the Gazette fanfic _ RAMAYANA (last chapter)

Title        : Ramayana Abal-abal

Chapter    : 4

Pairing        : AoixUruha, ReitaxUruha

Genre        : romance, fantasy, gaje, amburegul

Author        : Leo Senri Vieleofitria Rizky feat. Hira Hiraito *ciiee ff kolab ciieee*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Rukiman yang masih dalam wujud Kimin si monyet kini sudah berada di dalam kamar Reitahwana. Ga usah ditanya gimana caranya dia bisa masuk.

Dilihatnya raja tampan itu tengah tertidur ngebo. Si Kimin ngeliatnya ga bisa biasa aja, dia ngeliatnya pake napsu sih, jadi walopun masih ngebo Reitahwana tetap terlihat menggoda di mata Kimin.

Dengan berhati-hati, Kimin mendekati Reitahwana. Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah noseband buluk tempat persembunyian hidung Reitahwana. Kimin heran, seorang raja semacam Reitahwana mau-maunya pake noseband buluk yang leceknya ngalahin muka Suzuki Akira kalo abis bangun tidur. Itu loh, Suzuki Akira, tetangga Rukiman yang suka ngutang di warung kopi terus bayarnya cuma kalo inget doank.

Ah, tapi sudahlah, tabir noseband buluk itu bukan tujuan utama Rukiman.

‘Kenapa yang menculik Dewi Shinta harus orang sepertimu?’ Kimin tak menemukan aura kejahatan sedikit pun dari wajah damai Reitahwana. Ia yakin, Reitahwana bukanlah 100% murni orang jahat. Namun, bagaimanapun dia telah menculik Dewi Shinta, memisahkannya dengan Rama dan kedua orang tuanya. Dan itu termasuk tindak kriminal.

“Maafkan aku, Reitahwana… aku melakukan ini bukan karena kau telah memberi harapan palsu tentang kebon pisangmu itu, tapi… ini demi kebahagiaan Rama sahabatku dan demi Mantili. Maafkan aku…”

~(._.)~ ~(._.)~ ~(._.)~ ~(._.)~ ~(._.)~ ~(._.)~

Rama kembali ke kerajaan Mantili dengan mengendarai kuda putih kembarannya Shadowfax *aw aw*

Padahal pas itu Rama sama Rukiman pergi ke Alayka naik capung ajaib yak? Tapi pulangnya bisa naik kuda putih itu sumbernya dari mana? *mikirkeras*

Sepanjang perjalanan, Rama sempat BBM-in patih Kai, ngasihtau kalo Shinta udah ketemu dan Rama pulang menggondol Shinta sekarang.

Patih Kai menyebarluaskan isi BBM Rama ke seluruh penjuru kerajaan, kecuali ke Prabu Tora yang sampe sekarang belum punya hempon juga. Untung Dewi Sagawati tidak secuek dan semalas suaminya dalam hal gadget dan sosmed-sosmedan.

Jadilah seluruh penghuni kerajaan menyambut kedatangan Shinta pagi itu.

Maklum Pak, jarak Alayka sama Mantili jauhan, ditambah Rama sama Shinta melepas kangen dulu, udah aja mereka berangkat tengah malem nyampenya pagi.

“Shintaaaaa~” Dewi Sagawati tak kuasa menahan kerinduan yang bertumpuk melebihi tumpukan sampah di Bantar Gebang. Ia memeluk erat putri sematawayangnya dengan berhamburan air mata. Duh, air matanya lebay banget ampe berhamburan udah kayak beras.

Selesai peluk-pelukan sama mamihnya, gantian, giliran si romo yang minta dapet jatah peluk.

“Syukurlah kau sudah kembali, Shinta.”

Adegan haru-haruan pun berlangsung cukup lama. Sementara Rama tersenyum lega di pojokan deket kolam ikan, ‘Syukurlah, aku tidak jadi dipecat jadi mantu’ :’)

Di puncak sebuah pohon beringin, Rukiman masih betah memandangi ‘hasil kerja’nya. Semalam, dengan berat hati Rukiman membumihanguskan kerajaan Alayka, memusnahkan seluruh penghuni kerajaan (kecuali yang berhasil menyelamatkan diri) termasuk Reitahwana yang ketika itu tengah tertidur.

Rukiman tau, mungkin sekarang di alam berbeda Reitahwana sedang misuh-misuh parah karena gagal menikahi Shinta.

Kerajaan megah milik Reitahwana termasuk kebon pisang Alayka, kebon mangga, kebon jeruk, pokoknya semua kebon yang ada di sana, ludes dimakan si jago merah. Betewe, tetangga ane punya jago warnanya putih, mungkin bisa diadu sama si jago merahnya Rukiman.

“Pertemuan kita begitu singkat, Reitah” ucap Rukiman lirih. Jauh di dalam hatinya ia menyesal telah membunuh Reitahwana. Tapi di sisi lain, ia merasa berguna karena ikut berperan mengembalikan keutuhan negeri Mantili, terlebih kebahagiaan sahabat baiknya, Rama.

Sekarang waktunya Rukiman untuk kembali ke habitatnya(?), ikut menikmati kebahagiaan yang sekarang tengah menyelimuti negeri Mantili.

Namun, sebelum Rukiman benar-benar pergi meninggalkan Alayka, ia menyempatkan diri untuk mendokumentasikan hasil kerjanya. Pffttt~ iye kali jaman segitu udah ada kamera.

Ketika sedang sok sibuk jeprat-jepret ambil gambar, Rukiman dikejutkan oleh sebuah benda aneh bergerak dari tengah puing-puing kerajaan yang sudah luluh lantak itu.

Dilihat dari kejauhan tampak seperti kain hitam yang membungkus sesuatu. Benda itu perlahan bergerak semakin menjauh dari puing-puing kerajaan.

Penasaran, Rukiman pun turun dari puncak pohon beringin lalu mendekati benda itu.

“…!!” OwO

Rukiman terkejut tiada tara(?) begitu menyadari bahwa sesuatu yang bersembunyi di balik kain hitam itu adalah sesosok manusia. Tadinya Rukiman sempat mikir itu semacam ubur-ubur darat raksasa yang tersesat lalu mencari jalan pulang. Duh, imajinasi Rukiman terlalu jauh, melebihi imajinasi seorang fujoshi.

Dengan langkah terseok-seok, orang misterius itu terus berjalan tanpa mempedulikan Rukiman yang jaraknya hanya sekian meter.

“Hey, Kisanak!” panggil Rukiman.

Langkah orang itu terhenti “Ada apa?” tanyanya tanpa membuka kain hitam yang menutupi kepala dan setengah wajahnya.

“Kisanak ini apanya Kisaki? Masih sodaraan? Terus sama Kihiro hubungannya apa? Kalo sama Ki Joko Bodo, jauh ga?” Rukiman mah gesrek.

“Go home, nyet! You’re drunk!!” balas orang itu dingin lalu kembali melangkahkan kakinya.

Tapi baru 2 langkah, ia berhenti lagi karena ditahan oleh Rukiman “Tunggu!”

Rukiman merasa ada yang janggal. Ia yakin, sesuatu berbalut kain hitam itu bukanlah ubur-ubur darat raksasa, tapi manusia! Woy, lu baru nyadar? *belesepin Rukiman ke tanah*

Tanpa ragu dan tanpa permisi, Rukiman membuka kain hitam itu.

Jebrettt!! Untung ‘jebretnya’ ga sampe 3X, kalo iya ntar disangka iklan sambel.

Dan tereksposlah tubuh ceking topless, muka lecek kusam tak beraturan, dan rambut acakadut.

Rukiman menganga tak percaya.

“Re-Reitah… wa… na??” Rukiman serasa kekurangan oksigen sampe sesek napas. Ini benar-benar mengejutkannya. Bagaimana mungkin Reitahwana masih selamat dari kebakaran hebat semalam? Oh iya, Rukiman lupa manusia jenis apa yang mau dia bunuh.

“Siapa kau?”

“…” Rukiman masih sibuk bergelut(?) dengan rasa tak percayanya.

“Hey, aku bertanya padamu! Siapa kau?” suara itu terdengar parau. Mungkin stok suaranya sudah hampir habis karena dipake buat teriak-teriak mengutuk si jago merah dan terus meneriakkan nama Shinta.

“Aku… aku si kera putih. Namaku… Rukiman.”

“Aku tidak perlu tau siapa kau, siapa namamu, aku tidak butuh! Yang aku butuhkan hanyalah Shinta!” titik air mata memaksa keluar dari tempat persembunyiannya.

Rukiman jadi bingung, orang yah, tadi nanya ‘siapa kau’ ampe dua kali, giliran dijawab malah katanya ‘ga perlu tau’, itu orang arahnya kemana sih sebenernya? @,@

“Kemana Shinta? Kemana calon istriku?” tak kuasa menahan rasa sakit kehilangan Shinta, akhirnya air mata Reitahwana tumpah juga. Tumpahnya sampe tumpeh-tumpeh T_T

“Dia sudah berada di tempat dimana seharusnya dia berada.”

“Maksudmu? Maksudmu Shinta sudah…” Reitahwana tidak tega melanjutkan kalimatnya, dia pikir Shinta sudah senasib dengan orang-orang di kerajaan yang… ah, saia juga ga tega melanjutkan kalimat sendiri (._.)

“Shinta sudah bahagia di sana.”

“Sok tau kau nyet!” celetuk Reitahwana. Ya abisan, baru ketemu tapi si monyet putih itu udah kayak yang tau banget.

“Terserah. Tapi akan lebih baik jika kau merelakan Shinta pergi bersama kebahagiaannya daripada harus terus tinggal bersamamu tapi dia galau berkepanjangan karena harus berpisah dengan orang-orang tercintanya” Rukiman tak mengalihkan pandangannya dari sosok Reitahwana yang mendadak terpaku mendengar ucapan Rukiman.

“Dari mana kau tau tentang Shinta? Siapa kau sebenarnya?”

Kali ini Rukiman enggan menjawab pertanyaan itu. Dia kapok, denger pertanyaan “siapa kau” dari Reitahwana, ntar yang ada kalo dijawab si Reitahnya malah ga butuh -_-

“Kau tidak tau, monyet putih! Sebenarnya bukan Shinta yang aku inginkan, tapi sesuatu yang ada dalam diri Shinta!”

“Maksudmu?”

“Shinta adalah titisan Uruha, istriku! Karena itu lah aku menginginkan Shinta, aku ingin hidup bersama Uruha lagi” rawut wajah Reitahwana berubah sendu.

“Kau tau dari mana Shinta itu titisan Uruha?”

“Dari mimpi.”

Gubrag! Ekor Rukiman mendadak kaku ngejebret(?)

“Yang mulia Reitahwana… sekarang yah, media massa saja tidak bisa dipercaya 100%, apalagi mimpi yang hanya kembang tidur belaka?”

Ngekk~

Mendadak Reitahwana merasa o’on.

“Tapi Shinta sangat mirip dengan Uruha. Wajahnya, tubuhnya, sikapnya yang lemah lembut ramah lingkungan, pokoknya Shinta itu Uruha season 2!”

“Kau hanya termakan oleh pemikiranmu sendiri, Reitahwana. Istrimu telah lama wassalam, tapi kau masih belum bisa merelakannya. Hanya dengan bertemu Shinta yang sangat mirip Uruha, kau langsung menganggap bahwa Shinta adalah Uruha KW lalu berniat ingin menikahinya. Lama-lama aku berpikir itu hanya modus, sebenarnya kau ingin menikahi Shinta karena kau bete bete ah, sekian tahun lamanya tidak dapat jatah.”

“…” jleb! Tepat sasaran. Katalimat ‘lama ga dapet jatah’ itu benar-benar menohok “Tapi nyet, Shinta benar-benar persis seperti Uruha! Dia pasti-”

“Kemiripan itu hal yang biasa! Sama halnya seperti aku yang mirip dengan Taka-chan vokalis the GazettE band Jepang, sama seperti kau yang mirip sekali dengan Suzuki Akira-”

“Siapa itu Suzuki Akira?”

“Dia tetanggaku.”

“Oh.” (._.)

“Yang mulia Reitahwana, jangan hanya karena percaya mimpi kau jadi merusak kehidupan wanita yang belum kau kenal. Sebelum kau menculik Shinta, dia adalah wanita yang riang gembira sepanjang hari, dia sudah bahagia bersama suaminya. Apa kau tega merusak kebahagiaannya?”

“Kau… darimana kau tau tentang Shinta dan tragedi(?) penculikan Shinta? Kau itu siapa sebenarnya?” Reitahwana penasaran setengah mampus “Lalu, apa kau tau tentang kebakaran yang melenyapkan kerajaanku semalam?”

“Aku tidak akan menjawabnya. Tapi nanti kau pasti akan tau!”

“Nanti kapan?”

“Someday!” :’)

“Baiklah” Reitahwana membebaskan pandangan ke sekitarnya. Hanya puing-puing dan sisa-sisa asap yang terlihat.

“Sekarang aku kehilangan semuanya. Kehilangan Uruha, kehilangan harapan untuk menikahi Shinta, kehilangan kerajaanku, harta, tahta, dan kehilangan masa mudaku yang abadi” dengan berat hati, Reitahwana melepas kain pembalut hidungnya yang sekarang terlihat seperti kertas koran bekas yang gosong kena obat nyamuk.

Hangus, robek, bolong-bolong… kini noseband kebanggaannya yang penuh misteri itu tak lagi utuh lecek seperti sebelumnya.

Noseband itu sekarang hanya tinggal kenangan, sama halnya dengan keawetmudaan Reitahwana. Keawetmudaan yang abadi itu akhirnya lenyap bersama noseband leceknya yang hangus dilalap api.

“Noseband ajaib ku sayang… noseband anti tua dan anti alay. R.I.P!! Meski nantinya aku akan menua, tapi semoga aku tetap terlihat tampan seperti biasa. Selamat tinggal~” dengan senyum kecut, Reitahwana berusaha sekuat hati membuang noseband ajaibnya itu.

Rukiman cengo ‘Noseband ajaib? Jadi itu alasan kenapa Reitahwana tidak mau melepas noseband buluknya?’

Tapi karena bertahun-tahun Reitahwana pake noseband terus, hidung dia jadi belang. Karena Reitahwana ga mau dikatain ‘pria hidung belang’, dia memutuskan untuk tetap membalut hidungnya dengan noseband. Kali ini bukan noseband bersayap anti tembus anti bocor kayak di ff lama yang pas itu.

Reitahwana mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang masih utuh. Celana sama boxer yang dia pake semuanya ga kebakar. Cuma noseband sama muka dia aja yang gosong -_-

“Apa itu?” Rukiman memperhatikan sebuah kain batik di genggaman Reitahwana. Ia kenal kain batik itu, banyak nemu di Pekalongan *akakak~*

“Ini noseband satu-satunya yang aku punya sekarang. Shinta membuatkan noseband batik ini untukku. Keren kan?” Reitahwana segera membalut hidungnya yang belang dengan noseband batiknya.

Rukiman geleng-geleng sebentar melihat tingkah Reitahwana. Tapi ia yakin, noseband cap Reitahwana pasti akan menjadi trend. Someday.

Reitahwana menengadah ke langit, menghela napas sejenak, “Ah… aku harus kemana sekarang? Aku tidak punya apa-apa lagi.”

“Reitah…” panggil Rukiman lirih.

“Ya?”

Dengan malu-malu Rukiman menawarkan diri untuk menjadi teman baru Reitahwana. Tak tanggung-tanggung, Rukiman pun menawarkan salah satu rumah pohonnya untuk ditinggali oleh Reitahwana.

FYI, Rukiman ini punya banyak rumah hampir di setiap hutan. Rumah pohon pastinya, karena dia adalah seorang blasteran monyet. Walaupun cuma rumah pohon, tapi bisa dia pake buat usaha buka kos-kosan sama kontrakan. Ada juga yang dia pake buat ruko. Ga kebayang kan, rumah pohon yang penuh barang dagangan kayak apaan.

Kekuasaan utama Rukiman adalah Alas Roban, di sana banyak tersebar rumah-rumah pohon milik Rukiman. Lengkap dengan fitur wifi. Dan bebas gusur.

Reitahwana lalu menerima ajakan Rukiman, mereka pun pergi menuju Alas Roban untuk menata hidup baru.

Bagaimana kelanjutan hubungan Rukiman dan Reitahwana, untuk sekarang masih menjadi rahasia.

Reitahwana adalah lelaki normal yang menyukai wanita, bertolak belakang dengan Rukiman yang dari awal ketemu Reitah dia udah jatuh cintah padanyah.

Ntahlah, Rukiman hanya berharap Reitahwana akan betah berlama-lama hidup bersamanya. Lalu akan tumbuh benih-benih cinta dengan sendirinya.

Jika itu benar terjadi, semoga Rukiman tidak mendapat kepalsuan lagi seperti kenangan kebon pisang yang tak berpisang(?).

Kunci Rukiman hanya satu : “Selama Reitahwana tidak tau siapa penyebab kebakaran hebat malam itu.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sejak kepulangan Shinta kemarin, Rama dan Shinta tempelan terus kayak koyo sama kulit. Tapi sejak Rama selesai mandi tadi sore, sikapnya aneh. Mungkin dia mandi ga pake sabun mandi tapi pake deterjen, ato malah pake abu gosok makanya jadi aneh begitu. Bukan deng XD

Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

Shinta merasakan  ada perubahan dalam diri Rama. Dia jadi lebih pendiam, terus sedikit rada jaga jarak sama Shinta. Yang anehnya lagi, Rama ga minta jatah ke Shinta. Sampe-sampe Shinta yang ngajakkin duluan, tapi Ramanya tetep nolak. Apa banget kan? Bagaimana bisa seorang Rama menolak ‘hidangan lezat menggugah selera’ semacam itu. Ckckck… pasti dibutuhkan iman yang super kuat berlipat-lipat ganda untuk mengatakan “Tidak” ke Shinta.

Duh, apa sih… Shinta jadi resah gelisah sendiri memikirkannya. Apa yang terjadi dengan kakanda Rama?

Setelah sekian hari mereka terpisah, lalu Rama berjuang keras untuk menemukan Shinta dan akhirnya mereka bisa bersama lagi, tapi kenapa setelah Shinta kembali Rama malah sedikit menjauh? Ada yang salah dengan Shinta?

Malam itu, rasa penasaran Shinta terjawab. Ketidaktenangan hati Shinta berubah menjadi rasa sakit yang mendalam ketika Shinta mengetahui alasan di balik perubahan sikap Rama.

Sehari setelah kembalinya Shinta, Rama diliputi pikiran-pikiran negatif yang mendadak mampir tanpa diundang.

Rama berpikir tentang kegiatan apa saja yang Shinta lakukan di kerajaan Reitahwana bersama raja noseband ajaib itu.

Apakah Shinta mengikuti pelatihan menyulam? Latihan balet? Atau kegiatan-kegiatan positif lainnya? Mana mungkin?

Menurut cerita Shinta ke Rama, Shinta diculik oleh seorang raja berstatus duda 100 tahun yang berniat ingin menikahi Shinta.

Rama jadi khawatir…

‘Jangan-jangan dinda Shinta sudah dianu-anu sama Reitahwana?’

‘Jangan-jangan segel keperawanan si dinda sudah rusak?’

Dugaan-dugaan negatif itu terus menggelayuti pikiran Rama. Rama tidak yakin seorang raja berstatus duda 100 tahun bisa menahan hasratnya terhadap Shinta.

Hati Shinta remuk parah, hancur lebur berantakan ketika mendengar pernyataan Rama tentang kecurigaannya pada sang istri.

Shinta tak kuasa menahan air matanya. Ini amat sangat menyakitkan. Rama tak mempercayai istrinya sendiri meski Shinta telah berkata jujur bahkan air mata yang mengalir dari mata sayunya tak mampu meluluhkan Rama.

Dengan berat hati yang melebihi berat badannya, Rama meminta Shinta untuk membuktikan ucapannya bahwa dirinya tidak terkontaminasi(?) oleh Reitahwana dengan cara menyeburkan diri ke kolam ikan di halaman belakang.

Kalau versi aselinya Shinta disuruh nyebur ke api, kalau versi abal-abal Shinta disuruh nyebur ke kolam ikan. Terimalah! XD

Jika setelah Shinta nyebur ke kolam kemudian air kolam ikan yang tadinya tawar itu rasanya berubah menjadi asin, artinya Shinta sudah tidak perawan lagi.

Tapi jika setelah Shinta nyebur ke kolam kemudian air kolam ikan itu tetap tawar bahkan airnya menjadi lebih jernih, artinya Shinta masih suci, belum ternodai.

Begitulah sumpah Rama.

“Baiklah, kanda. Aku akan melakukannya malam ini juga!” ujar Shinta pasrah.

Tanpa menunggu pagi, Rama dan Shinta pergi menuju halaman belakang kerajaan dimana terdapat sebuah kolam ikan yang akan menjadi saksi atas kebenaran ucapan Shinta.

Shinta memandangi kolam ikan itu beberapa jenak. Air matanya masih mengalir deras melebihi derasnya air yang memancar dari pancuran berbentuk bocah pipis yang menghiasi tepi kolam.

“Aku akan buktikan ucapanku, kanda.”

“Buktikanlah!”

Tanpa ragu, Shinta menyeburkan diri ke dalam kolam ikan.

BYURRR~

Percikan air sedikit mengenai tubuh Rama.

Salah seorang pelayan kerajaan (Tokiyem) yang melihatnya menjadi panik. Ia langsung melaporkan apa yang ia lihat pada patih Kai yang saat itu kebetulan sedang main monopoli dengan Prabu Tora dan beberapa ajudan kerajaan.

Dengan mengabaikan permainan monopolinya, Prabu Tora, Patih Kai, Tokiyem dan para ajudan langsung meluncur ke TKP.

“Rama!!” teriak Prabu Tora ketika sampai di kolam ikan dan melihat Rama berdiri di tepi kolam dengan santainya sambil memandangi Shinta yang mematung di tengah kolam.

Rama terkejut melihat serombongan penghuni kerajaan kini sudah berada di sekelilingnya. Patih Kai dan beberapa ajudan segera membantu Shinta untuk beranjak dari kolam. Sementara Prabu Tora yang terbakar emosi meminta kejelasan pada Rama tentang kejadian Shinta nyebur kolam ikan.

Rama pun menjelaskan semuanya pada romo mertua. Emosi Prabu Tora naik ke level puncak ketika mengetahui menantunya itu menuduh Shinta dianu-anu oleh Reitahwana sehingga Shinta tidak suci lagi.

Namun, sebelum Prabu Tora bertindak lebih jauh dari sekedar ngomel-ngomel, Rama meminta Prabu Tora untuk mencicipi air kolam ikan yang sudah terkontaminasi oleh Shinta. Mantu kurang ajar dah emang. Masa mertuanya disuruh nyicipin air kolam ikan?

Awalnya Prabu Tora menolak, tapi daripada penasaran mending dia nyoba sendiri.

Prabu Tora lalu mencicipi air kolam ikan itu.

“Bagaimana, Prabu?” tanya Patih Kai.

Prabu Tora cuma geleng-geleng dugem menjawab pertanyaan Patih Kai. Raut wajah yang tadinya murka mendadak berubah suram.

“Kau rasakan saja sendiri” ujar sang Prabu pada Patih Kai yang juga penasaran.

Patih Kai pun ikut mencicipi air itu. Dan ia memperlihatkan reaksi yang sama dengan Prabu Tora.

‘Ada apa dengan air itu? Apa rasanya asin?’ batin Shinta ketar-ketir.

“Shinta!” seru Prabu Tora membuat suasana menjadi semakin tegang, tapi yang baca ff biasa aja tuh XD

“I-iya, romo?” tubuh Shinta menggigil.

“Kau… telah mengkhianati suamimu!”

Jeng jenggg~

Shinta serasa [ingin] membeku mendegarnya.

“Apa yang romo katakan? Mana mungkin aku mengkhianati kanda Rama? Aku sangat mencintai kanda Rama. Aku tidak mungkin melakukan itu!” air mata Shinta kembali menetes, melebur bersama butiran air kolam ikan yang masih membasahi wajahnya.

“Tapi air kolam ini rasanya asin! Itu artinya kau sudah tidak suci lagi kan?”

“…” Shinta tak percaya. Bagaimana mungkin?

“Ternyata kecurigaanku benar kan, dinda?” sama seperti Shinta, hati Rama pun kini berantakan, ia benar-benar tak menyangka istri tercintanya ternyata sudah terkontaminasi oleh seorang duda yang tak jelas jluntrungannya.

“Tidak, kanda! Itu tidak mungkin! Kanda, percayalah padaku~” kalau mau, mungkin sekarang juga Shinta udah nangis sambil ngosek deket kolam.

Sementara Prabu Tora hanya diam terpaku mencoba memunguti kepingan-kepingan hatinya yang pecah karena kecewa berat terhadap putri satu-satunya.

Namun, di tengah adegan dramatis itu, Patih Kai nyeletuk “TIDAK!! INI TIDAK BENAR!!”

“??” semua menatap Patih Kai dengan tanda tanya.

“Air kolam ikan ini akan berubah menjadi asin jika Shinta memang terbukti sudah tidak suci lagi. Jelas saja, karena Shinta memang sudah tidak suci. Shinta sudah bukanlah seorang perawan lagi sejak malam pertama pernikahannya dengan Rama, bukankah begitu?” jelas Patih Kai.

Seketika, semua pandangan tertuju pada Rama.

“Oh? Oh iya ya, benar juga!” bisik Rama ke ikan-ikan di kolam yang juga ikut-ikutan ngeliatin Rama seolah mereka bilang ‘Hayo lo Ram… hayo lo…’

Prabu Tora mendekati Rama lalu memelintir telinga Rama persis kayak babeh yang lagi ngomelin anaknya karna main-main di sawah sampe maghrib, “Hebat!! Apa yang kau pikirkan ketika menyuruh Shinta untuk membuktikan ucapannya dengan cara konyolmu itu? Tuduhanmu bahwa Shinta sudah tidak suci lagi itu memang benar, tapi siapa yang merusak kesuciannya? Siapa yang menodainya di malam pertama pernikahan kalian? Siapa, Rama? SIAPAAA??”

“A-aku! aku yang telah menodainya di malam itu. A-aduduh, sakit, romo mertua” Rama merasakan telinganya hampir putus.

‘Woooo… dasar! Rama kampretos!’ umpat ikan-ikan di kolam.

Tanpa mengadakan rapat terlebih dahulu, Prabu Tora memutuskan untuk memecat Rama dari jabatan(?) sebagai menantunya. Shinta pun setuju karena sudah terlanjur sakit hati parah dengan sikap Rama yang tidak mempercayai Shinta. Apalagi Patih Kai, setuju banget lah, siapa tau abis ini si Patih yang gantiin posisi Rama. Mumpung Patih Kai masih single kan, mubazir.

Sebagai hukuman tambahan, Rama dipaksa oleh Prabu Tora untuk menghabiskan seluruh air kolam ikan yang sekarang rasanya sudah asin itu.

Nah lo, siapa suruh dah! XD

“Bagaimana rasanya, Rama, meminum air yang asinnya naujubilah bercampur dengan asemnya keringat ikan-ikan penghuni kolam?” goda Patih Kai.

“Bukankah itu seperti kuah empek-empek?” Prabu Tora ikutan ngeledek sebentar sebelum akhinya meninggalkan Rama yang siap-siap kembung ngabisin air sekolam.

Shinta yang hatinya masih terluka meluapkan kegalauannya di kamar seorang diri. Ia yang terlanjur sakit hati dan kecewa berat pada Rama lalu memohon kepada Dewa untuk mengutuk suaminya.

Shinta lalu meminta supaya Rama mendapat kutukan I’M NOT GAY.

Kutukan I’m Not Gay, kutukan macam apa itu? Ntahlah.

“Aku bersumpah, suatu hari nanti kau akan menyukai orang dari jenis yang sama sepertimu. Kau akan menyukai laki-laki, dan akan tersiksa dengan perasaanmu sendiri!”

Begitulah sumpah Shinta.

Jegleerrr~

Petir menggelegar di langit malam tanda permintaan Shinta telah dikonfirmasi oleh sang Dewa.

Elah… dikonfirmasi, dikata pesbukan kali? @,@

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Akhir yang menyedihkan bagi Rama. Ia pergi (lebih tepatnya diusir) dari negeri Mantili, meninggalkan Shinta yang sekarang berstatus sebagai ‘janda’.

Rama benar-benar menyesal sudah negative thinking sama istri sendiri.

Sementara Shinta, sudah 7 hari 7 malam sejak kejadian nyebur kolam ikan malam itu, Shinta merasa ada yang aneh pada dirinya. Muntah-muntah sepanjang hari ditambah rasa mual yang lumayan menyiksa. Awalnya semua mengira Shinta cuma masuk angin gara-gara berendem bentar di kolam tengah malem. Tapi setelah diselidiki, ternyata Shinta sedang mengandung benih cintanya dengan Rama.

Prabu Tora dan Dewi Sagawati bahagia tiada tara mengetahui kehamilan Shinta. Begitu juga dengan Shinta sendiri, tapi dia sedikit sedih. Jadi keinget Rama. Calon anak di kandungannya adalah hasil perbuatannya dengan Rama, tapi Rama sudah pergi, dia sudah tidak berada di samping Shinta lagi sekarang dan seterusnya.

Tapi tenang aja Shinta, kamu masih bisa manja-manjaan sama romo Tora dan mamih Saga, juga sama si Patih yang sebenarnya udah dari dulu ngarep. Dia siap disuruh kelayapan ke tengah hutan sekalipun demi memenuhi kebutuhan ngidammu kok. *lirik Kai yang lagi gelayutan di pohon mangga*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

9 bulan berlalu. Tahun-tahun berganti. Dan tau-tau anak Shinta udah gede sekarang. Sesuai keinginan Prabu Tora, anak Shinta terlahir sebagai laki-laki. Padahal Dewi Sagawati kepinginnya punya cucu cewek. Akhirnya biar adil, anak Shinta yang diberi nama “Takashima Kouyou” itu lahir sebagai bishie. Dia memang laki-laki, tapi wajahnya sangat cantik persis seperti Shinta. Tubuhnya juga tidak terlalu manly.

Semakin dewasa, Takashima Kouyou semakin terlihat mirip dengan Shinta. Shinta yang awet muda kalo dijejer sama si Kouyou pasti disangka anak kembar beda jenis beda generasi.

Suatu ketika, Kouyou ngebolang, berburu di hutan sendirian. Di tepian sungai di tengah hutan, Kouyou tak sengaja bertemu dengan seorang lelaki tampan tapi mukanya lecek dengan pakaian ala kadarnya. Kalau diperhatikan, lelaki itu masuk ke kategori “om-om ganteng”.

Om-om yang belum diketahui namanya oleh Kouyou itu sedang berburu dan mengincar target yang sama dengan incaran Kouyou, yaitu bekicot. Eh bukan deng, tapi seekor bebek. Kali ini bukan bebek emas kayak yang pas itu, tapi bebek biasa. Kebetulan Rama teringat akan mantan istrinya yang demen banget sama bebek. Niatnya si Rama tu bebek mau dia bawa pulang, mau dipiara buat ngobatin kangennya sama Shinta.

Ketika mata onyx Rama berpapasan dengan mata hazel Kouyou, Rama merasakan aura pink menyelimutinya. Ada semacam efek blink-blink beterbangan di sekelilingnya.

‘Perasaan apa ini?’ jantung Rama deg-degan ga kira-kira. Ini adalah perasaan yang sama ketika pertama kali ia melihat Shinta dan langsung jatuh cinta padanya.

Itu sih Shinta, perempuan. Wajar kan?

Tapi yang sedang Rama lihat di hadapannya sekarang adalah laki-laki! Dia laki-laki!

Rama doki-doki pada seorang lelaki?

Oh my…

Sepertinya kutukan I’m Not Gay ala Shinta benar-benar terjadi!

=-=-=-==-=-=-=-=-=-=-=-=-=TAMAT=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

editan abal by me X'D  muka Aoi kontras banget emang :v
editan abal by me X’D
muka Aoi kontras banget emang :v

Reitahwana

ciieee patih Kai narsis ciee~ :v
ciieee patih Kai narsis ciee~ :v

Akhirnya selesai juga XD

Makasih semuanya yang udah mau capek-capek baca ff panjang ini.

Khususon buat Leochuu yang udah nyumbang ide-ide gila semacam kutukan I’m Not Gay itu! :v

Maaf ya kalo banyak salah di sana sini.

Sankyuu~ ^o^)// *tebar cintah*

Advertisements

One thought on “the Gazette fanfic _ RAMAYANA (last chapter)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s