the GazettE fanfic _ RAMAYANA (chapter 3)

Title       : Ramayana Abal-abal 
Chapter : 3 
Pairing   : AoixUruha, ReitaxUruha 
Genre    : romance, fantasy, gaje, amburegul 
Author    : Leo Senri Vieleofitria Rizky feat. Hira Hiraito *ciiee ff kolab ciieee*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Shinta menghabiskan hari-harinya di kerajaan Reitahwana bersama sang raja. Memang sih, dulu pas awal-awal Shinta sempet najong tralala sama raja yang noseband nya ga pernah diganti itu, tapi lama-lama Shinta mulai merasa sedikit nyaman ada di dekat Reitahwana.
Ntah karena Reitahwana yang suka manjain Shinta atau karna jauh dari Rama jadi Shinta bisa asik-asikan sama Reitahwana. Pffttt~ Shinta bukan jablai tapinya :v
Ya abisan gimana, Shinta udah ga bisa kabur dari kerajaan Reitahwana.
Lagipula Reitahwana tidak sejahat yang Shinta kira kok. Ternyata setelah kenal lebih jauh, Reitahwana itu orangnya baik. Ya walaupun gaptek sih, ga kayak kanda Rama yang punya akun sosmed ini itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sejak hilangnya Shinta, negeri Mantili dirundung kesedihan mendalam. Sang Prabu yang biasanya riang gembira sampe sekarang belum pernah keliatan senyumnya.
Dewi Sagawati juga tidak kalah suram dengan Prabu Tora. Terlebih Rama, udah sedih kehilangan Shinta ditambah sakit ati karna main disalah-salahin gitu aja sama seisi Mantili, dianggapnya Rama itu suami yang ga becus jagain istri. Main di hutan aja bisa sampe ilang udah kayak ngajak main anak ayam.

Segala daya upaya Rama lakukan untuk bisa menemukan Shinta. Mulai dari nyepam di akun sosial medianya, tebar brosur orang ilang, sampe utak atik google map. Waktu itu belum ada polisi yang bisa dipake buat laporan. Polisi sama google map lahirnya duluan mana sih? O.o
Rukiman si kera putih sahabat karibnya Rama pun sampai sekarang belum memberi kabar tentang keberadaan Shinta. Padahal katanya si Rukiman itu kera putih ajaib, tapi nyari Shinta aja ga nemu-nemu. Ah, kera putih abal-abal -_-

Waktu berlalu. Sehari setelah Rukiman dikatain “kera putiih abal-abal” sama author, dia pun nongol. Panjang umur dah.
Rama yang ketika itu tengah khusyuk menggalau di kamarnya tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran sosok kera putih rada mbul yang tau-tau nongol dari jendela.
“Rukiman!!” Rama membuka jendela kamarnya tanpa mempedulikan Rukiman yang jidatnya kepentok jendela. Lagian Rukiman juga sih, masa temen Raden Rama masuknya lewat jendela?

Rukiman lalu masuk ke kamar Rama dan langsung disambut Rama dengan pertanyaan seputar keberadaan Shinta.
“Selow Ram, selow!” ujar Rukiman sambil bernapas. Dari awal dateng dia udah sesek napas duluan ngeliat Rama yang ga bisa anteng.
“Aku sudah tau di mana Dewi Shinta berada!”
“DI MANA? DI MANA AYO CEPAT KATAKAN, RUK!! KATAKAN PADAKU YANG SEJUJURNYA DI MANA SHINTA!! KATAKAAAANNNN!!!” desak Rama pake capslock sambil guncang-guncangin Rukiman.
“Tenangen awakmu, Ram!”
“TIDAK BISA!! AKU TIDAK BISA TENANG SEBELUM KAU KATAKAN DI MANA SHINTA!! JAWAB AKU, RUKIMAN! DI MANA SHIN-”
Prettt! Satu selepetan dari Rukiman sukses membungkam Rama yang nerocos mulu kayak knalpot bajaj.
“Dewi Shinta telah diculik!”
“Apah? Dinda Shinta diculik? Siapa yang menculik Shintaku? Siapa?” jenggot Rama kebakaran. Ralat! Rama kebakaran jenggot.
“Siapa? Kasih tau ga ya?”
“KASIHTAU DONK!!!” >w<
“Pasti mau tau banget ya Ram?” elah si Rukiman malah becandain.
“Bukan cuma mau tau, tapi aku juga mau mencekikmu!” Rama gregetan parah sama tu monyet. Eh, kera maksudnya. Kera itu ya… monyet kan?
“Baiklah, baiklah. Akan aku beritau. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Wani piro?”
Rama kehabisan kesabaran. Ia lalu menarik kejam(?) ekor si Rukiman yang di belakang. Ya emang monyet ekornya di mana lagi kalo ga di belakang? XD
Rukiman akhirnya menyerah becandain Rama.

“Baiklah. Rama, istrimu… diculik oleh seorang raja dari negeri Alayka.”
“Ra-Raja dari negeri Alayka?” OwO
“Ya. Namanya Suzuki Akira, bukan nama sebenarnya.” Ngekk~
“Lalu nama sebenarnya siapa?”
“Dia… berinisial R.”
“SIAPA NYET?? SIAPAAAAAA????” aseli, kalo bukan temen sendiri udah Rama bejek-bejek ampe penyet tu monyet.
“R to the E to the I to the T to the A to the-”
“TO THE POINT AJA APA SUSAHNYA SIH?” kali ini Rama udah nyiapin gergaji mesin buat sunatin si Rukiman.
“Eh, iya iya iya. Dia… dia adalah… Reitahwana!”
“Reitah…wana?” O.O
“Ya. Dia lah raja alay tukang galau yang telah menculik Dewi Shinta.”
Wajah Rama yang tadinya merah padam karena ga abis-abis dikerjain Rukiman sekarang jadi makin merah merekah pecah-pecah mendengar nama si penculik itu “Kalau begitu, kita ke sana sekarang! Kita habisi si Reitahwana lalu kita bawa pulang Shinta!”
“Kita? Kau saja!” -_-
“…!!” tanpa menggubris respon Rukiman, Rama menyeret monyet putih itu keluar lalu mereka pun pergi ke negeri Alayka tanpa berpamitan dulu ke Prabu Tora dan Dewi Sagawati. Orang tua Shinta memang sedang galau akut, susah dimintain pamit (apalagi dimintain uang ongkos).

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya sampai juga Rama dan Rukiman di negeri Alayka. Harusnya mereka udah nyampe dari tadi banget, tapi capung raksasa piaraan Rama sempat mogok di tengah perjalanan, ditambah tadi ada insiden tabrakan kecil sama pesawat Nagaterbang Air, jadi lah Rama dan Rukiman rada telat nyampenya.

Rukiman yang berwujud monyet setengah manusia kemudian merubah wujudnya menjadi monyet sungguhan dengan bulu abu-abu agar tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa itu adalah monyet jejadian.
“Bagus!” Rama menepuk pelan kepala monyet di depannya “Sekarang kau masuk ke kerajaan, ceritanya jadi monyet nyasar terus kelaparan!”
Rukiman yang berwujud full monyet lalu menyusup ke kerajaan melalui pepohonan di sekitar kerajaan. Sementara Rama menunggu tak jauh dari kerajaan dengan menyamar sebagai abang somay somaynya abis.
Cukup sukses. Tak ada seorang pun yang menyadari kehadiran Rukiman hingga monyet tengil itu sampai di halaman belakang kerajaan tempat Reitahwana main petak umpet sama Shinta. Ppffttt~ ya gitu deh, tempat Reitahwana nyantai buang waktu kalo lagi ga ada kerjaan.

‘Dewi Shinta?’ seru Rukiman dalam hati ketika melihat Shinta tengah asik berkutat dengan kain batik di tangannya.
Tak lama, Reitahwana datang menghampiri Shinta, “Cantik… kau sedang apa?”
“Sedang… membuat noseband!”
“Eh?”
“Aku lihat noseband mu sudah bulukan. Jadi aku pikir tidak ada salahnya membuatkanmu noseband baru dengan bahan batik” Shinta tersenyum. Sementara Reitahwana cengo mendengar perkataan Shinta. Hey, Shinta tidak tau tentang misteri noseband buluk yang setia membelit hidung Reitahwana itu!
Di atas pohon asem, Rukiman memandangi Shinta penuh heran, ‘Dewi Shinta… kenapa dia terlihat normal seperti biasa? Tidak ada tanda-tanda menderita karena diculik.’
Setelah puas melihat kondisi Shinta, Rukiman mengalihkan pandangannya pada sosok lelaki tampan yang duduk di samping Shinta.
‘i-itu…’ suara hati Rukiman menyebutkan bahwa lelaki tampan itu adalah sang raja Alayka, alias Reitahwana, alias si penculik Shinta.
‘Tidak salah lagi, pasti dia adalah Reitahwana! Kelihatan dari nosebandnya!’ Rukiman terus memperhatikan Reitahwana dari atas pohon. Tapi semakin lama Rukiman memperhatikannya, Rukiman jadi doki-doki sendiri.
‘Tak disangka, ternyata penculik Dewi Shinta itu tampan juga ya! Pantas saja Dewi Shinta betah diculik’ tanpa sadar Rukiman blushing.
Meski sempat beberapa detik terpesona oleh ketampanan Reitahwana, Rukiman tidak melupakan misi utamanya untuk membebaskan Shinta.

Krek!
Gubrag!
“Eh?” Shinta dikejutkan oleh suara ranting pohon yang patah dan disusul suara seperti benda jatuh dari atas. Kalo dari bawah namanya “nyumul”.
Shinta menoleh ke sumber suara, dilihatnya segeluntung monyet sedang ntah apa Shinta tidak bisa memastikannya. Terlihat monyet itu mengelus-elus kepalanya.
Sepertinya dia terjatuh, begitu pikir Shinta.
“Reitah, ada monyet jatuh!” seru Shinta.
“Hah? Ayo bikin permohonan!”
“Bukan bintang jatuh, tapi monyet jatuh!” Shinta baru tau selain mungkin hidungnya Reitahwana tersumbat karna pake noseband, ternyata telinganya juga tersumbat.
“Mana?”
“Tuh!” tunjuk Shinta ke si monyet yang masih betah aduh-aduhan di bawah pohon, “Sebentar ya!” Shinta mengabaikan calon noseband batik buatannya lalu berlari menuju pohon asem yang tak jauh dari tempatnya duduk-dudukan.

Dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri, Shinta meraih monyet itu ke pelukannya lalu mengusap lembut kepala si monyet “Uluh uluh… kacian…”
Ekspresi monyet jejadian itu berubah sok manja tapi juga terlihat menikmati pelukan lembut Shinta. Mana si Shinta pake kemben, kan… gimanaaa gitu.
‘Asik ya dipeluk cewe. Pantesan Rama gemukan sekarang’ batin Rukiman. Ntah apa maksudnya, tanyakan saja pada ekor monyet yang bergoyang.
Tak lama, Reitahwana datang menghampiri Shinta dan si monyet “Bagaimana, apa dia terluka?”
“Sepertinya tidak. Tapi kasian, aku tidak tega melihat wajahnya yang memelas ini” tangan kiri Shinta gelayutan manja di lengan Reitahwana “Reitah, aku ingin merawat monyet ini. Boleh ya!”
Reitahwana melirik monyet itu sedikit judes, tatapannya seperti mengatakan… ‘Beruntung banget lu nyet!’
“Rei?”
“Eh? i-iya, boleh saja” apa sih yang enggak buat Shinta si calon istri? -_-
“Makasih, Reitah. Kau memang baik” senyum bahagia terukir di wajah cantik Shinta.
“Memang dari dulu aku baik” Reitahwana kembali memandangi si monyet, tapi kali ini Reitahwana merasa ada yang tidak beres dengan tatapan monyet itu.
Walaupun hanya seekor monyet, tapi Reitahwana risih kalau ditatap dengan tatapan seperti itu.
“Apa nyet? Kau mau pisangku?”
Si monyet blushing.
“Eh, maksudnya pisang yang ada di kebonku. Itu, di kebon belakang.”
“Nah! Ide bagus! Pasti si monyet ini lapar. Ayo Reitah, kita ajak dia jalan-jalan ke kebon pisang!” ajak Shinta semangat.
“Ayok!” dengan senang hati Reitahwana mengiyakan ajakan Shinta.
“Ayo nyet!”
“Kok ‘nyet’nya ngadep ke aku? Memangnya aku si monyet?” protes Reitahwana.
“Eh, hehe… bukan, bukan! Aku salah nengok” Shinta ngehe ala kadarnya.

Mereka bertiga lalu berjalan menuju kebon pisang kerajaan pake kereta kuda.
Kerajaan Alayka ini luasnya jauh melebihi luas jidat Aggy, apalagi kebon-kebon yang tersebar di sekitar kerajaan, udah ngalahin taman buah Mekar Sari. Buah apa aja lengkap dah.
‘Pasti si Rukiman seneng banget nih diajak menjelajahi kebon pisang’ begitu pikir author. Shinta juga mikir gitu. Tapi pas udah nyampe di kebon pisang… ampun! Si monyet kecewa berat!
Monyet itu langsung ngambek pas liat pohon-pohon pisangnya. Hampa! Ga ada satu pun pohon pisang yang berbuah. Ada sih, tapi pisangnya masih kunyil-kunyil, mana doyan dia? -_-
‘Kamprettos nih si Reitahwana!’ batin Rukiman menjerit.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sejak kehadiran si monyet di kerajaan Alayka, Shinta jadi ga sering-sering galau. Dia serasa punya teman baru yang bisa dibully seenaknya.
Tapi Reitahwana suka sebel kadang, abisnya tiap Shinta ngajak ngobrol si monyet pake acara nyebut “nyet, nyet” itu nengoknya ke Reitahwana. Akhirnya Reitahwana memutuskan untuk memberi nama monyet itu “Kimin”, biar Shinta ga seenak jidat manggil-manggil “nyet”, kurang enak didengar Reitahwana.

Rukiman tak ingin berlama-lama membuang waktu di kerajaan Alayka dan membiarkan Rama menyamar jadi kang somay terus-terusan.
Malam itu, Shinta tengah tertidur lelap, kayaknya dia kecapekan karna seharian main-main sama Rukiman a.k.a Kimin.
Rukiman yang masih terjaga sengaja keluar dari kamar lalu menyusup ke sebuah kamar tempat Reitahwana tidur.
Jengjeng~
Rukiman berhasil masuk ke kamar Reitahwana ntah dengan cara apa. Dia kan sakti ceritanya.
Ia terpaku beberapa jenak ketika matanya tertuju pada sesosok lelaki tampan yang lagi TOPLESS sambil komat-kamit sendirian kayak yang sibuk baca catetan utang.
Wow! Baru kali ini Rukiman sedoki-doki itu ngeliat cowo ganteng. Mana topless.
Aduh itu body…
Itu bibir yang lagi komat-kamit…
Itu mata…
Itu hidung yang lagi ngumpet…
Itu rambut yang sliwir-sliwir(?) kena angin dari jendela kamarnya…
Pesona Reitahwana berhasil menjerat Rukiman. Kalau penculiknya seaduhai ini sih Rukiman rela gantiin posisi Shinta.

“Wetonku dan wetonnya Shinta cocok. Kalau dihitung dari weton dan tanggal lahir, tanggal ini dan hari segini adalah waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahanku dengan Shinta!” perkataan Reitahwana sukses bikin Rukiman keselek biji duren.
‘Melangsungkan pernikahan?’ OwO
Oh, jadi daritadi Reitahwana komat-kamit itu lagi ngitungin tanggal nikahan?
Rukiman harus bertindak sebelum tanggal itu tiba.
Selesai dengan urusannya, Reitahwana lalu rebahan sejenak di ranjang. Tetiba ia teringat noseband batik bikinan Shinta yang udah jadi dari kemarin.
Ia raih noseband batik itu yang tergeletak di meja dekat ranjang lalu memandanginya “Noseband ini memang keren. Pasti aku semakin tampan jika memakainya. Tapi maaf, Shinta… aku tidak bisa mengganti noseband lecekku ini dengan noseband apapun.”
Dari tempat terpencil di sudut kamar, Rukiman memandangi Reitahwana dan nosebandnya dengan tatapan penasaran(?)

Tak lama, Reitahwana tertidur dengan tangan yang masih menggenggam noseband batik buatan Shinta.
Rukiman lalu kembali ke kamar Shinta.
Sudah tiba waktunya.

“Dewi Shinta… ah, tuan putri…” suara lumayan cempreng itu membangunkan Shinta dari tidurnya.
“Ngh..” Shinta membuka kedua matanya perlahan, ngumpulin nyawa dulu.
“Tuan putri…”
Begitu kesadaran Shinta mencapai 100%, Shinta terkejut setengah metong melihat seonggok monyet putih berwujud manusia (?) berdiri di tepi tempat tidurnya.
“Ru-Rukiman?!?!” OwO
“Ssttt~” Rukiman berbisik “Aku datang ke sini bersama Rama. Tuan putri akan segera kembali ke Mantili.”
“Benarkah?” hati Shinta lompat-lompat(?) bahagia ga karuan mendengar perkataan Rukiman. Apalagi dia bilang ke sininya sama Rama. Berarti Rama ga jauh-jauh dari Shinta. Duh, Shinta jadi ga sabar pingin cepet-cepet pulang.
“Baiklah. Tuan putri tetap di sini. Aku akan menemui Rama sebentar”
Cusss! Rukiman kembali berubah wujud menjadi Kimin lalu keluar lewat jendela.
Tuh kan? Emang cuma pemain tokusatsu doang yang bisa berubah wujud?
“Heee?” Shinta terkejut lagi setelah menyadari bahwa ternyata monyet peliharaannya itu adalah Rukiman. Mendadak Shinta jadi nyesel parah udah peluk-peluk si monyet.
Anjir! Mana pas itu si Kimin sempet disuruh boboan di dada Shinta >////<
Tenang Shint, Kimin kagak doyan cewe kok, dia doyannya sama cowo ganteng yang lagi ngebo di kamar sebelahnya kamar sebelah :v

Tak lama, Rukiman kembali ke kamar Shinta masih dengan wujud Kimin.
Cusss! Ia berubah wujud lagi ke asalnya. Ah, Rukiman, berubah mulu ntar batrenya abis loh -_-
“Tuan putri, Rama menunggumu di halaman belakang yang ada pohon asemnya.”
“Pohon asem yang mana? Di sini ada banyak pohon asem.”
“Itu, pohon asem yang ada tulisannya ‘Dilarang kencing di sini’. Sebaiknya Tuan putri ke sana sekarang” sebelum beranjak, Rukiman melindungi Shinta dengan pagar ghaib (?) agar tidak bisa dilihat oleh mata orang biasa macem penjaga-penjaga kerajaan yang lagi main karambol di pos depan.
“Tuan putri tidak akan terlihat oleh mata penjaga-penjaga kerajaan, tapi tuan putri harus tetap hati-hati. Okeh?”
“Ya. Aku mengerti.”
“Baiklah. Sekarang tuan putri keluar lewat jendela. Nistah sedikit tidak apa-apa ya!”
Shinta mengangguk pasrah mengikuti perintah Rukiman. Baru kali ini dah, tuan putri cantik macem Shinta keluar kamar lewat jendela.
“Rama sedang menyamar jadi pohon kesemek, jadi nanti jangan histeris kalau tuan putri sampai di dekat pohon asem terus tau-tau ada pohon yang memeluk tuan putri.”
“Heee?” Shinta ga bisa bayangin gimana suami keren badasnya bisa nyamar jadi pohon kesemek.
“Tuan putri siap?”
“Siap!”
“Ok, waktunya dimulai dari… sekarang!!” jadi inget acara master chef @,@

Shinta bergegas keluar kamar lewat jendela dengan sangat hati-hati. Namun ia seperti merasakan sedikit kesedihan di dalam hatinya. Shinta akan segera bebas, dan itu artinya dia akan berpisah dengan Reitahwana. Reitahwana pasti menggalau parah jika ia terbangun nanti dan tak melihat Shinta lagi.
Tapi Shinta juga tak ingin diperistri oleh Reitahwana.
‘Kanda Rama, aku akan pulang!’ :’)

Sementara Rukiman kambali mengubah wujudnya menjadi si Kimin lalu menyelinap ke kamar Reitahwana.
Apa yang akan Rukiman lakukan? Grepe-grepe Reitahwana? Ntahlah. Hanya Tuhan, Rukiman, dan supir bajaj yang tau.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=T.B.C=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Makasih banyak yang udah baca ^o^)//

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s