk mengambil kekasihnya kembali. Tapi sayang sekali vroh, bukannya bantu anterin, si mang Charon malah ngomel-ngomelin Orpheus, nyuruh dia balik. Katanya manusia fana ga pantes ada di dunianya Hades. Dunianya Hades itu cuma punyanya orang mati. “Kalo mau ke istana Hades, nanti, tunggu kamu mati dulu, pasti aku anterin!” gitu kata mang Charon.
Sebenernya Charon bisa aja sih nganterin siapa aja ke istananya Hades, asalkan bayar! Yak! Jadi slogan “Ga ada yang gratis” itu ga cuma berlaku di dunia manusia aja, tapi di dunianya Hades juga begitu.
Ah, sayangnya waktu itu Orpheus ga bawa duit, jadi dia ga bisa bayar ke Charon. Ya udah kan Charon ngeloyor aja ninggalin Orpheus.
Tapi pas mang Charon mulai dayung perahunya, Orpheus lagi-lagi mainin musik.

Gerakan dayung Charon semakin lambat hingga akhirnya perahu itu berhenti. Sekali lagi, Orpheus meminta Charon untuk mengantarkannya menuju istana Hades. Charon yang hatinya meleleh karena alunan lira Orpheus bersedia mengantarkan Orpheus.
Supaya Charon tetap ‘melunak’, Orpheus terus memainkan liranya sepanjang ia menyeberangi sungai. Ciieee yang ngamen gratis :v
Seluruh penghuni dunia bawah terkesan dengan musik indah itu. Dunia bawah menjadi hening. Roda milik Ioxion berhenti berputar, Tantalus melupakan rasa hausnya, dan untuk pertama kalinya, Erinyes (dewi Kemarahan) menitikkan air mata.

Sampailah Orpheus di depan gerbang istana Hades. Cerberus, anjing buas berkepala tiga penjaga istana sudah bersiap menyerang Orpheus, tapi dengan kekuatan musik Orpheus, anjing itu menjadi jinak dan Orpheus dengan mudahnya memasuki istana Hades.
Ia pun menemui Penguasa dunia bawah dan sang permaisuri, menyampaikan maksud kedatangannya melalu sebuah nyanyian indah…
Oh Dewa yang menguasai dunia kegelapan dan dunia yang hening
Semua yang dilahirkan wanita harus menghadapmu
Segala hal yang menyenangkan akhirnya harus pergi ke tempatmu
Kau selalu membayar hutangmu
Beberapa waktu yang lalu kami berbahagia di bumi
Kemudian kami menjadi milikmu untuk selamanya
Namun aku mencari seseorang yang datang kepadamu terlalu cepat
Seperti kuncup bunga yang dipetik sebelum ia mekar
Aku mencoba menahan beban ini,
Aku tak bisa menahannya
Dewa Cinta begitu kuat.
Oh raja, kau tau, jika cerita lama itu benar, bagaimana dahulu kala bunga-bunga melihat Persephone diperkosa
Kemudian menenun kembali untuk Eurydice
Bentuk kehidupan yang diambil dari alat tenun
Terlalu cepat.
Dengarlah, aku ingin memohon sesuatu,
Hanya jika kau berkenan meminjamiku, bukan memberi Eurydice.
Ia akan kembali menjadi milikmu lagi setelah masanya habis.
Tidak ada yang menyangkal kalimat Orpheus
Yang membuat pipi Hades basah dengan air mata
Dan membuat Neraka memberi apa yang dicari Cinta.
(syair / nyanyian itu aku ambil dari bukunya Edith Hamilton)

Hades dan Persephone yang luluh segera memanggil Eurydice dan memberikannya pada Orpheus, tapi dengan satu syarat!
Orpheus tidak diperbolehkan untuk menengok ke belakang selama Eurydice berjalan di belakangnya sampai mereka keluar dari gerbang dunia bawah.
Orpheus menyanggupinya.

Ia lalu berjalan keluar dari istana Hades, sementara Eurydice berjalan di belakangnya. Mereka berdua berjalan melewati sebuah jalan yang membawa mereka keluar dari dunia kegelapan menuju bumi.
Betapa bahagianya Orpheus. Kekasih tercintanya akan kembali padanya, meski untuk sementara waktu.

Mereka hampir sampai di gerbang bumi. Kegelapan perlahan menjadi kelabu lalu berubah terang setelah Orpheus menginjakkan kakinya di bumi.
Orpheus sudah tidak sabar untuk merengkuh Eurydice ke dalam pelukannya. Ia lalu menoleh ke belakang. Senyum kebahagiaan terukir ketika ia melihat wajah sang kekasih.
“Eurydice…” tangan Orpheus meraih Eurydice, namun tak tergapai.
Sebagian tubuh Eurydice masih berada di lubang kegelapan dunia bawah, sehingga ia masih dalam wujud arwah. Eurydice belum menginjakkan kaki ke bumi seperti Orpheus.
Eurydice perlahan semakin menjauh. Dengan wajah sedih dan menyesal, ia berkata “Kau telah melanggar syarat itu, Orpheus. Kenapa? Apa karena rasa cintamu yang begitu besar, atau karena keraguanmu?”
“Eurydice!!” Orpheus tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Eurydice terus menjauh. Bayang-bayangnya semakin terlihat samar. Orpheus berusaha menggapai Eurydice, tapi percuma. Kekasihnya itu kini kembali lagi ke dunia Hades.
“Selamat tinggal, Orpheus~”

Orpheus benar-benar menyesal. Harusnya ia bisa lebih bersabar untuk menunggu Eurydice benar-benar keluar dari dunia bawah dan berada sepenuhnya di bumi. Tapi semuanya telah terjadi. Orpheus tak dapat meminjam Eurydice kembali untuk kali kedua.
Ia hanya menangis dan mencoba menerima takdir menyakitkan itu.

orpheus

Orpheus terus bersedih dan tak dapat menghentikan lagu dukanya. Dalam perjalanannya, ia sampai di sebuah hutan yang tengah mengadakan festival untuk memuja Dionysus.
Dalam festival itu, Maenad (para wanita sadis pengikut Dionysus) meminta Orpheus untuk menyanyikan kidung pujian untuk sang Dewa Anggur, tapi Orpheus menolak karena hatinya masih dirundung kesedihan, dan ini bukan saat yang tepat untuk menyanyikan lagu kegembiraan.
Para Maenad itu pun marah, mereka menganggap Orpheus tidak menghargai dewa pujaan mereka. Dan wanita-wanita beringas itu membunuh Orpheus dengan mencabik-cabik tubuhnya yang tak berdaya.
Orpheus pun mati. Para Maenad membuang kepala Orpheus ke sungai Hebrus. Sementara bibir Orpheus masih memanggil-manggil nama orang tercintanya.
Para Muse mengumpulkan bagian-bagian tubuh Orpheus lalu memakamkannya dengan layak di kaki gunung Olympus.
Dan lira Orpheus? Alat musik yang menjadi sahabat setia Orpheus semasa hidupnya, hanyut bersama aliran sungai menuju laut. Ketika lira Orpheus terdampar di tepi pantai, ia masih menghasilkan nada-nada indah yang biasa dimainkan oleh Orpheus. Dan untuk mengenang sang musisi, Zeus menempatkan lira Orpheus di langit yang akhirnya menjadi rasi bintang Lyra.

Sementara Orpheus yang telah mati, jiwanya pergi menuju Hades, menyusul Eurydice.
Di sana mereka kembali dipertemukan. Meski tak seindah di bumi, tapi mereka bisa merasakan kebahagiaan karena cinta yang tak pernah padam. *duh bahasanya so drama* :v

Uhuk uhuk!
Begitu vroh ceritanya.
Biasa aja yak??
Tapi aku pas pertama kali baca cerita itu sempet ikutan sedih X’D
Memang ya, antara rasa cinta yang begitu besar dengan rasa keragu-raguan itu bedanya tipis. Ah, ngomong apa lo mblo? Pacaran aja kagak pernah, sok-sokan ngomong soal “cintah” :v *dikeplak readers*

Oke deh, gitu doang. Makasih yang udah mampir. Maaf kalo ada salah-salah XD

Advertisements

One thought on “Orpheus dan Eurydice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s