fanfic vistlip UmixYuh ~Eros and Psyche~ (chapter 2)

Title : Love and Soul
Chapter : 2
Genre : fantasy romance semrawut
Fandom : vistlip
Pairing : UmixYuh
Author : Hira Hiraito
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Yuh terus menunggu calon istrinya sampe dia ketiduran di atas batu. Selain kecapekan nunggu dia juga bete parah karena daritadi cuma nganggur ga ada kerjaan. Yuh lupa bawa lepi jadi dia ga bisa nonton video-video band kesukaan dan dorama yaoi kesukaannya. Ga tau sih di lepinya ada sesuatu semacam JGV apa enggak -_-
Yuh juga lupa bawa manga yaoi, jadi aja dia bete sebete-betenya.

Di tengah tidur lelapnya, Yuh didatangi oleh Tohya Zephyr, Dewa Angin Barat. Tohya membawa sukma Yuh ke sebuah padang rumput yang dipenuhi oleh bunga-bunga indah. Di sana juga ada bunga Adonis kesukaan Yuh. Bunga tembelek juga ada. Kembang pasirnya yang ga ada. Selain penuh dengan bunga, tempat itu juga dihiasi oleh sekumpulan kupu-kupu cantik yang seolah menyambut kehadiran Yuh.
‘Tempat apa ini?’ Yuh serasa seperti nyasar di surga. Tempat itu benar-benar indah dan tenang. Rasa takut Yuh yang sejak tadi membelenggunya tiba-tiba digantikan oleh perasaan tenang dan damai.
Yuh tersenyum melihat banyak kupu-kupu terbang di sekelilingnya. Eh, ada kupu-kupu Tay Pin San juga! Itu loh, kupu-kupu yang sampe sekarang masih suka ngeksis di kemasan jamu sakit perut.

Dari sekian banyak kupu-kupu, ada seekor kupu-kupu yang menarik perhatian Yuh. Kupu-kupu berwarna biru mencolok itu terlihat lebih heboh, seperti mengajak Yuh bermain-main. Yuh menyebutnya “kupu-kupu Morfo Biru”.
Kupu-kupu itu terbang sedikit menjauhi Yuh, Yuh lalu mengejarnya hingga ia tak menyadari bahwa ternyata kupu-kupu biru itu sedang menuntun Yuh ke suatu tempat.
“Wow~” Yuh tercengang melihat sebuah rumah besar dan megah di depannya. Daripada rumah, sepertinya itu lebih pantas disebut sebagai istana.
Tiba-tiba sebuah sinar menyilaukan muncul dari pintu utama rumah itu. Sinarnya benar-benar menyilaukan hingga memaksa Yuh untuk memejamkan kedua matanya.

Tohya Zephyr menyentuh tubuh Yuh yang masih terbaring di atas bebatuan. Kelembutan angin Tohya membangunkan Yuh dari tidurnya. Tohya pun berlalu sebelum Yuh benar-benar terbangun.
Yuh membuka kedua matanya perlahan. Cahaya hangat mentari pagi, itu lah yang pertama kali menyambut Yuh.
Yuh bangkit dari posisi tidurnya, melepaskan pandangan ke sekitarnya. Pepohonan, bebatuan, dan sungai kecil. Pemandangan indah yang ia lihat dari atas bukit.
“Calon istriku belum datang ya?” tanya Yuh pada dirinya sendiri. Mereka bilang, Ekhidna akan datang menemui Yuh sebelum pagi menjelang, tapi sampai sekarang Yuh tak menemukan kehadiran siapapun.
Yuh berniat mencari sebuah sungai untuk menyegarkan diri. Sungai? Sungai itu terletak jauh di bawah bukit. Yah paling tidak Yuh bisa menemukan embun di rerumputan dan dedaunan jika belum mengering diterpa mentari pagi buat cuci muka.
Aduh, Yuh lupa bawa facial foam lagi (//_-)
Yuh berbalik arah. Namun apa yang ia lihat membuatnya melek 100% dan nganga 3 jari.
Sebuah rumah besar layaknya istana terpampang nyata di depan mata Yuh!
Itu… persis dengan apa yang ia lihat di mimpinya tadi. Ntah mimpi atau apa, tapi Yuh benar-benar merasaka itu seperti kenyataan.
Di tengah ketakjubannya, Yuh dikejutkan oleh suara ghaib(?) yang mampir ke telinganya “Masuklah, Yuh. Anggap saja rumah sendiri!”
Yuh melangkahkan kakinya sedikit ragu mendekati rumah besar itu.
“Jangan takut! Masuklah!” suara lembut itu menggetarkan hati Yuh.
Yuh pun menginjakkan kakinya di lantai yang terbuat dari batu yang indah. Kedua matanya beroperasi mengamati rumah megah itu. Pilar-pilarnya begitu besar, terbuat dari emas, dindingnya terbuat dari perak. Terlihat patung selamat datang berbentuk salah satu personil Teletabis di dekat pintu utama.
Yuh masih memandanginya dengan tatapan takjub dan heran parah. Padahal semalam waktu Yuh datang ke puncak bukit bersama ayah dan kedua kakaknya ia tak melihat bangunan apapun di tempat ini. Tapi kenapa rumah besar ini tau-tau nongol seenaknya?
Kerjaan siapa ini? Mungkinkah ini sambutan Ekhidna untuk calon suaminya? Atau hanya sebagai perangkap? Ntahlah, tanyakan saja pada patung Teletabis.

Baru saja melewati pintu masuk, Yuh dikejutkan oleh kehadiran para Muse yang menyambut Yuh dengan nyanyian-nyanyian indah mereka. Nyanyiinnya sih lagu AbeGe Tua. Abege tua, tingkahmu smakin gila. Pfftt~ bukan deng XD
Yuh tersenyum, rasa takut dan kesedihan dalam hatinya mendadak berganti menjadi perasaan bahagia. Itu lah yang dirasakan setiap orang jika mendengarkan para Muse bernyanyi.
Kemudian datanglah para peri, mereka lalu menuntun Yuh ke sebuah ruangan dimana terdapat meja makan yang di atasnya penuh dengan jamuan-jamuan lezat.
Para peri itu mempersilahkan Yuh untuk duduk. Kemudian terdengar alunan musik indah berbaur dengan suara para Muse yang masih bernyanyi.
“Apa-apaan ini?” Yuh bertanya entah pada siapa. Mungkin sama patung Teletabis *lupakan patung itu!*
Tangan Yuh yang terulur di atas meja merasakan ada sesuatu yang menggenggamnya.
“Eh?” Yuh memperhatikan punggung tangannya… tidak ada apapun, tapi terasa hangat dan seperti ada kelembutan yang menyelimutinya.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan! Ekhidna dan takdir burukmu itu hanyalah bualan master Hyde. Dia melakukannya atas permintaanku” suara tak berwujud itu lagi-lagi terdengar. Yuh celingukan ke segala arah mencari pemilik suara berat itu. Namun ia tak menemukan siapapun. Peri-peri yang menuntunnya pun kini sudah tak terlihat batang sayapnya. Para Muse juga seolah bersembunyi namun keindahan nyanyian mereka masih terdengar.
“Si-siapa kau?”
“Jangan takut! Aku Umi Eros alias Umi Cupid alias bang Umi, sang Dewa Cinta yang telah menancapkan panahku ke hatiku sendiri ketika melihatmu.”
“Oh!” Yuh ber-oh datar mendengar gombalan si suara ghaib. “Betewe Umi Eros apanya Umi Elvi?”
“Yah… malah becanda.”
“Kau yang mulai bercanda duluan! Mana mungkin kau Dewa Cinta?” Yuh tak percaya.
“Seterah! Pokoknya mulai sekarang, kau akan tinggal di rumah ini bersamaku. Dan aku bersedia menjadi pendamping hidupmu.”
“Aku tidak memintamu untuk menjadi pendamping hidupku!” ujar Yuh sedikit ketus.
“Lalu siapa yang kau tunggu di bukit ini? Ekhidna? Hakhakhak… yang benar saja! Seandainya wujud Ekhidna hampir serupa dengan Aphrodit atau Persephone pun, kau tidak akan bisa mencintainya. Karena…”
“Karena aku adalah seorang maho. Begitu?” -_-)
“Yak, tul! Aku lah yang memahokanmu. Ehehe…” Umi ngehe seadanya.
“Dasar, kurang ajar! Apa maksud semua ini? Apa yang kau inginkan dariku sampai-sampai kau tega memahokanku?” Yuh mulai geram.
“Kau berani mengatai dewa dengan kata-kata ‘kurang ajar’? Ckckck. Ketahuilah, Yuh… sebenarnya tugas utamaku adalah menghancurkan hidupmu. Dewi Cinta lah yang memintaku melakukannya. Tapi semua itu berubah sejak negara api menyerang Konoha. Eh, maksudku… semua itu berubah sejak aku melihatmu”tanpa disadari Yuh, Umi telah berdiri di belakang Yuh lalu mendekapnya.
Yuh merasakan sebuah pelukan hangat tapi ia tak dapat melihat siapa sosok yang memeluknya.
“Tapi kau telah memahokanku dan membuat hidupku tidak normal!”
“Itu karena aku ingin memilikimu. Kau tidak akan mungkin menderita jika bersamaku. FYI, aku ini juga maho. Jadi kita sama-sama maho. Bukankah itu cocok?” suara itu terdengar begitu jelas di telinga Yuh, bahkan Yuh bisa merasakan helah nafas menyentuh kulitnya.
“Gesrek!!” umpat Yuh.
“Beraninya kau berkata ‘gesrek’ ke dewa! Kau tau, apa hukuman bagi manusia sepertimu yang berani menghina Dewa Cinta sepertiku?”
“…” seketika Yuh terdiam. Dia takut dikutuk jadi kupu-kupu Tay Pin San sama dewa genit itu.

Chuu!
Yuh terkejut merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Kecupan pertama yang manis. Yuh baru merasakan yang begitu.
“Itu hukuman untukmu!” Umi nyengir mana tahan.
“Ap-pa-an-sih~” Yuh blushing ampe ubun-ubun. Bibir perjakanya telah dinodai oleh dewa. Tapi Yuh aselinya demen sih -_-)
“Dasar, dewa ges-”
“Kau mau hukuman yang lebih dari itu?” goda Umi sebelum Yuh menyelesaikan kata “gesrek”nya.
Dengan cepat Yuh menggeleng dan menutup mulutnya.

“Yuh~” panggil Umi lembut. Yuh hanya ber-“hm?” seadanya.
“Aku mencintaimu. Aku ingin menjadi pendamping hidupmu” Umi membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Yuh. Bikin Yuh jadi merinding sampe bulu keteknya bediri *eh*
“Apah? Kau… yang benar saja!” X///D
“Aku serius! Kau pikir, untuk apa aku memahokanmu? Untuk apa aku memberikanmu tempat indah ini?”
“Tapi aku tidak percaya kalau kau adalah dewa!”
“Cepat atau lambat kau akan percaya.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari-hari berlalu, Yuh pun mulai terbiasa dengan kehidupan barunya, tinggal bersama sosok tak terlihat di rumah gedongan itu. Dan pada akhirnya Yuh percaya bahwa makhluk yang telah mencuri keperjakaan bibirnya adalah dewa, lebih tepatnya Dewa Cinta alias bang Umi.
Walopun kadang suka jail semacam diem-diem nyipok, tapi Umi selalu memperlakukan Yuh dengan baik. Yuh selalu dibuat takjub oleh semua perlakuan ajaib(?) Umi. Berkali-kali Yuh klepek-klepek, tersepona, dan merasa menjadi orang paling beruntung di dunia karena dicintai oleh dewa cinta macem Umi.

Umi berhasil memenangkan hati Yuh. Yuh pun sudah tak ragu lagi untuk mencintai Umi. Dicintai Umi dan mencintai Umi, membuat Yuh menghilangkan kebiasaannya baca manga yaoi, nonton dorama yaoi, atau menggila ketika menonton video band-band kesukaannya. Bagi Yuh sekarang, hidup bersama Umi adalah hal paling membahagiakan dibanding kebahagiaan apapun yang pernah Yuh rasakan sebelumnya.

Namun sampai saat ini Yuh belum diijinkan untuk dapat melihat wujud aseli Umi.
“Kalau kau memang mencintaiku, maka jangan pernah memaksaku untuk memperlihatkan wujud aseliku. Bahkan jika kau lancang memasuki kamarku saat aku sedang tidur, aku tidak akan segan meninggalkanmu saat itu juga.”
Itu lah pesan Umi yang selalu terekam dalam ingatan Yuh. Yuh sangat mencintai Umi, ia tidak ingin kehilangan Umi dan tidak ingin menyakiti Umi dengan mengingkari janjinya untuk tidak memaksa melihat wujud Umi. Tanpa bisa melihatnya pun, Yuh sudah sangat bahagia karena Umi selalu ada di sampingnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lama berpisah dari keluarganya, Yuh jadi kangen. Apalagi mereka ngira Yuh mau dijadiin suami monster mengerikan, pasti mereka ketar-ketir sepanjang hari. Padahal kenyataannya berbanding terbalik. Yuh malah bahagia tinggal di bukit sama dewa.

Suatu ketika Yuh meminta Umi untuk mengantarkannya main ke kerajaan bertemu dengan ayah dan kedua kakaknya. Awalnya Umi menolak, tapi Umi ga tega liat Yuh galau terus, akhirnya Umi mau juga. Tapi berhubung waktu itu Umi sibuk nyomblang-nyomblangin orang, jadi Umi minta bantuan Tohya Zephyr buat nganterin Yuh.
Sebelum pergi, Umi berpesan supaya Yuh tidak menceritakan tentang Umi pada siapapun. Yuh hanya diperbolehkan untuk memberitau ke keluarganya kalau selama ini dia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Baiklah” Yuh menyanggupinya. Ia pun menuruni bukit dengan dikawal oleh Tohya, teman baik Umi yang bisa disuruh-suruh.


Sampailah Yuh di kerajaan. Ia melepas rindu yang bertumpuk pada ayah dan kedua kakaknya yang kebetulan pas itu lagi weekend-an di kerajaan bareng bininya masing-masing. Seisi kerajaan pada kaget pas Yuh dateng, abisan tau-tau nongol gitu aja. Yuh sih bilangnya ga pake kendaraan apa-apa buat ke kerajaan, dia cuma naik awan Kinton gitu katanya. Au dah.

Seluruh penghuni kerajaan bahagia menyambut kedatangan Yuh, lebih-lebih sang raja, sampe air matanya berceceran karena saking senengnya. Sang raja tak menyangka bahwa ternyata putranya masih hidup *jahat!* X’D
Ya kan si babeh ngiranya Yuh udah dimakan(?) sama Ekhidna. Tapi syukurlah ternyata Yuh baik-baik aja, malah keliatan rada berisi karena hidupnya makmur.
Yuh bilang, ramalan master Hyde itu bohong. Ternyata bukan sosok mengerikan semacam Ekhidna yang menjadi istrinya, tapi seorang wanita tomboy pemburu bernama Atalanta yang lebih suka ngebolang di alam bebas. Ga usah mikir jauh tentang gimana mereka beli beras atau sembako buat keperluan sehari-hari. Fanfic ini bukan kisah hidup yang real XD

Selesai kangen-kangenan, Yuh pamit pulang. Bagaimanapun dia harus kembali ke bukit, Umi pasti sudah menunggunya (kalo kerjaan manah-manahin hati orang udah kelar)

Sampailah Yuh di puncak bukit. Ia lega, keluarganya sudah tak mengkhawatirkan keadaan Yuh lagi. Dan sekarang Yuh bisa hidup bersama Umi dengan lebih tenang.
Tapi tanpa Yuh sadari, hari itu juga Yuh mulai dekat dengan kehancurannya.
Tomo dan Rui yang ternyata penasaran setengah mati dengan kehidupan Yuh mulai kepo. Kebetulan sore itu mereka berdua sedang tidak ada kerjaan, lalu mereka memutuskan untuk menguntit Yuh sampai ke tempat dimana Yuh ditinggalkan sendirian untuk menunggu takdirnya kala itu.

Tomo dan Rui kaget bukan main ketika melihat Yuh memasuki sebuah rumah megah (megah doank ga pake Wati yak). Terlihat patung Teletabis menyambut kepulangan Yuh. *coret*
“Sejak kapan ada bangunan megah semacam itu di bukit ini?” pertanyaan itu menghampiri benak Tomo.
Daripada penasaran sampe pulang ntar, Tomo dan Rui memutuskan untuk masuk ke rumah itu.
Baru sampai depan rumah saja mereka tak henti-hentinya ber-wow-ria. Rumah itu menakjubkan, lebih dari kerajaan Tomo dan Rui sendiri.
“Sebenarnya wanita macam apa yang menjadi istri Yuh?” Rui sempat bertanya begitu pada patung Teletabis. Patung lagi patung lagi… bosen gw ngetiknya -_-)

“Mas Tomo? Mas Rui?” Yuh terkejut melihat kehadiran kedua kakaknya yang seperti tiba-tiba itu. Yuh lalu mempersilahkan keduanya masuk. Tomo dan Rui makin nganga terpesona melihat isi rumah itu. Berbagai pujian dan kata-kata ketakjuban terus terlontar. Baru tau kan, ternyata anak-anak raja juga bisa bertingkah kampungan.
Sementara Tomo dan Rui masih sibuk melihat-lihat pajangan di dalam rumah, Yuh sibuk memikirkan jawaban bohong kalau nanti kakak-kakaknya tanya soal istri Yuh.
“Ngomong-ngomong istrimu kemana?” tanya Rui yang lagi asik elus-elus pajangan poci Aladin, yah siapa tau bisa nongol Jin ‘ScReW’ dari sana.
“I-istriku… paling-paling lagi main ke hutan atau arisan. Hehee…” jawab Yuh seadanya.
“Istrimu kerja apa, kenapa bisa bangun rumah se-emejing ini?” jleb! Pertanyaan Tomo ini cukup membuat kepala Yuh mendadak migren. Sejak ditinggal di bukit waktu itu, Yuh sudah tidak pernah dapat jatah uang jajan dari si babeh, Tomo juga tau Yuh itu belum bekerja, jadi wajar kalau Tomo mengira istri Yuh yang bekerja.
“Ini rumah warisan dari orang tua istriku” mampus! Semoga jawaban Yuh ini bisa diterima.
“Oh… rumah warisan toh?”
“Ehehehe… begitulah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sejak hari itu, Tomo dan Rui jadi sering main ke rumah Yuh. Selain ngincer jamuannya yang enak-enak, mereka juga pasti ngarep pulangnya dibawain beras dan sebongkah berlian lagi kayak kemaren.
Tapi mereka heran, setiap kali rumah Yuh didatengin, istri Yuh ga pernh ada di rumah. Alsannya cuma dua, kalau ga lagi main ke hutan ya palingan lagi arisan.

Tomo dan Rui curiga. Yuh pasti menyimpan rahasia besar dibalik kehidupannya yang makmur jaya itu. Rasa curiga dan ingin tau itu meluap hingga akhirnya Tomo dan Rui memaksa Yuh untuk mengungkap identitas sang istri.
Mereka terus mendesak bahkan memojokkan Yuh, sampai kesabaran Yuh menuju puncak gemilang cahaya. Tanpa bermaksud mengkhianati Umi dan membohongi kedua kakaknya, akhirnya Yuh mengaku bahwa selama ini dia tidak hidup bersama seorang wanita tomboy pemburu, melainkan dengan Dewi Perburuan, Artemis.
Tomo dan Rui terbelalak tak percaya. Namun jika melihat kenyataan di depannya, mereka yakin bahwa adiknya itu tidak berbohong. Yah percaya ga percaya gitu deh.
Ketika Rui meminta Yuh untuk memperlihatkan sang dewi pada kedua kakaknya, Yuh lagi-lagi bingung harus ngeles apa.
Mau tidak mau, Yuh berkata pada kedua kakaknya bahwa ia tidak diperbolehkan melihat wujud aseli Artemis. Dan Yuh telah berjanji untuk tidak melihat Artemis dengan cara apapun. Selama Artemis terus berada di sampingnya itu sudah lebih dari cukup.

“Kau yakin dia mencintaimu?” tanya Tomo setengah berbisik.
“Dia sangat mencintaiku. Aku juga sangat mencintainya, melebihi apapun.”
“Kalau memang begitu, kenapa dia harus menyembunyikan wujudnya dari orang yang dia cintai? Sekalipun dia adalah dewi.”
“…” @,@
“Dasar bodoh! Mau-maunya dibohongi. Dia tidak mengizinkanmu melihat wujudnya karena dia mengerikan, dia tidak ingin kau takut lalu pergi meninggalkannya dan harapannya untuk mendapatkan kecantikanmu itu musnah!”
“Yak! Rui benar! Kau telah masuk ke perangkap monster itu. Ramalan master Hyde itu selalu benar. Makhluk yang selama ini tinggal bersamamu bukanlah dewi, tapi monster wanita setengah ular yang mengerikan. Sekarang dia memang memanjakanmu dengan semua ini, tapi percayalah ini tidak akan berlangsung lama. Tinggal menunggu waktu kapan dia akan memperlihatkan wujudnya dan memangsamu, merenggut kecantikanmu” perkataan Tomo cukup ampuh menggoyahkan iman Yuh.
Meskipun awalnya Yuh menampik anggapan kedua kakaknya, tapi hati kecil Yuh tergerak untuk mengetahui wujud aseli makhluk yang mengaku sebagai Dewa Cinta itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Malam itu adalah malam yang sangat berat bagi Yuh untuk menentukan satu di antara dua pilihan. Tetap memegang teguh janjinya untuk tidak melihat wujud Umi sampai ia mengizinkannya atau memaksa melihat wujud aseli Umi yang mungkin adalah sosok makhluk mengerikan yang akan memangsa Yuh jika waktunya tiba.
Namun, siapapun Umi, malam itu juga Yuh harus mengetahui wujud aseli makhluk yang selama ini tinggal bersamanya.

Tengah malam ketika Umi sedang tidur di kamarnya, dengan lancang Yuh menyelinap masuk. Tangan kanannya menggenggam sebuah light stick yang biasa dipake buat nonton konser Jeketi. Eh bukan deng, maksudnya… sebuah lampu senter 5 watt yang biasa dipake buat nangkep kodok.

Detak jantung Yuh lebih cepat dari biasanya, bahkan lebih cepat dibandingkan saat dia digrepeh-grepeh Umi *hus! hus!!*
Langkahnya maju-mundur menandakan masih ada sedikit keraguan dalam diri Yuh. Atau mungkin Yuh merasa takut? Ntahlah, pokoknya malam itu Yuh cuma pingin tau wujud Umi yang sebenarnya. Abis liat ntar udahan kok, Yuh nya bakalan cepet-cepet keluar dari kamar Umi.

Ngrroookkk~ ngrrroookkk~
Ngrroookkk~
Telinga Yuh menangkap suara ngorokan khas orang tidur ngebo. Dih, ga nyangka ya bang Umi tidurnya ngorok.
Jarak antara Yuh dengan tempat tidur Umi semakin dekat. Dan ketika kaki Yuh mulai menyentuh tepi tempat tidur Umi, Yuh mendekatkan lampu senter 5 wattnya ke arah makhluk yang tengah tertidur pulas itu.
“Oh… oh my…” O///O
Betapa terkejutnya Yuh begitu melihat seonggok pemuda tampan dengan wajah berseri-seri berbaring di hadapannya. Yuh semakin mendekat. Butuh waktu lama untuk mempercayai wujud aseli Umi yang selama ini ia rahasiakan sendiri.
Yuh menemukan sebuah kacamata tergeletak di samping tempat tidurnya.
‘Jadi… jadi Umi burem?’ tanya Yuh dalam hati. Masih ngobrol sendiri, ‘Umi bilang Umi bisa terbang. Tapi aku tidak menemukan sepasang sayap di sini. Apa mungkin Umi terbang pakai sayap anti kerut anti bocor? Ah, mana bisa?’ kebingungan itu segera enyah saat Yuh memandangi wajah tampan itu lekat-lekat.
Meski dalam keadaan terpejam, tapi Yuh bisa membayangkan betapa hangatnya tatapan mata Umi. Dan betapa genitnya tatapan itu setiap kali ia merayu Yuh.
Pandangan Yuh turun ke hidung Umi, dia intip-intip lubang hidung Umi ‘Wah, ternyata lubang hidung Umi gede. Kata temanku yang namanya Gin, kalau lubang hidungnya gede gengsinya juga gede. Ahaha… bisaan aja!’
Sudah cukup, Yuh tidak ingin berlama-lama mengintip lubang hidung Yuh, takutnya ada tikus nongol dari sana trus ngajak kenalan.
Beralih ke bibir Umi yang sekarang udah mingkem, udah ga ngebuka kayak waktu ngorok tadi.
Yuh cecengiran sambil blushing membayangkan bagaimana bibir itu bisa menghasilkan sebuah kelembutan ketika mencium Yuh. Pfftt~ apa sih bahasanya, menghasilkan kelembutan :v *serasa aneh baca kalimat sendiri*

Yuh lupa dengan rencananya untuk segera meniggalkan kamar itu setelah mengetahui wujud aseli Umi, hingga dewa tampan itu mulai terbangun karena merasakan kehadiran orang lain di dekatnya.
Yuh panik ketika tubuh Umi sedikit bergerak. Saat Yuh beranjak dari tempat tidur Umi, Umi membuka kedua matanya. Menyadari ada cahaya di dekatnya, Umi terperanjat. Dan betapa terkejutnya Umi ketika melihat lelaki cantik dengan sebuah lampu senter di tangannya tengah berdiri di tepi tempat tidurnya.
“YUH??”
“U-Umi-”
“Kau… kenapa kau melakukan ini Yuh? KENAPA??”
“Kenapa? Kau mau tau jawabannya? Jawabnya ada di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak-”
“YUH!!!!” satu gertakan membuat Yuh menundukkan wajahnya. Abisan, orang lagi marah malah dibecandain -_-)
“Maaf… maafkan aku, Umi…” Yuh mengulurkan tangannya mencoba meraih tapi Umi menepisnya kasar. Umi hanya memandangi Yuh dengan tatapan murka.
Tanpa mengatakan sesuatu, Umi beranjak dari tempat tidurnya, meraih kacamata dan memakainya lalu ia berjalan ke arah jendela.
“Umi, tunggu!!” Yuh berusaha mengejar Umi, namun langkahnya terhenti saat Umi menoleh ke arahnya.
“Cukup, Yuh! Kau sudah melakukan kesalahan besar. Dengan melihat wujudku sebelum aku izinkan, itu berarti kau tidak mempercayaiku. Dan kau tau apa yang akan terjadi setelah ini” Umi bersiap untuk terbang dari kamarnya yang berada di lantai 13. wuiiih… rumah susun kali?
Tapi ada sesuatu yang menahannya. Ia berbalik arah lalu berjalan menuju lemari penyimpanan sayapnya. Ternyata Umi lupa pasang sayap.

Setelah mengenakan sepasang sayap tipe M 48 UR (dibaca : MABUR) Umi kembali ke arah jendela. Ia bersiap untuk terbang meninggalkan Yuh.
Sebelum benar-benar pergi, Umi mengatakan sesuatu dengan nada penyesalan…
“Cinta tidak dapat hidup dimana tidak ada kepercayaan.” (kalimat ini diambil dari buku Mitologi Yunani by Edith Hamilton, ada di halaman 82) XD

Whussss~
Umi melesat terbang meninggalkan Yuh yang diselimuti rasa bersalah dan rasa penyesalan yang amat dalam. Ia telah melukai Umi. Dan Umi telah pergi meninggalkannya entah kemana.
Yuh hanya bisa tertunduk lesu menyalahkan dirinya sendiri.
Entah apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya, untuk membuat Umi kembali padanya. Seandainya bisa.

umixyuh by hiraito
hirahiraito.deviantart.com

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=T-B-C=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s