the GazettE fanfic _ RAMAYANA (chapter 1)

Title       : Ramayana Abal-abal 
Chapter : 1 
Pairing   : AoixUruha, ReitaxUruha 
Genre    : romance, fantasy, gaje, amburegul 
Author     : Leo Senri Vieleofitria Rizky feat. Hira Hiraito *ciiee ff kolab ciieee*

Ini ff kolab bareng Leochuu. Idenya Leochuu yang nemu XD
Maaf sekali ya sebelumnya, kita ga ada maksud mengacaukan atau merusak budaya pewayangan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
FF ini cuma niat buat hiburan doank, jadi cerita sama charanya dipleset-plesetin. Bahasa kasarnya… dirusak :v
Maaf ya, sekali lagi ini ga maksud ngerusak budaya sendiri loh XD

Ok deh,
Selamat menikmati~ :3

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dikisahkan seorang raja dari negeri Mantili bernama Prabu Tora Janai Yo! Pfftt~ maksudnya Prabu Tora Janaka, mempunyai putri nan cantik jelita bernama Dewi Takashinta Kouyou atau akrab dipanggil Dewi Shinta.
Dewi Shinta ini memang kecantikannya luar biasa, tapi masih jombelo. Maklum, sebagai tuan puteri yang termasuk limited edition, Dewi Shinta amat sangat dijaga oleh ayahnya. Ga boleh sembarangan cowo macarin Shinta.
Padahal sudah banyak pangeran yang datang mendaftar untuk melamar Dewi Shinta, tapi Prabu Tora selalu menolaknya. Eh ini yg dilamar siapa yg nolak siapa.
Yah begitu lah, pokoknya Prabu Tora ga mau anak perawan satu-satunya itu dapet suami yang kurang tepat. Ntah tipe lelaki seperti apa yg cocok untuk Dewi Shinta menurut Prabu Tora. Padahal yg datang melamar itu semuanya dari kaum darah biru, tidak ada satu pun dari mereka yg dari kaum umum (umumnya orang kan darahnya merah).
Ah, pangeran-pangeran aja pada ditolak ya, apalagi kalo yg ngelamar gitaris band atau tukang betot bass, haha… belum nyampe depan istana mungkin udah ditendang.

Suatu ketika, sang Prabu menggalau sendirian, memikirkan masa depan negeri Mantili semisal beliau sudah pensiun dari jabatannya sebagai raja.
“Sudah saatnya Shinta menikah lalu mempunyai keturunan. Tapi…” lagi-lagi Prabu Tora bingung harus berbuat apa untuk mendapatkan calon suami yang cocok untuk putrinya.
Bibit unggul untuk mencetak produk cucu berkualitas itu, harus nyari di mana?
Di tengah kebingungannya, Dewi Sagawati sang istri tercinta mendapat wangsit(?). Pfftt~ kayak mau bikin ff aja pake wangsit.
Dewi Sagawati meminta kakanda Tora nya mengadakan event sayembara untuk mendapatkan calon menantu yang berkualitas tinggi.
Prabu Tora pun setuju. Segera ia membicarakan tentang rencana sayembara itu ke Dewi Shinta.

Prabu Tora dan Dewi Sagawati mendatangi putri cantiknya yang tengah asik meni pedi sambil twitteran di taman belakang.
Melihat kedatangan kedua orang tuanya, Dewi Shinta menghentikan aktifitasnya seketika. Tab yang dia pake buat twitteran dia selesepin dulu di kemben. Bisa mampus kalo sampe romo sama mamihnya tau selama ini Shinta punya akun twitter. Betewe apaan sih, masa manggilnya Romo sama Mamih? Ya udah deh biarin asal Shinta bahagia.

Prabu Tora duduk di samping putrinya. Dan tanpa basa basi karena kelamaan, sang Prabu langsung mengutarakan maksud hatinya “Shinta sayang, ada yang ingin romo bicarakan. Ini tentang… calon pendampingmu.”
“Ada apa romo? Apa romo sudah menemukan orang yang tepat?” tanya Shinta.
“Nah, itu dia! Masalahnya sampai sekarang romo belum menemukannya. Tadi pagi sih ada, seorang pemuda dari negeri Gajet datang melamar. Tapi langsung romo tolak mentah-mentah karena ternyata dia adalah seorang gitaris. Romo tidak ingin punya menantu anak band.”
“Terus?”
“Shinta, kau adalah seorang putri raja yang high quality, limited edition, tentunya kau harus punya pasangan yang setara denganmu. Juga supaya nantinya kau dan suamimu menghasilkan produk dengan kualitas super high quality untuk meneruskan tahta kerajaan jika romo pensiun nanti.”
“So?”
“So, romo akan mengadakan sayembara untuk menemukan pasangan yang tepat untukmu.”
“Sayembara?”
“Ya. Bagaimana? Shinta setuju kan?”
“……” Dewi Shinta terdiam beberapa jenak.
“Pasti setuju donk? Iya lah, setuju aja!” desak Dewi Sagawati.
Karena Shinta adalah anak penurut, ditambah desakan dari sang mamih, ia pun meng-iya-kan permintaan romo mamihnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari itu, kerajaan Prabu Tora terlihat penuh sesak oleh lautan manusia. Bukan acara bagi-bagi sembako bagi rakyat yang ngakunya jelata, bukan penemuan cicak dengan ekor bercabang, bukan juga lomba makan kelereng dalam rangka 17 Agustusan, tapi hari itu kerajaan Mantili sedang menyebarkan pengumuman event sayembara pencarian bakat. Bukan, tapi sayembara untuk menemukan pendamping hidup buat Dewi Shinta.

Sayembara yang akan diadakan lumayan ekstrim. Peserta harus dapat menangkap ikan gurame di empang Banyu Butek sebanyak-banyaknya.
Semua orang tau, empang Banyu Butek adalah empang terlarang yang terletak di kaki gunung yang ga ada namanya. Saia bingung mau ngasih nama apa ke gunung itu.
Empang Banyu Butek dijaga oleh seekor ikan lele raksasa yang tidak bisa dianggap remeh. Ia mempunyai kumis pamungkas yang jika dipotong, kumis itu malah akan bertambah. Mirip seperti kepala Hydra di mitologi Yunani *ciieee nyontek* XD
Untuk mendapatkan banyak ikan gurame di empang Banyu Butek, peserta harus mampu mengalahkan ikan lele raksasa.

“Pendamping hidup berkualitas tinggi dengan menangkap ikan gurame dan mengalahkan raksasa? Kualitas tinggi menurut romo itu seperti apa sih memangnya?” diam-diam Dewi Shinta mikir begitu.
Meskipun mungkin kurang nyambung, tapi Dewi Shinta tetap menerima keputusan romonya itu dengan legowo. Ia sangat patuh dan percaya pada romo tersayangnya. Apapun yang romonya lakukan pasti itu lah yang terbaik. Iye kali.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Esok paginya, sayembara dimulai. Peserta pertama berasal dari negeri sebelah. Masa negeri cuma sebelah?
Pemuda tampan bernama Amanodiningrat, dengan berbekal busur panah sakti warisan mbah kakungnya, pemuda yang sangat mirip dengan Prabu Tora itu sepertinya sudah siap mental untuk berhadapan dengan maut.
Terlihat ia berjalan dengan gagah menuju empang Banyu Butek yang jika dilihat dari jauh saja aura ‘neraka’nya sudah terbaca.
Dari atas bukit yang cukup jauh dari empang Banyu Butek, Prabu Tora, Patih Kai, para pengawalnya dan seluruh peserta menyaksikan acara sayembara yang ditayangkan live itu. Mereka rame-rame nonton pake layar gede serasa nonton bareng acara piala dunia.
Dewi Shinta dan Dewi Sagawati yang menunggu di kerajaan pun tetap bisa menyaksikan acara sayembara itu melalui live streaming. Ngokk~

Kamera sudah dipasang di setiap sudut arena empang untuk memantau keadaan.
Sementara Amanodiningrat semakin dekat dengan ajalnya. Eh, semakin dekat dengan empang maksudnya.
Namun jika diperhatikan melalui layar, ia terlihat gugup. Keringat dingin bercucuran, langkahnya terasa semakin berat, wajahnya pucat. Jangankan dia sendiri, busur panahnya aja langsung letoy. Duh, kayaknya ga bisa diharapkan nih.
Benar saja, belum sampai kakinya nyemplung di empang, Amanodiningrat udah keburu ngacir duluan. Dia ga bisa bayangin, segede apa lele raksasa penunggu empang itu.

Semua penonton tak terkecuali Prabu Tora tepuk jidat rame-rame. Ternyata ketampanan Amanodiningrat bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mentalnya.
Lanjut ke peserta berikutnya. Seorang putra raja dari negeri sebelah negeri sebelahnya negeri Mantili *hayo lo* bernama pangeran Yoshikirman.
Namun sayang, sebelum melangkahkan kaki menuju medan perang (?) pangeran Yoshikirman sudah keburu dicegah oleh Prabu Tora dan langsung didiskualifikasi.
Alasannya karena pangeran Yoshikirman dianggap sudah kadaluwarsa. Alias terlalu tuwir, terlalu tuwa untuk mengikuti sayembara ini. Padahal belum tentu menang juga sih, tapi buat jaga-jaga takutnya Yoshikirman menang. Prabu Tora tidak ingin punya menantu perjaka lapuk. Masa iya mantu sama mertua tuaan mantunya?
Akhirnya dengan berat hati dan sakit hati, pangeran Yoshikirman enyah dari arena sayembara lalu pulang ke negerinya. Sepanjang perjalanan dia ngedumel “Sialan! Emang jones kagak boleh ikutan sayembara begituan? Anjir tuh si raja macan, mentang-mentang aku ini perjaka lapuk, main dibuang gitu aja”, kira-kira semacam itu ngedumelnya.
2 peserta gugur!
“Berikutnya…” salah satu pengawal Prabu Tora bersiap menyebutkan nama peserta ke tiga. Tapi belum sempat disebutin, peserta ke 3 udah lambai-lambai tangan duluan. Katanya ga kuat mental. Belum siap mati, masih banyak dosa dan banyak hutang. Akhirnya peserta ke tiga mengundurkan diri.
Selanjutnya, seorang pemuda yang mengaku bangsawan dari negeri tetangga jauhnya negeri Mantili. Maksudnya gini loh, negeri Mantili kan punya negeri tetangga sebelah, nah itu di sebelahnya negeri sebelah ada negeri lagi, terus di sebelahnya negeri sebelah negeri sebelahnya Mantili ada negeri lagi, di sebelahnya masih ada negeri lagi, nah di sebelahnya negeri itu. Dia berasal dari sana. Ga penting sih tapi.
Pemuda itu bernama Miyavimanyu. Dilihat dari gayanya sih cukup meyakinkan. Tampangnya juga keliatan pemberani.
Panitia(?) sayembara memberi perintah pada Miyavimanyu untuk segera berangkat menuju empang Banyu Butek, tapi sebelum itu Miyavimanyu bertanya ke patih Kai yang mendapat tugas sebagai salah satu panitia, “Patih Kai, itu empang kira-kira dalamnya berapa meter?”
“Kau tanyakan saja pada lele raksasa yang bergoyang!”
“Yah…” (._.)
“Memangnya ada apa?” tanya sang patih.
“Kalau cetek sih tidak apa-apa. Tapi kalau kedalaman empang itu melebihi dalamnya cintaku ke Dewi Shinta, apa aku bisa lulus sayembara ini? Masalahnya… aku tidak bisa berenang!” (._.)
Patih Kai njungkel. Prabu Tora juga sebenernya ga tahan pingin ikutan njungkel, tapi jaim.
“Kalau tidak bisa berenang kenapa nekat mengikuti sayembara?” mas patih menoyor Miyavimanyu 3X sebelum menyatakan bahwa Miyavimanyu didiskualifikasi karena dianggap tidak memenuhi kriteria peserta.

Peserta demi peserta telah berlalu dan gugur dengan cara mereka masing-masing.
Hingga tersisa lah satu peserta terakhir yang sejak tadi terlihat tenang di tempatnya.
Pemuda tampan, bertubuh tinggi tegak, gagah, bermata onyx dan berbibir… bilang aja ‘sexy’. Dadanya terlihat kotak-kotak bidang. Di belakangnya menemplok(?) seperangkat busur panah dan sebuah keris terselip di antara pakaian dan pinggangnya. Dia terlihat lebih siap tempur dibanding peserta-peserta lain yang udah wassalam duluan.

“Siapa namamu, wahai pemuda?” tanya Prabu Tora yang sepertinya menaruh harapan besar pada peserta sisaan itu.
“Namaku… Prabu Tora mau tau?”
“Mau!”
“Mau tau aja apa mau tau banget?”
“Mau tau aja deh, nanti kalo mau tau banget disangka kepo.”
“Baiklah. Namaku Raden ShiroRama Yuu, biasa dipanggil Raden Rama, atau Rama saja juga boleh.”
“Kau berasal dari mana?”
“Aku berasal dari keluarga baik-baik, Parbu.”
“Bukan! Negerinya!”
“Oh, aku berasal dari negeri Ayodya.”
“Hmm… begitu? Punya akun twitter?”
“Tidak, Prabu.”
“Bagus! Aku tidak suka putriku twitteran, jadi aku juga tidak mau calon suaminya punya akun twitter, nanti putriku ketularan.”
“Tapi kalau akun facebook aku punya, Prabu.”
“Ya sudah tidak apa-apa.” *heeeeh~*
“Pin BBM juga ada. Prabu mau pin BBM punyaku?”
“Boleh, tapi aku tidak punya hempon.”
“Duh!” (//_-)
“Mmm… bagaimana, ibumu sehat?”
“Mmm… maaf Prabu, katanya Prabu cukup mau tau aja, kenapa malah kepo?” Raden Rama lama-lama empet sama si Prabu. Belio itu arahnya kemana yak?
“Oh! Hoho… iya ya?” aduh, Prabu Tor! ~_~

Setelah selesai interview, baru lah Rama dipersilahkan untuk mulai beraksi.
Rama pergi menuju empang dengan langkah tenang namun pasti. Pasti nyampe maksudnya.
Tuh kan, bener? Sampai lah Rama di tepi empang Banyu Butek.
“Hey, lele tengik!” panggil Rama nantangin.
Blutuk blutuk blutuk~
Seketika, munculah gelembung-gelembung dari tengah empang. Rama mengambil satu anak panahnya, bersiap memanah si lele.
Brrrr~
Seekor ikan lele raksasa menampakkan wujudnya ke permukaan, salah satu kumisnya terulur(?) dan siap menyapa Rama dengan sabetannya. Namun dengan sigap Rama mengelak lalu melepaskan anak panahnya ke arah si lele.
Panah Rama menancap di bagian kepala lele itu, tapi bagi si lele, itu hanya semacam cubitan kecil.
Duh, Rama lupa. Harusnya tadi pake password buat aktifin racun mematikan di dalam anak panahnya.
Sementara itu, kumis-kumis si lele semakin liar seolah ingin melilit tubuh kekar Rama lalu meremukkannya.
Rama mengambil anak panah yang ke dua. Kali ini Rama tidak lupa mengucapkan password “*********************” (ga usah mikir keras password nya apa)
Racun mematikan di dalam anak panah itu mulai aktif. Rama lalu melepaskan panahnya.
Jleb!!
Panah itu tepat mengenai mata kiri si lele. Lele itu sedikit klepek-klepek kesakitan, membuat kumis-kumisnya meronta(?) tak terkendali dan hampir menyambar Rama. Duh, ini kalimatnya bisa dibenerin dikit ga sih?

Rama memiliki celah untuk terjun ke empang agar bisa menyerang lele itu lebih dekat.
Pemuda Ayodya itu menyeburkan diri ke empang dan langsung menyerang lele raksasa itu dengan serangan panah bertubi-tubi.
Si lele semakin tak berkutik, racun panah Rama dengan cepat melumpuhkannya. Dan biar greget, Rama mengambil anak panahnya lagi untuk ia tancapkan di mata kanan si lele. Biar matanya si lele ga tinggal sebelah, ntar takutnya disangka pengikut illuminati. Mata satu vroh :v
Tubuh lele itu memang semakin melemah, tapi kumis-kumisnya masih saja berusaha menyerang Rama. Sepertinya kumis-kumis si lele memang punya nyawa sendiri.
Rama tau, kumis-kumis itu tidak dapat ditebas begitu saja karena jika ditebas justru akan semakin bertambah. Makin nyabang.
Melumpuhkan kumis-kumis itu dengan panahnya pun sepertinya tidak akan berhasil.
Tapi tenang! Rama masih punya senjata lain.

Rama kemudian mengambil sebilah keris sakti buatan Empu Gondrong yang diberi nama Keris Dayanti.
Dengan penuh keberanian dan kenekatan, Rama menusukkan Keris Dayanti ke kepala si lele.
Efek-efek sinar menyilaukan ala film laga muncul. Prabu Tora dan para pengawalnya yang lagi nonton bareng pun bisa melihatnya.
Ajaib (ceritanya), dengan hanya menancapkan keris Dayanti berulang kali ke kepala si lele, kepala lele itu terbelah, tercerai berai dari tubuhnya.
Kumis-kumisnya pun kini hanya bisa melambai-lambai seolah mengucapkan selamat tinggal.
Lele raksasa itu tumbang, lenyap ditelan empang. Rama tersenyum lega, akhirnya dia bisa mengalahkan lele itu dengan cukup mudah.

Tak ingin buang waktu, Rama segera mengeluarkan jala sakti pemberian Prabu NAOtonegoro untuk menangkap ikan gurame di empang sebanyak-banyaknya sesuai isi sayembara.
Rama tak butuh waktu lama. Karena ternyata Rama ini titisan Dewa Gurame, Rama cuma perlu memberi semacam kode ke ikan-ikan gurame itu biar mereka masuk ke jala sakti Rama. Haha… mana ada Dewa Gurame XD
Tapi memang terbukti, nyatanya ikan-ikan gurame di empang pada ngumpul ke jala saktinya Rama.
Dan berhasil! Rama telah mengalahkan lele raksasa penunggu empang dan menangkap ikan gurame sebanyak-banyaknya dengan cara penuh sakti-saktian.
Asik ya, apa-apa disaktiin, dibikin ajaib biar gampang. Yah namanya juga ff fantasy gaje XD *melipir*
Pokoknya gimana caranya biar si Rama menang terus bisa dapet Shinta :v

Seluruh rakyat negeri Mantili menyambut hangat kepulangan Prabu Tora dengan menggondol(?) seonggok calon mantu yang telah berhasil memenangkan sayembara.
Para wanita berbaris di depan gerbang kerajaan Mantili dengan menebar bunga-bunga untuk menyambut sang Prabu dan calon menantunya, Shirorama Yuu.
Pluk!
Eh, ada yang nimpuk telor. Ah, itu pasti orang yang sirik sama Rama >,<
Abaikan!

Sampailah Prabu Tora dan Rama di depan pintu kerajaan. Prabu Tora turun dari kudanya yang seharga 2 milyar *bah!* disusul Rama dan para pengawal sang Prabu.
Dewi Sagawati yang sudah sejak tadi menanti kepulangan kakandanya segera menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat ke Rama. Eee~ salah, salah! Salah sasaran. Maksudnya mau meluk kakanda Tora. Duh, permaisuri genit, ga boleh liat brondong beningan dikit -_-
“Kemana Shinta?” tanya Prabu Tora pake celingukan.
“Ah, Shinta di dalam, sepertinya masih malu-malu. Tapi mau kok.”
“Shinta~” panggil sang Prabu lembut.
Kemudian munculah sesosok gadis cantik jelita anggun mempesona dari balik pintu kerajaan. Oh, ternyata Shinta daritadi ngumpet di belakang pintu.
“Iya, romo” dengan suara lembut khas putri raja, Shinta membalas panggilan romonya lalu berjalan mendekati Prabu Tora dan Dewi Sagawati.
“Romo sudah temukan calon suamimu” Prabu Tora menoleh ke belakang menatap Rama yang rupanya sudah blushing parah sejak kemunculan Shinta dari balik pintu. “Dia Rama, sosok pemberani yang telah memenangkan sayembara. Dia berhak menjadi pendampingmu, Shinta.”
Shinta seolah mengabaikan perkataan romonya, ia lebih fokus ke pemuda tampan di depannya yang sekarang sedang mematung terpesona melihat kecantikan Shinta.
Ciieee tatap-tatapan ciieee~

‘Apakah dia jelmaan bidadari?’ itu lah yang ada di pikiran Rama ketika melihat Shinta.
Gadis itu terlihat sempurna di matanya.
Tubuh tinggi, kulitnya yang putih mulus, mata sayu dengan tatapan lembut, hidung yang indah, dan bibir bergelombang(?) yang semakin terlihat menggoda saat tersenyum, semua keindahan itu dibingkai oleh rambut hitam panjangnya yang terurai.

Prabu Tora lalu menyuruh Rama dan Shinta buat pedekate sebentar.
Gitu-gitu juga Prabu Tora ga mau buru-buru nikahin anaknya sama Rama.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah kurang lebih satu minggu pedekate, Shinta bersedia menerima keputusan sang romo menikahkannya dengan Rama.
Kemudian Rama dan Shinta menikah.
Mereka pun hidup bahagia.

Tapi cerita belum selesai sampai di sini. Baru juga chapter 1.

Tak selamanya kebahagiaan menyelimuti kerajaan Mantili, khususnya rumah tangga Rama dan Shinta.
Kira-kira cobaan apa yang akan menimpa keutuhan rumah tangga RamaxShinta?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Alayka, sebuah negeri yang cukup jauh dari Mantili, di sana terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja ceking bernama Reitahwana. (kalo ga pake ‘ceking’ berapaan mbak?)
Reitahwana adalah seorang yang sakti dan dibekali kemudaan kekal. Sebenarnya, usia Reitahwana sudah mencapai 150 tahun, tapi body dan wajahnya tetep segitu-segitu aja. Namun, keawetmudaan yang dimilikinya tidak membuatnya hidup bahagia.
Reitahwana ini bisa dibilang raja galau. Karena sejak kematian istrinya kira-kira 100 tahun lalu, ia dirundung kegalauan mendalam yang tak berujung.
Istrinya bernama Dewi Uruha telah mati terbunuh oleh Awo Angkasa *nama macam apa ini?* ketika Reitahwana tengah terlibat pertikaian dengan Awo Angkasa yang saat itu nekat ingin membawa paksa Dewi Uruha untuk menikahinya.
Sejak itu lah, Reitahwana menggalau sepanjang hari karena kehilangan sosok yang amat sangat ia cintai.
Bayangkan, 100 tahun Reitahwana hidup tanpa didampingi seorang istri, pasti dia bete parah karna ga dapet jatah, makanya dia galau terus :v *dijotos*

Ah, ada satu rahasia besar yang dimiliki Reitahwana. Yaitu noseband yang selalu setia membalut hidung misteriusnya sejak fanfic ini belum dibikin.
Ada apa dengan noseband itu?
Temukan jawabannya di chapter terakhir XD
(pasti ntar ada yang nebak-nebak di komenan dah) :v *batin author*

Suatu ketika, Reitahwana mendapat wangsit(?) melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, Reitahwana didatangi oleh kakek-kakek berpakaian serba putih yang memberi kabar burung bahwa di negeri Mantili hiduplah seorang putri raja yang merupakan titisan Dewi Uruha.
Putri itu bernama Takashinta Kouyou atau Dewi Shinta, anak dari seorang raja bernama Tora Janaka dan Dewi Sagawati. Ia bersuamikan seorang pemuda sakti pemberani, Raden Rama.

Awalnya Reitahwana menganggap mimpi itu hanya sebagai kembang tidur belaka, tapi sejak itu ia selalu diliputi rasa gelisah, pikirannya tak tenang. Jika memang benar Dewi Shinta itu titisan Dewi Uruha, istri tercintanya yang telah lama pergi, ia harus bisa mendapatkannya.

Reitahwana lalu memutuskan pergi ke negeri Mantili untuk mencari sosok Dewi Shinta.
Namun sayang, sebelum sampai ke negeri Mantili, sambungan cerita diputus sementara sampai di sini, karena kalau dilihat halamannya, chapter ini sudah cukup panjang XD

Jadi, TBC dulu ya! Jaa~ ^o^)//

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=TBC=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Makasih banyak yang udah baca. Maaf ya, kalimatnya kacau XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s