PERTEMPURAN TROYA [Chapter 3] _ Kematian Hector, Akhir dari Iliad

Ngomong-ngomong, Hector ini adalah salah satu tokoh Troy favoritku. Ganteng udah pasti *heh?* tapi ada sisi lain yang bikin aku suka sama Hector. Dia itu hebat, pemberani, berjiwa besar, dan dia adalah sosok ayah yang mengagumkan :’) *halah*
Jujur ya, tiap nonton film Troy, aku selalu terharu di bagian Hector yang mau mati, apalagi pas udah matinya. Terus scene sebelum dia ikut perang, dia sempet pamitan sama istrinya, terus main-main sebentar sama anaknya. Pokoknya scene itu berasa banget kehangatan dan kasih sayang seorang ayah X’D


Setelah penyerangan kemarin, kondisi Hector mulai pulih. Dia siap untuk bertempur lagi, membayar kekalahan Troy yang kemarin.
Tapi sebelum turun ke medan perang, Hector menyempatkan diri untuk menemui istrinya, Andromache dan meluangkan waktu sejenak untuk bermain-main bersama malaikat kecilnya, Astayanax. Hector berharap ketika Astayanax dewasa nanti dia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari ayahnya.

Astayanax terlihat nyaman bermain-main di pangkuan Hector. Kemudian Andromache mendekati Hector dan duduk di samping suaminya. Ia memohon agar Hector tetap tinggal di istana bersama istri dan anaknya, namun Hector menolak dengan halus. Bagaimanapun, Hecotr adalah pangeran Troy yang juga bertanggungjawab untuk membela bangsa Troy. Jika Troy kalah, itu juga merupakan kesalahannya. Dan tentu saja ia tidak ingin menghindari perang dengan menyatakan berdamai lalu mengembalikan Helen dan merelakan setengah kekayaan Troy jatuh ke tangan Yunani.
Meski dengan berat hati karena harus meninggalkan anak dan istrinya yang diliputi rasa khawatir, Hector tetap turun ke medan perang.

Hector meraih Astayanax dari pangkuannya dan memberikannya pada Andromache. Ia lalu mulai mengenakan baju perang dan helm perangnya.
Sebelum ke medan perang, Hector kembali menghampiri Astayanax dan menggendongnya. Namun Astayanax menangis melihat sang ayah karena takut melihat helm perang ayahnya.
Hector tersenyum “Semoga saat kau dewasa nanti, tidak ada lagi peperangan, jadi kau tidak perlu mengenakan helm perang ini dan bertempur seperti ayah. Kelak kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”

Kali ini, semangat perang pasukan Troy lebih membara. Mereka harus membayar kekalahan Troy sebelumnya dengan memukul mundur Yunani.
Selain karena kekuatan pasukan Troy, penyerangan Troy ke Yunani diperkuat dengan hadirnya Ares, sang Dewa Perang. Dan pertempuran hari itu dimenangkan oleh Troy.

Malam harinya, bangsa Troy berpesta merayakan kemenangannya, sementara pasukan Yunani galau di kapal.
Agamemnon, yang jadi penyebab melemahnya pasukan Yunani, mendatangi Achilles. Agamemnon mengembalikan Briseis ke Achilles dan meminta maaf, ia menyadari tindakan bodohnya, dan ia menyesal.
Ujung-ujungnya Agamemnon minta Achilles buat balik lagi ke medan perang. Tapi Achilles tetep ga mau. Walaupun Briseis udah dibalikin, tapi sakit hatinya Achilles masih berasa. Dan mungkin Achilles juga sebel karena si Briseis udah jadi bekasnya Agamemnon XD *dikeplak*

Esok harinya, pasukan Yunani kembali berperang tanpa Achilles. Tapi ada saudara laki-laki Achilles, namanya Parto. Bukan!! Namanya Patroclus, meminta izin untuk bertempur di medan perang dengan mengenakan baju perang Achilles. Patroclus pikir, semangat perang para prajurit Yunani akan kembali bangkit dan nyali pasukan Troy akan menciut jika melihat sang komandan Achilles hadir di medan perang. Berhubung Achilles nya masih belum mau ikut perang, jadi Patroclus berinisiatif buat nyamar jadi Achilles, pakai baju perang Achilles dan bertindak seperti Achilles buat mengelabuhi para pasukan. Awalnya Achilles ga setuju, dia ga mau sodara tersayangnya itu mati di tangan lawan yang sebanding sama Achilles, tapi Patroclus mohon-mohon terus ke Achilles, dan setelah mendengar kabar ada satu kapal pasukan Yunani yang terbakar, Achilles baru mengizinkan Patroclus turun ke medan perang dengan mengenakan baju perang Achilles, lengkap dengan asesorisnya.

Akhirnya Patroclus pergi menuju medan perang. Seluruh pasukan perang terpaku melihat sosok yang mereka pikir sebagai Achilles datang dengan memacu kudanya lalu berteriak membangkitkan semangat juang para prajurit Yunani.
“Achilles kembali!!”
Agamemnon tersenyum lega, ia benar-benar mengira bahwa sosok itu adalah Achilles.

Achilles jadi-jadian itu memimpin barisan pasukan Yunani lalu kembali menyerang Troy.
Seperti biasa, yang menjadi lawan utama Achilles adalah Hector. Pangeran Troy itu menyerang Patroclus dengan cara yang biasa ia lakukan untuk menyerang Achilles.
Namun, bagaimanapun lelaki yang diduga sebagai Achilles itu bukanlah tandingan Hector. Patroclus tewas di tangan Hector. Hector sendiri tak menyangka lawan utamanya dapat ditumbangkan dengan begitu mudah.
Setelah yakin bahwa Achilles telah mati, Hector melepas pakaian perang yang dikenakan sosok tak bernyawa itu. Hector mulai curiga bahwa tubuh itu bukanlah tubuh Achilles, lalu ia melepas helm perang Patroclus, dan Hector beserta seluruh prajurit Troy dan Yunani sangat terkejut melihat kenyataan bahwa lelaki yang telah mati itu bukanlah sang komandan, melainkan Patroclus, saudara Achilles.

Di tengah kegalauannya, Achilles dikejutkan dengan kedatangan salah satu prajurit, ia berlari ke arah Achilles (tapi larinya ga sampe nubruk sih) dan sambil menangis, dia mengatakan bahwa Patroclus telah mati terbunuh. Hector yang menghabisi nyawa saudara kesayangan Achilles itu.
Achilles langsung murka.
Keesokannya, dia pergi mendatangi Hector untuk menuntut balas. Dengan mengenakan pakaian perang kiriman ibunya yang didesain dan dibuat oleh Hephaestus, dewa Olympus yang kerjaannya membuat baju perang dan peralatan perang (dewa pandai besi).

Hector udah siap mati. Dia tau, Achilles pasti akan menebus kematian Patroklus dengan membunuh Hector. Tapi Hector ga mau pasrah begitu aja, gimanapun, walaupun ujung-ujungnya bakalan mati, Hector tetep berusaha melawan.
Hari itu, pertarungan Achilles vs Hector berlangsung. Hector mati di tangan Achilles, tombak Achilles menembus leher pahlawan Troy itu. Walaupun sebelum pertarungan itu dimulai Hector sempat meminta Achilles untuk memakamkan jasad Hector secara layak, tapi kenyataannya Achilles malah memperlakukan jasad Hector dengan tidak berprikejasadan(?)
Tubuh Hector yang sudah tidak bernyawa diikat oleh Achilles dan ditarik oleh kudanya mengelilingi dinding Troy 3 kali.

hector vs achilles
Raja Priam tidak tega melihat jasad anak kesayangannya diperlakukan tidak layak seperti itu. Akhirnya pada malam hari setelah kematian Hector, raja Priam mendatangi Achilles.
Sang raja berlutut dan mencium kedua tangan Achilles serta memberikan beberapa gepok perhiasana ke Achilles.
“Kau lihat? Aku berlutut dan mencium tangan orang yang telah membunuh anakku sendiri” mendengar perkataan yang keluar dari bibir sang raja, Achilles jadi iba. Langsung mbok nyess gitu hatinya.

Achilles lalu mengabulkan permintaan raja Priam, menyuruh beberapa prajuritnya membersihkan jasad Hector dan membalutnya dengan kain yang lembut untuk kemudian dimakamkan dengan layak.
Achilles juga memberi waktu 9 hari bagi rakyat Troy untuk berduka atas kematian sang pahlawan yang pemberani. Achilles menjamin selama 9 hari itu rakyat Troy akan bebas dari serangan pasukan Yunani.
Kan, Achilles juga bisa bersikap bijaksana dan bijaksini XD

Jasad Hector dibaringkan di atas tumpukan kayu bakar. Setelah api itu membakar habis jasad Hector, api itu dipadamkan dengan anggur, lalu tulang-belulang Hector dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kendi emas, kendi emas itu dibungkus dengan kain kafan berwarna ungu lalu dikuburkan.
Pemakaman Hector berlangsung khikmad. Seluruh rakyat Troy merasa kehilangan sosok pemberani itu, tidak terkecuali Helen. Hector sudah menjadi sahabat baik Helen, selama Helen tinggal di Troy, hampir semua orang membencinya karena ia dianggap sebagai pemicu perang, tapi Hector selalu menghibur Helen, menguatkan Helen. Sekarang saudara sekaligus sahabatnya telah pergi. Duh, jadi sedih :’)

Kematian Hector adalah akhir dari Iliad. Homer ceritain Perang Troya cuman sampe sini. Selanjutnya, kehancuran Troy, Wooden Horse, dan kematian Achilles dikisahkan oleh seorang penyair Romawi bernama Publius Vergilius Maro, atau lebih enak(?) dipanggil Virgil, dalam karyanya yang berjudul Aeneid.

Kalau belum capek bacanya, silahkan lanjut ke CHAPTER 4 ^o^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s